Desclaimer:
Adegan pengucapan janji suci dan pemberkatan di bawah ini adalah hasil pengembangan dan disesuaikan demi kebutuhan cerita.
---
"Cantik banget calon isteriku," tanpa suara, Adjie berusaha membuka lebar mulutnya untuk mengatakan kalimat tersebut supaya Karin bisa mengerti dengan jelas.
Tentu saja perihal pujian, Karin akan lebih sensitif walaupun itu hanya berasal dari gerakan bibir. Ia tersenyum sebagai respon dan meremas pelan genggaman tangannya.
Dengan begitu prosesi Pemberkatan Pernikahan pun dimulai, Adjie dan Karin dipersilakan duduk pada sofa kecil tanpa sandaran yang cukup untuk dua orang. Mereka mengambil posisi duduk menghadap Billy, pendeta yang akan memberkati Adjie dan Karin.
Sebuah lagu penyembahan dilantukan sebagai tanda bahwa Ibadah Pemberkatan sudah dimulai. Dengan genggaman yang masih tertaut satu sama lain, baik Adjie maupun Karin dapat merasakan ketegangan masing-masing dari kedua tangan dingin yang menyatu. Sambil menyanyikan lagu yang sedang dinaikkan, satu tangan Adjie yang lainnya membekap genggaman tangan mereka. Sesekali menepuk sesuai irama. Adjie seperti sedang ingin menyampaikan pada perempuan yang tidak lama lagi akan menjadi isterinya tersebut kalau semuanya akan berjalan lancar dan hari ini akan selesai dengan indah.
Karin, yang sedari ia bangun tidak pernah absen menenangkan dirinya sendiri dengan kalimat penuh mantera kalau semua akan baik-baik saja, hanya bisa sesekali tersenyum lemah sambil menoleh ke arah Adjie.
Ia masih belum menyangka bahwa pengalaman nol besarnya tentang berkencan selama ini tidak menjadikan mustahil fakta bahwa sekali ia memiliki hubungan dengan seorang lelaki adalah dengan Adjie. Lelaki pertama yang menjadi kekasihnya secara resmi dan dengan cepatnya sudah duduk di sebelahnya, di atas altar, menyanyi bersama dan menunggu status baru yang akan mereka berdua miliki sebentar lagi.
Gadis itu bahkan sempat teringat dengan beberapa teman sekolahnya yang belum lama ini menikah, Aira, salah satu temannya itu bahkan harus mengalami puluhan patah hati, hubungan pacaran yang gagal berkali-kali hingga akhirnya bertemu dengan Ksatrianya. Lelaki yang sekarang sudah resmi menjadi suami Aira dan membuat kehidupan pernikahan gadis itu sangat indah.
Karin menahan napasnya, cerita hidup setiap orang memang unik. tidak ada pakem pasti ataupun buku manual mengenai urutan fase kehidupan yang akan kita jalani. Setiap orang, memiliki urutan fase kehidupannya sendiri. Aira memang harus bayar harga cukup banyak dan merelakan hatinya berkali-kali sakit untuk akhirnya bertemu pasangan hidupnya, sedangkan Karin, dengan harga kesendirian dan kesepian yang ia harus bayar membuat Karin akhirnya bertemu dengan Adjie, seseorang yang secara sadar dan yakin ia pilih sebagai pasangan hidupnya.
Kehidupan Karin, juga kehidupan Aira bukanlah sebuah hal yang harus dibandingkan. Tentang siapa yang memulai terlebih dahulu dan siapa yang berhasil menyelesaikannya. Melainkan adalah hal yang harus dijalani dengan seutuhnya. Memberikan yang terbaik, bukan untuk ikut-ikutan tapi untuk membangun diri menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.
"Yang harus kita percayai, gak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Namun, segala sesuatu yang terjadi adalah berkat seizinNya dan memang karena Tuhan tau yang terbaik untuk kita."
Lamunan Karin berhenti tepat saat kalimat dari Billy tersebut berhasil membangunkannya dan tercerna oleh otaknya.
"Saya dengar, hubungan kalian ini hasil dari mak comblang Papa dan Mama ya, Rin? Djie?" Pertanyaan tersebut berhasil mendapat anggukan setuju dari sepasang manusia yang sedang mencoba mencairkan rasa gugupnya dengan memberikan kekehan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
Roman d'amourNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
