"Kamu kapan mau resign, Rin?"
Karin yang sedang menikmati sarapannya segera menoleh dengan tatapan penuh tanya ke ibunya.
"Ma, masih pagi. Topik apalagi ini?"
Rissa menggendikan bahunya, membalut rotinya dengan selai. "Ya, Mama cuman tanya. Kan kalo udah nikah nanti kamu maunya jadi stay at home wife."
"Iya, bener. Gak salah. Tapi lamaran aja belum."
"Itu juga bener, gak salah," sahut Rissa sambil menunjuk Karin dengan pisau roti yang sedang ia pegang. "Tapi saran Mama, lakukan secepatnya."
Karin menaruh curiga dengan pernyataan ibunya itu namun tidak mau merespon berlebihan.
"Yang nentuin tanggal pernikahan, aku sama Mas Adjie kan, Ma?"
Setidaknya, ia harus memastikan.
"Mama sama Tante Gina. Resepsi terserah kalian."
"Apa bedanya? Kok di pisah?" Tanya Karin yang mulai berfirasat kalau curiganya ia barusan memang beralasan. "Normalnya gimana?"
Rissa urung untuk menjawab. Ia lebih memilih untuk melahap rotinya yang sudah selesai dibuat. Meninggalkan anak perempuannya dengan sejuta pertanyaan baru.
Karin tentu saja tidak mau kalah, sebenarnya ia ingin terus mendesak ibunya agar memberikan jawaban. Namun notifikasi barunya membuat Karin harus bergegas pergi.
"Ojeknya udah di depan, aku berangkat dulu, Ma. Bye," pamit Karin sambil mencium pipi ibunya dan segera mengumpulkan tas beserta printilan lainnya.
Mengingat lalu lintas pagi hari walaupun jarak rumahnya dengan kantornya tidak terlalu jauh, namun menggunakan motor adalah pilihan yang bijak. Meskipun perintilan yang Karin bawa tidak sedikit.
Sesampainya di kantor, Karin meletakkan barangnya pada laci meja kerjanya dan beberapa barang kecil di atas meja. Ia segera menuju ruangan di mana Leya berada.
Karin harus segera memberitahu Leya hal yang mengganjal baginya. Siapa tahu Karin menemukan jawabannya.
"Normalnya, tanggal pernikahan dan resepsi itu digabung atau dipisah?" Pertanyaan Karin terlontar sebagai sapaannya pada Leya yang berada di ruangan bersama satu teman kantornya yang lain-Eka.
"Gabunglah, apa bedanya?" Tanya Leya balik.
"Bisa pisah, bisa gabung. Siapa mau nikah?" Tanya Eka ikut penasaran.
Karin lupa kalau ini bukan topik umum tapi ia membahasnya di depan umum, ya walaupun hanya satu orang tapi Eka belum mengetahui berita perjodohan Karin. Tidak ada yang tahu kecuali Leya, Manajer HRD dan Atasannya yang Karin mintai persetujuan untuk cutinya jumat ini karena mau lamaran.
"Kenapa bisa pisah, Mbak?" Tanya Karin yang sudah menarik kursi untuk ia amankan tempat di antara Leya dan Eka yang duduk bersebelahan. "Mbak Eka waktu nikah gimana?"
Eka hanya menyengir, "gue sih depe duluan. Jadinya pisah."
"Maksudnya?" Pertanyaan dari Karin mendapat toyoran dari Leya. "Oh, hamil duluan, ya?"
"Eh, tapi si Agnes anak legal, dia juga beda. Karena pandemi jadi resepsinya baru dilaksanain akhir tahun kemarin."
Karin mengangguk mengerti. Memang ada banyak kemungkinan bisa terjadi tanggal pernikahan dan resepsi digelar terpisah. Namun ia belum mengerti, untuk kasusnya, kemungkinan apa yang bisa terjadi?
"Eh, ngomongin masalah Legal. Emang bener gosipnya Pak Derry punya pacar anak kantor sini?"
Pertanyaan dari Eka nyaris membuat Leya yang sedang menikmati jus paginya tersedak dan Karin yang sedang menyandarkan tubuhnya pada senderan kursi terjatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
