"Banyak banget bawaan lo."
"Mau nginep," sahut Leya yang segera mempercepat langkahnya menghampiri Karin yang sedang terduduk di anak tangga rumahnya. "Gue gak mau melewatkan malam dimana seorang Karin Ayudisa susah tidur karena gugup besok paginya mau pemberkatan nikah."
Karin memandangi Leya dengan tatapan tidak percayanya akan apa yang baru saja telinganya dengar. Perihal berdrama, Leya memang ahlinya.
"Masalah ngeliat temen susah, emang lo yang paling semangat ya, Ley," sindir Karin acuh dan kembali menikmati camilannya.
"Gimana? Gimana? Dari satu sampe seratus, seberapa gugupnya lo sekarang?" Leya bertanya setelah bokongnya berhasil mendarat pada anak tangga yang sama dengan yang Karin duduki. "Minimal banget lebih dari setengahlah, Rin."
Karin tampak berpikir sejenak. Ia memberikan jeda untuk dapat merasakan degupan jantungnya yang mulai tidak beraturan dan pikirannya yang mulai terasa kosong. "Gak tau."
Leya mengangguk mengerti sambil mencuri camilan Karin pada toples yang ia pangku, "ya, ya, dapat dimengerti karena emang tiba-tiba banget, sih."
"Kalo udah tau, ngapain nanya?"
Leya menepuk lengan Karin pelan, "sensi amat, Neng. Stres, ya?"
Karin terdiam.
Ia tidak bisa memberikan jawaban karena memang sejak terbangun tadi, entah kenapa hal sederhana saja dapat menyulut emosinya. Kalau pun dibilang sedang dilanda stres, menurut Karin tidak juga. Karena, apa yang perlu dipikirkan hingga membuatnya stres? Toh, Karin hanya perlu mengikuti semua yang sudah disiapkan para orang tua saja, kan?
Namun, memang benar jika Karin gugup. Terlalu gugup hingga ia merasa kewalahan dengan rasa gugupnya.
"Tapi, Rin, gue salah satu orang yang kecewa karena ternyata lo gak hamil bener-aw!"
"Deserved," ucap Karin setelah ia menjambak ujung rambut Leya karena merasa sedikit kesal. "Gak lucu, Ley."
Leya menutup mulutnya dengan telapak tangannya lalu bangkit berdiri, mengekori Karin yang berjalan menuruni tangga. "Ih, kenapa? Gue salah apa, sih, Rin?"
Karin kembali terdiam.
Ia juga tidak begitu paham, apakah ini hanya guncangan emosi sesaat atau ia lupa kalau sedang dalam masa pre-menstruasi sehingga emosinya tidak stabil. Yang jelas, Karin menjadi cukup sensitif dengan topik tersebut.
Awalnya memang Karin mencoba menerima kalau ibunya bisa saja salah paham dengan sakitnya yang tiba-tiba dan gejalanya mirip dengan gejala kehamilan, tapi lebih dari pada itu, Karin merasa terkhianati dengan asumsi ibunya itu. Jika ibunya bisa menyimpulkan kalau Karin sudah hamil terlebih dahulu, maka Rissa percaya kalau anak gadisnya itu sudah dengan berani melakukan hal yang selalu dilarang dan ia ingatkan.
Yaitu, untuk menjaga dirinya agar tidak terjamah sebelum waktunya. Bahkan, ibunya pun sempat ragu dengan komitmen Karin yang itu.
Dadanya kembali terasa sesak saat memikirkan hal itu dan supaya tidak mengingatnya terus, Karin juga malas menjelaskannya kepada Leya, ia hanya bisa memohon.
"Jangan dibahas, Ley."
Untungnya, Leya mengerti dengan perubahan suasana hati Karin, ia menurut dan mengaitkan tangannya pada lengan Karin. "Udah jangan sedih, harus happy. Besok, kan, udah jadi Isteri orang."
Karin memaksakan senyumannya untuk terulas atas usaha Leya barusan. "Oh, iya, ini masih siang dan lo udah di sini. Gak kerja?"
"Kerja tapi izin setengah hari."
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
