Memang manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan.
Sama seperti apa yang sudah Karin rencanakan dan impikan sejak lama yaitu, menjadi Stay At Home Wife. Rencana itu harus diundur sejenak karena huru-hara yang ibunya buat.
Jadi, untuk sementara waktu Karin harus melupakan impiannya dan mendalami peran barunya menjadi isteri yang bekerja. Karin mencoba menenangkan pikirannya saat suara familiar itu memecahkan keheningan.
"Pagi, Pengantin Baru!"
Sapaan dari Leya itu sukses berbuah pukulan keras pada punggungnya. "Mulut lo!" Katanya sedikit kesal.
"Aduh, masih pagi udah main kekerasan aja lo, Rin," lirih Leya sambil mencoba menggapai rasa perih yang tangan Karin tinggalkan.
"Gak ada yang tau gue udah nikah kecuali lo sama Pak Derry, Ley," tegas Karin mengingatkan sambil menyeret Leya ke pantry.
Leya yang masih sibuk meredam rasa perih pada punggungnya, memutar kedua bola matanya. "Yaudahlah, Rin. Gak usah dirahasiain juga. Lo kan nikah bukan karena insiden, lo aja udah kecintaan banget sama Dokter Adjie."
Kini, giliran Karin yang meringis geli. Telinganya masih belum bisa terbiasa mendengar panggilan yang Leya sematkan untuk suaminya itu, walaupun memang tidak salah juga karena itu adalah profesi Adjie.
"Lagian juga nanti pas farewell pasti orang-orang nanya kenapa lo resign. Masa lo mau bohong?"
Pertanyaan dari Leya sukses membuat Karin terdiam untuk berpikir. Memang benar, kenapa juga Karin harus menyembunyikan status barunya? Setidaknya ia masih bisa mengelak kalau dimintai keterangan rinci perihal pernikahan dadakannya itu. Dibanding Karin harus terus bersembunyi dari status sebagai isteri orang.
Karin memperhatikan jari manisnya yang dilingkari oleh cincin kawin, ia juga tidak memiliki keinginan untuk menyembunyikan cincinnya. Malah, Karin sangat ingin memamerkannya.
"Jadi?"
Seperti dibawa kembali kepada kenyataan, Karin kembali memandangi Leya. "Iya juga. Oke, gue gak akan gembar-gembor kalo udah nikah karena gue akan mengaku kalo ada yang tanya."
Leya tersenyum bangga, ia menepuk bahu sahabatnya itu dan menarik Karin keluar dari pantry. "Nah, itu baru Karin banget."
Mendengar pujian yang diberikan Leya membuat Karin ikut tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Bahkan, untuk sesaat ia lupa penderitaannya melakukan rutinitas baru tadi pagi. Bangun lebih pagi untuk menyiapkan kebutuhan Adjie dan menemaninya sebelum berangkat kerja.
"Jadi, lo kapan mau ajuin surat resign, Rin?" Tanya Leya yang kini berjalan selangkah lebih maju dari Karin.
"Tadi, sampe kantor langsung gue ketik suratnya. Udah dikasih ke Pak Kamal juga."
"Beneran gak mau buang-buang waktu ya, lo?"
Karin mengangguk sambil tersenyum membayangkan dirinya terlepas dari pekerjaannya. "Gue juga nego sama Pak Kamal, kalo gak one month notice bisa atau enggak."
"Terus?"
"Bisa!" Karin tertawa bahagia dengan jawaban yang tadi ia dengar dari atasannya itu. "Karena semua laporan gue udah selesai. Dan lagi masa tenang juga, gak lagi peak-season apalagi jatah cuti gue masih banyak jadi dipotong pake cuti."
Entah mengapa, Leya tidak bisa merasakan kebahagian Karin. "Berarti kapan hari terakhir lo di sini?"
"Dua minggu lagi!" Seru Karin memamerkan jari telunjuk dan tengahnya.
Tanpa memberikan respon lebih, Leya tertunduk lesu. "Temen gibah gue berkurang dong, Rin!"
Karin membalikkan badannya sambil tubuhnya mendorong pintu ruangan tempatnya bekerja. "Ih, jangan gitu dong. Simpen sedih lo buat dua minggu lagi, jangan sekarang."
Leya masuk terlebih dahulu dan diikuti Karin. Ia segera duduk di kursi milik Igor, tempat yang biasa ia jajah ketika sedang istirahat seperti sekarang.
"Lagian, nikah aja juga lah, Ley. Ikuti jejak gue menjadi Isteri yang kesibukannya ngurus Suami dan rumah. Udah ada jodohnya ini."
Mendengar hal itu, Leya berdeham. "Jangan bikin gue iri. Lo tau sendiri gue belum siap buat nikah."
"Halah, nungguin siap mau sampe kapan?"
Pertanyaan dari Karin membuat Leya bergidik, rasanya itu adalah hal yang selalu Leya ucapkan ketika Karin sempat ragu dengan Adjie dulu.
"Ya, intinya nikah dan fokus ngurus Suami aja itu enak."
"Lo belum seminggu nikah ya, Rin. Jumawa banget."
Karin tertawa keras mendengar fakta yang Leya ucapkan. Kalau dipikir-pikir benar juga, kenapa Karin bertindak layaknya veteran dalam perihal pernikahan hanya karena ia beberapa langkah di depan Leya?
"Sorry," ucapnya yang masih menertawai dirinya sendiri. "Oh, ngomongin itu! Gue jadi inget, bagi ilmu dong."
"Ilmu? Apaan sih?"
Pandangan Karin menjadi tidak pasti, terkadang ia menatap langit-langit ruangannya, terkadang lantai yang sedang ia injak dan beberapa kali ke sisi kiri dan kanannya. Membuat Leya tersadar dengan apa yang Karin maksud.
"Astaga, belum juga, Rin?"
"Gimana mau? Pertama, gue takut. Kedua, lagi tamu bulanan."
Leya tersenyum jahil, ia menyandarkan punggungnya dan menatap Karin. "Awalnya emang takut, lama-lama nagih juga."
"Ya ampun, Ley!" Seperti baru saja mendengar hal yang tidak pantas telinganya tangkap, Karin menutup kedua telinganya untuk sesaat.
"Ih, katanya minta ilmu? Itu termasuk!"
Karin mengusap kedua telinganya kasar, seolah ingin menghapus kalimat yang barusan ia dengar. "Tetep aja."
"Tapi bener, Rin. On a serious not, yang penting tuh harus bangun suasana dan emosinya dulu jadi lebih intens dan intim. Jangan terlalu mikirin apakah teknik lo udah bener dan segala macemnya. Itu mah ngalir aja, makin sering praktek, teknik lo juga makin bagus kok."
Karin menelan ludahnya mendengar penjelasan dari Leya yang sudah cukup terdengar sangat intens baginya. Bayangan situasi intim itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Baru ngebayangin, gimana kalo udah kejadian?
"Kalo sesuai jadwal, datang bulan gue kelar di jumat. Menurut lo, mumpung besoknya malam minggu, should i?"
Bukannya memberikan saran, Leya malah menertawakan Karin. Tentu saja itu berhasil membuatnya manyun.
"Ngejar target amat, Rin."
"Sialan lo."
Melihat respon gelagapan Karin, Leya merasa perlu untuk menjahili sahabatnya itu. "Ya, gak masalah juga, Rin. Kan udah sah, siapa tau nanti malah lo yang ngerengek minta jatah ke Dokter Adjie."
Kedua pipi Karin terasa panas. Ia mencoba menyembunyikannya dengan menangkup wajahnya. Entah kenapa ledekan dari Leya berhasil membuatnya sedikit berhasrat. Terlebih saat bayangan tubuh bertelanjang dada Adjie tiba-tiba menggerayangi pikirannya.
Efek dateng bulan gak, sih?
"Udah ah, Ley," ujar Karin sambil mengubah posisi duduknya agar tegak menghadap layar komputer. Dengan gerakan asal, ia menyalakan komputer, sementara jarinya bergerak tanpa tujuan jelas, seolah mencoba membuka folder-folder secara acak. "Ah! Lo sih!"
Melihat seruan frustasi Karin yang terdengar tiba-tiba, membuat Leya terkesiap. "Apaan tiba-tiba jadi gue?"
Karin menatap Leya memelas, ia memajukan bibir bawahnya. "Gue jadi kepengen."
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
