"Rin! It's your wedding day! Bangun, Kebo!" Seru Leya sambil mengguncang tubuh sahabatnya itu.
Leya pun tidak kalah bingung dibuat Karin. Ia tidak habis pikir bahwa Karin bisa tidur selelap itu. Bukankah seharusnya ia merasa gugup hingga sulit tidur?
"Bisa gak usah teriak, gak?" Gumam Karin dengan mata yang masih tertutup dan tangannya sudah mengudara mencoba mengusir Leya yang ia sendiri tidak tahu pasti dimana posisi Leya berada. Yang ia tahu hanya suaranya berasal dari sisi kiri.
"Gaklah, gila! Masa lo kesiangan di pemberkatan nikah lo sendiri, sih? Absurd banget, Rin!" Protes Leya masih berusaha mengangkat badan sahabatnya itu dari atas ranjang. "Berat banget lagi. Makan apa, sih, lo?"
"Makan orok!" Jawab Karin asal setelah ia membuka matanya dan mengambil posisi duduk. "Argh! Ley, lo heboh banget sepagi ini."
Leya memutar kedua bola matanya, "udah seharusnya! Gue udah janji sama Dokter Adjie buat mastiin lo gak kabur."
Dengan setengah mata yang kembali tertutup, Karin menatap Leya, "gue mau kabur gimana? Tempat Pemberkatannya ada di lantai bawah sini, Ley. Gak masuk akal."
Leya bergeming, otak sejenak ia gunakan untuk berpikir. Alasan Karin cukup masuk akal tapi tetap saja, bagaimana bisa Karin setenang ini?
"Mau kemana?" Tanya Leya panik saat melihat Karin menuruni ranjang. Ia bahkan sudah dalam posisi siap untuk menahan badan Karin kalau-kalau sahabatnya itu beneran mau kabur.
"Mandi."
Leya bernapas lega membiarkan Karin membersihkan dirinya selagi pintu kamarnya diketuk. Mendapati dua orang yang akan berbagi tugas membantu Karin berhias dan manata rambut sedang berdiri di depan Leya.
"Halo, Mbak. Yuk, masuk. Karin bentar lagi selesai mandi."
Masih.
Kalau Leya menginformasikan bahwa sahabatnya itu baru saja masuk kamar mandi, sudah pasti kedua orang ini akan berpikiran yang sama seperti Leya. Menghakimi betapa santainya Karin di hari terpenting dalam hidupnya ini.
"Hampir salah keluar pintu tol aku tadi, Mbak Ley," curhat Ratna sang penata rias selagi koper berisi perlengkapan tempurnya mulai ia bongkar.
"Gak pake maps, Mbak?" Tanya Leya sembari mengambil posisi duduk pada tepian ranjang.
Ratna mengangguk, "itulah ya, Mbak Ley, pelajaran hidupnya adalah kita sebagai manusia gak boleh takabur."
"Super sekali memang Mbak Ratna ini," canda Leya sambil bertepuk tangan dengan gerakan perlahan seakan-akan ia benar kagum akan pernyataan Ratna barusan.
Nita yang tidak lain adalah adik Ratna sekaligus yang akan membantu Ratna mengambil alih pekerjaan menata rambut itu hanya bisa ikut terkekeh akan candaan Leya.
"Mbak Ratna nunggu lama, ya?"
Kepala Leya dengan sigap segera menoleh ke arah kamar mandi di mana sumber suara itu berasal. Dilihatnya tubuh Karin yang sedikit menggigil itu hanya dilindungi dengan jubah mandi yang tidak terlalu tebal. Namun, lebih daripada itu, Leya lebih takjub dengan kecepatan Karin dalam menghabiskan waktu untuk mandi.
"Cepet amat, Neng."
"Ngapain lama-lama?" Desis Karin cukup sinis. Membuat Leya mendelik.
"Aduh, calon manten. Semalem udah maskeran, kan?" Ratna bertanya selagi ia membuka kopernya yang lebih kecil dan diletakkan di atas meja rias Karin yang sudah ia rapihkan sehingga memberikan ruang cukup untuknya.
Karin mengangguk, "tapi masker yang gak aku bawa tidur, Mbak."
"Gak apa, udah keliatan plumpy kok kulitnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
