37. Perang Dingin

11.7K 560 2
                                        

"Waduh, ada apa nih? Yang satu manyun, satunya lagi jidatnya merah."

"Loh? Bang Damar?"

Karin terkesiap melihat siapa yang membukakan mereka pintu. Ia memang sudah bisa menebak kalau Konselor yang Adjie pilih adalah salah satu rekannya di Rumah Sakit oleh sebab itu Adjie berkata kalau Karin juga mengenalnya. Mungkin, Karin pernah bertemu di acara gathering tempo hari.

Dan seinget Karin, lelaki yang sedang mempersilakannya masuk ini adalah Dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Kalau saja tidak sedang terlibat dalam perang dingin, rasanya Karin ingin sekali meminta penjelasan dari suaminya itu. Tapi, biar bagaimana pun juga, gengsinya lebih tinggi dari apapun.

"Tunggu dulu, ya. Mira masih praktek, setengah jam lagi paling lama."

Informasi yang diberikan Damar membuat kening Karin berkerut, "Bang Damar udah pindah ke Jakarta?" Tanya Karin saat mendapati beberapa foto keluarga yang terpajang dan mainan anak yang terlihat sedang dirapihkan.

Ada jeda yang cukup panjang sebelum Damar menjawab. Lelaki itu secara diam-diam sedang bertukar informasi menggunakan pandangan mata dan gerak bibir kepada Adjie yang kini sudah terduduk di sofa. Segera paham dengan jawaban apa yang harus diberikan, Damar baru bersuara.

"Ya gitu deh, Rin. Lagi mau ngembangun proyek di Jakarta. Kebetulan juga Isteri gue mulai rindu tinggal di Ibukota tercinta ini. Jadi, setelah banyak pertimbangan, kita mutusin untuk coba kembali ke Jakarta lagi."

Karin mengangguk mengerti sebelum akhirnya bergabung dengan Adjie untuk duduk di sofa ruang tamu. Namun, Karin memastikan bahwa ada jarak aman antara dirinya dan Adjie.

"Berarti yang Konselor itu Isteri Bang Damar?"

"Yoi," jawab Damar sambil mengangguk penuh kebanggaan. "Ranahnya doi emang di Pernikahan dan Keluarga."

Karin ber-oh ria membayangkan betapa kerennya profesi yang dimiliki oleh seorang perempuan tersebut. Lebih kerennya lagi, menjadi isteri dan ibu nampaknya tidak menghalanginya untuk terus melakukan apa yang ia suka kerjakan.

Gadis itu melamun sejenak selagi ia mencari perbedaan antara dirinya dan Mira. Kalau Mira masih semangat untuk menghidupi passionnya dalam bekerja, berbeda dengan dirinya yang memiliki passion tersendiri dalam peran barunya sebagai seorang isteri. Karin lebih menyukai menjalankan perannya itu secara penuh waktu. Tidak ada gangguan dari pekerjaannya di kantor sehingga jika harus memilih, tentu saja Karin akan merelakan posisinya di kantor.

Namun, persamaannya adalah baik Mira maupun Karin, mereka memiliki hal dasar yang penting untuk menjalankan perannya masing-masing: passion.

"Kok sepi, Bang? Anak-anaknya kemana?"

Sebenarnya, Karin bukan tipe yang suka membuka obrolan baru seperti sekarang. Ia lebih suka mengamati sekitar untuk mendapatkan jawabannya. Kecuali, ada situasi tertentu yang mengharuskannya untuk lebih pro-aktif. Contohnya seperti sekarang ini, dibanding bertanya dengan Adjie, Karin lebih memilih mencari tahu langsung jawabannya lewat Damar.

Dan, itu pula yang Damar sadari.

"Lagi trial Sekolah. Karena hari ini gue dan Mira gak bisa nemenin, jadi barusan berangkat sama Neneknya. Ibunya Mira."

Karena tidak terbiasa membuka obrolan, Karin mulai kehabisan topik. Ia memilih untuk memperhatikan sekitarnya kecuali lelaki yang sedang duduk di sebelahnya dan tidak mengeluarkan suara sedari tadi.

Di sisi lain, Adjie lebih memilih untuk secara dominan menggunakan pandangan matanya dibanding suaranya. Ia terus memperhatikan gerak-gerik Karin. Mencari jawaban akan pertanyaan yang tidak jelas di dalam otaknya.

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang