"Rin, enak banget!"
Mendengar pujian dari ibunya itu, Karin segera mengarahkan kedua tangannya ke arah Adjie yang sedang berdiri tepat di belakangnya itu. "Mas Adjie yang buat, Ma."
Seperti tidak ingin mengambil panggung dari seseorang yang seharusnya mendapatkan spotlight dari hasil kerja kerasnya.
"Jago kamu, Djie," puji Rissa kembali yang kali ini ditujukan kepada mantunya itu disertai acungan jempol setelah mulutnya kembali sibuk mengunyah makanan penutup yang Adjie buat; Klappertart.
Di hari Sabtu ini, hari pertama Karin resmi memiliki status baru sebagai Isteri Rumah Tangga. Ia mengusulkan pada suaminya untuk mengadakan acara kumpul keluarga di Rumah Adjie untuk memberitahukan pengumuman mengenai Keputusan yang akhirnya berhasil mereka buat dua hari lalu.
"Gak salah pilih mantu kan, Ris?" Kali ini Gina menyambar setelah telinganya berhasil mendengar dan mengikuti percakapan antara anaknya dan besannya itu.
Pertanyaan dari Gina dibalas dengan anggukan pasti dari Rissa. "Udah pasti aman si Karin, gak perlu kuatir lagi gue."
Mendengar pujian yang semakin membuat Adjie sulit menapak bumi itu, Karin segera meledek suaminya dengan memegangi lengannya. "Jangan terbang."
Adjie menunduk menatap wajah isterinya, "kurang kenceng peganginnya." Ucap Adjie yang kali ini kedua tangannya sudah melingkar pada pinggang Karin. Memeluk gadis itu dari belakang dan membenamkan wajahnya pada sudut leher Karin.
"Kesempatan banget!" Tentu saja Karin melayangkan protes sambil memukul pelan tangan Adjie yang berada di perutnya itu.
Adjie yang menyengir lebar lalu mengecup pipi Karin sebelum akhirnya melepaskan pelukan, "let's go to the main part. Bapak dan Ibu sekalian, mari kita berkumpul di ruang tengah."
Mendengar seruan dari Adjie, Karin mengekori suaminya yang sudah lebih dulu mengambil langkah maju. Diikuti oleh ibu mertuanya menuju sofa ruang tengah yang sudah diisi oleh Bambang, Gaudy juga Rissa yang baru saja berhasil mendaratkan bokongnya dengan tangan yang masih memegangi mangkuk alumunium yang berisi klappertart.
"Jadi, sebenernya Adjie sama Karin ngajak Papa dan Mama sekalian buat makan bareng gini karena kita mau ngasih pengumuman."
Karin berdiri di samping Adjie yang kini sedang membelakangi TV dan menghadap ke arah kedua pasang orang tua mereka masing-masing.
Mendengar pengumuman dari Adjie itu, Gina yang baru saja berhasil menyusul anak dan mantunya itu segera berhenti di sebelah Karin.
Ia meletakkan tangannya di perut Karin dan mengelusnya. "Udah, Rin?"
Karin terbelalak tidak menyangka kesimpulan dan pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"Mam, belum!" Seru Adjie mewakilkan Karin untuk menjawab. "Ayo, duduk dulu, Mam."
Ada raut kecewa pada wajah Gina yang berhasil membuat Karin tertawa. Ibunya menurut akan permintaan anak semata wayangnya itu dan mengambil posisi duduk di sebelah Rissa.
"Sebelum itu, Adjie mau terimakasih yang banyak-banyak sama Mama dan Papa yang mau menampung kami selama hampir sebulan ini," Adjie kembali memulai pidatonya. Karin yang berada di sebelahnya hanya bisa mengangguk setuju dengan pernyataan suaminya itu. "Sebenernya juga Karin sempet minta untuk kami gantian nginep di rumah Mami sama Papi, tapi itu belum bisa terealisasikan karena," Adjie menggantungkan kalimatnya. Menoleh ke arah Karin.
Yang ditatap hanya bisa menatap balik sambil menaikkan satu alisnya sebelum akhirnya ia sadar kalau itu adalah tanda untuknya melanjutkan kalimat yang menggantung itu.
"Oh, iya!" Seru Karin sambil menepuk kedua tangannya. "Karena dua hari lalu akhirnya aku sama Mas sudah menentukan pilihan rumah yang mau kita huni."
Rissa segera bangkit berdiri dengan pengumuman yang baru saja disampaikan, "kok gitu sih, Rin? Kenapa cepet banget?"
Melihat reaksi isterinya yang cukup berlebihan itu, Gaudy yang duduk tidak jauh darinya dan masih bisa menjangkau tangan isterinya itu segera mengisyaratkan Rissa untuk kembali duduk sambil menarik tangannya ke bawah.
"Sabar, Ma. Didengerin dulu," pinta Gaudy disertai kekehan kecil hasil dari reaksi super protektif ibu terhadap anak itu.
"Tapi iya, loh. Mami belum kebagian kalian tumpangin, gak adil kalo gitu lah, Nak."
Adjie menggaruk tengkuknya yang seketika terasa gatal itu, "Moms and Dads, percaya sama Adjie. Ini udah keputusan yang terbaik. Karena Adjie juga gak bisa nahan lebih lam-aw!"
"Lama lagi untuk bisa punya rumah sendiri," Karin melanjutkan kalimat Adjie yang ia paksa untuk hentikan hanya dengan cubitan pelan pada lengan suaminya itu.
Karin tahu betul apa yang mau Adjie sampaikan. Namun, Karin juga tidak sesiap itu untuk bisa terbuka menyampaikan alasan yang sebenarnya. Rencananya hari ini hanya akan membuat pengumuman, bukan pengakuan.
"Iya, bener," Adjie melanjutkan sambil mengusap kasar lengannya. "Dan pengumuman keduanya, kemarin hari terakhir Karin kerja. So, start from now on Karin udah resmi jadi Isteri Rumah Tangga tapi mohon doanya supaya cepet-cepet berubah jadi Ibu Rumah Tangga."
Pernyataan yang disertai todongan permintaan itu sukses mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Karin. Terlebih saat secara bersamaan kedua pasang orang tua mereka dengan sepakat mengaminkan permohonan doa Adjie.
"Nah, yang terakhir," kali ini giliran Karin bersuara kembali. "Mas Adjie memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya yang sekarang dan mau gabung sama Bang Damar di Rumah Sakit keluarganya."
"Damar temen kuliahmu itu, Djie?" Kali ini Bambang bersuara untuk memastikan. "Yakin?" tanya Bambang dengan pandangan yang terkunci pada mantunya.
Karin percaya bahwa tatapan dari ayah mertuanya adalah sebuah sinyal yang mencoba memberitahu sesuatu. Ia kira, dengan segera mengalihkan pandangannya dan menoleh untuk menatap Adjie, gadis itu akan menemukan jawabannya. Namun, dengan anggukan penuh keteguhan dan keyakinan Adjie, Karin jadi bertanya-tanya apa maksud tatapan Bambang tadi.
Setelah selesai dengan pengumuman yang disampaikan, Gina memohon agar Adjie dan Karin mau menginap sehari saja malam ini untuk merealisasikan keinginan Karin juga sebagai tebusan untuk bersikap adil. Tanpa perlu berpikir panjang, tentu saja mereka berdua segera setuju.
Toh, ini memang yang Karin inginkan sejak lama.
"Kenapa malah Papi yang gak yakin kamu kerja bareng Bang Damar?" Tanya Karin membuka percakapan selagi matanya tengah memindai satu persatu foto Adjie yang tertempel pada kaca pintu lemari bajunya.
Kesimpulan Karin setelah beberapa menit melakukan inspeksi pada kamar Adjie adalah kamar ini jauh lebih rapih dari dugaannya. Namun, lebih banyak barang daripada yang ia kira. Dalam pikiran Karin, dengan sifat suaminya itu, kamar tidur dengan barang seperlunya saja adalah yang paling mencerminkan dirinya. Tapi, Adjie bahkan memiliki kulkas kecil di dalam kamarnya.
Semalas-malasnya Karin bergerak turun ke dapur saat menginginkan sesuatu yang dingin untuk diminum, ia pasti akan beranjak juga dari kamarnya. Karin tidak sangka kalau untuk hal ini, ia kalah malas dari seorang Adjie Dwiseno.
"Gak tau, tuh. Padahal aku yakin banget."
Aneh, Karin tidak menemukan suatu alasan yang bisa jadi kekuatiran ayah mertuanya itu. Adjie cenderung bersikap santai dan normal.
"Emang Papi gak suka sama Bang Damar?"
Adjie yang baru saja mengambil botol mineral kecil pada kulkas mininya segera mendaratkan bokongnya pada tepian ranjang dan menatap Karin yang kini sedang berjalan ke arahnya. "Aman aja hubungan mereka. Papi gak pernah protes karena Papi kenal semua orang tua temen deket Mas. Jadi, pasti setuju aja."
Kalau begitu, apakah Karin harus bertanya pada ayah mertuanya langsung?
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
Roman d'amourNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
