Kalau kata orang kegiatan pindah rumah adalah hal yang paling melelahkan, Karin setuju. Karena bagaimana bisa ia baru menyadari kalau selama ini barang yang ia miliki bisa sebanyak ini?
Untuk urusan pakaian saja, Karin harus membawa enam koper besar—empat sudah berhasil dibawa naik, sementara dua lainnya masih menunggu giliran untuk dibongkar dan dipindahkan ke lantai atas. Itu pun setelah melewati proses sortir yang cukup panjang. Belum lagi kebutuhan perawatan wajah, tubuh, dan rambutnya yang memerlukan tiga kardus besar.
"Tapi ini udah semua, kan?" Adjie kembali bertanya untuk memastikan selagi ia membantu Karin mengeluarkan satu persatu produk skincare milik isterinya.
Karin memperhatikan beberapa yang sudah berhasil ia keluarkan dan letakkan di atas ranjang, "kalo hairdryer dan curly ironku udah ada, berarti dan harusnya udah semua, sih."
"Kalo kamu gak yakin, kayaknya masih banyak yang ketinggalan."
Ucapan Adjie berhasil membuat Karin yang tadi hanya memiliki separuh keyakinan, menjadi tidak ada sama sekali. Ia melirik pada dua koper milik Adjie yang memang lebih besar ukurannya dari miliknya namun jika dibandingkan secara adil, sepertinya itu tidak ada setengahnya dari milik Karin.
"Mas emang yakin kalo dua koper itu udah semuanya ikut?"
Adjie mengangguk dengan pasti. Membuat Karin menggaruk lehernya yang tiba-tiba terasa gatal itu.
"Kok dikit banget?" Gumam Karin pada dirinya sendiri namun bisa terdengar dengan jelas oleh telinga Adjie.
''Emang harus berapa koper biar keliatan gak dikit, Rin?"
Karin menyengir, "ya, seenggaknya mirip sama jumlah koperku."
Adjie bangkit dari jongkoknya, ia meletakkan beberapa botol kaca pada kotak penyimpanan yang berada tidak jauh dari Karin. "Kayaknya nanti perlu bobol kamar sebelah untuk dijadiin walk in closet. Kalo enggak, satu lemari yang ada sekarang isinya baju kamu semua, Mas gak dapet kuota."
"Mas, marah karena barangku banyak, ya?" Tanya Karin dengan kesimpulan yang ia buat.
Mendengar hal itu, Adjie membelalak sejenak. "Gak gitu, Sayang. Kenapa harus marah?" Ia berjalan mendekati Karin yang sedang terduduk di tepian ranjang.
"Karena barangku banyak? Jadi harus melakukan pekerjaan ekstra?"
"Gak ada alasan Mas harus marah," jelas Adjie cukup lembut tepat setelah ia berdiri tepat di depan Karin. Tangannya menggapai rambut Karin untuk ia sisir perlahan selagi tatapannya menunduk memandangi isterinya yang tiba-tiba mengalami suasana hati yang tidak baik itu. "Mas juga tau kok barangmu banyak, selama tinggal di rumah Mama kan juga Mas udah perhatiin."
Seketika Karin mendongak menatap Adjie, "loh, bener juga."
Yang ditatap hanya bisa tersenyum tidak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar, membuat Adjie tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengacak rambut isterinya itu gemas.
"Kamu tuh, ya.. Emang. Yang penting ngambek dulu, ya?" Pertanyaan dari Adjie hanya Karin balas dengan kekehan pelannya. "Berarti barang kamu udah dibawa semua, kan?"
Karin mengangguk sambil melihat sekelilingnya, "udah. Tinggal ditata aja."
"Kalo gitu, aku ambil dua koper sisanya dulu, ya?" ucap Adjie pamit sejenak untuk mengambil koper yang, menurut pengakuan Karin, berisi baju-baju yang jarang ia pakai tapi masih ingin ia simpan untuk jaga-jaga.
Karin mengangguk menerima informasi yang disampaikan Adjie selagi pandangannya mulai berkeliling melihat sekitarnya. Menyerap suasana baru yang terasa asing. Suasana yang berbeda dari apa yang Karin rasakan selama 28 tahun hidupnya. Karin yang baru saja mulai beradaptasi dengan keberadaan Adjie di lingkungan rumahnya, kini harus kembali membiasakan dirinya dengan lingkungan dan suasana yang mungkin akan bertahan cukup lama hingga beberapa tahun ke depan.
Di rumah ini, ia akan mengukir banyak cerita baru dengan Adjie. Cerita yang Karin harapkan, walaupun terdengar tidak realistis dan sedikit naif, tapi ia ingin ada lebih banyak kisah penuh sukacita yang terukir nantinya dalam kehidupan pernikahannya yang akhirnya terasa semakin nyata.
Di sini, mereka akan belajar berdiri dengan kaki mereka sendiri. Tanpa bayang-bayang orang tua. Tanpa tempat kembali selain satu sama lain.
Karin menghela napas panjang, senyum kecil menghiasi wajahnya.
Sebagian dari dirinya tentu saja sudah tidak sabar mengukir kisah baru dalam kehidupan pernikahan mereka, tapi Karin juga tidak bisa mengelak kalau sebagiannya lagi dipenuhi dengan kekuatiran akan hari esok.
Sampai sejauh mana ia bisa bertahan?
"Semuanya akan baik-baik aja, kan?" Karin melontarkan kekhawatirannya dalam gumaman. Ia mencubit pipinya untuk menarik dirinya kembali dari dalam lembah kecemasan agar tidak masuk terlalu dalam.
"Kenapa, Rin?" Pertanyaan penuh rasa cemas itu menggaung diikuti dengan pemandangan yang sukses membuat Karin terlonjak.
''Mas Adjie!" Teriak Karin saat matanya menangkap sosok suaminya bertelanjang dada dengan satu koper besar di pundaknya dan satu lagi diseret di belakang, Adjie tampak seperti seorang porter tangguh. "Ngapain, sih?"
"Rodanya copot, Rin." Jawab Adjie santai tanpa menghentikan langkahnya. "Mau gak mau harus aku gotong."
Karin buru-buru bangkit berdiri, berjalan mendekat untuk mencoba membantu Adjie yang terlihat akan menurunkan koper yang sedari tadi bertengger di bahunya. "Gak harus pake acara buka baju juga, kan?"
"Harus, nanti bajunya kotor atau malah sobek karena kegesek koper."
Karin mendesah panjang untuk menahan tawa kecil yang nyaris lolos dari bibirnya, "ya ampun, Mas."
Karin merasa seolah Tuhan sedang mencoba menyampaikan sebuah pesan padanya—bahwa kekhawatiran yang tadi sempat menguasai pikirannya adalah sesuatu yang tidak perlu ia anggap terlalu serius.
Jika ini adalah awal dari kisah yang akan mereka ukir bersama, Karin mulai yakin bahwa pernikahannya dengan Adjie akan menjadi perjalanan yang penuh warna. Bukan hanya tentang sukacita, tetapi bagaimana mereka dibuat belajar untuk menertawakan bahkan mensyukuri momen-momen kecil yang terjadi.
"Kamu emang gak akan ngomel kalo tau bajuku robek karena gotong koper?" Tanya Adjie setelah kopernya berhasil mendarat di lantai.
Karin hanya menatap Adjie, ia membayangkan jika kejadian itu benar-benar terjadi. Sepertinya ia memang akan mengoceh tentang bagaimana tidak hati-hatinya suaminya itu. Dan menyarankan kalau sebaiknya bajunya dilepas saja.
Persis seperti apa yang sedang Adjie lakukan sekarang.
"Tuh, kan! Keputusan yang bener kan buat ngelepas baju!" Seru Adjie yang mencoba menebak bahwa jeda yang diberika isterinya merupakan ekspresi setuju akan apa yang ia lakukan.
Karin menelan ludahnya setelah matanya tanpa sengaja tertuju pada tubuh setengah telanjang suaminya. "Tapi, menurutku Mas sengaja mau ngegoda aku, kan?"
Adjie hanya memutar bola matanya, ia berjalan melewati Karin sambil menyeret koper di belakangnya. Mengambil posisi duduk yang sama persis dengan Karin tadi.
"Kayak mempan aja, Rin." Celetuk Adjie yang kini mulai membuka kopernya.
Karin tidak menjawab. Kalau ia bisa jujur, sebenarnya, yang seperti itu mulai berhasil mempengaruhi hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
