Karin dan Adjie berhasil menemukan orang tua dari anak yang tadi mereka temui berjalan-jalan sendiri di Area Parkir. Ternyata penyebabnya adalah kedua orangtuanya sibuk dengan barang belanjaan yang sedang dimuat ke dalam bagasi mobil sedan mereka.
Ayahnya kira sang anak sudah duduk dengan aman di carseat miliknya setelah dibantu oleh ibunya, sang ibu juga berpikiran demikian, jika ayahnyalah yang membantu anaknya duduk pada carseat miliknya.
Dan tentu saja keduanya kaget bukan main saat selesai memuat semua barang ke dalam bagasi dan tidak menemukan anak mereka di dalam mobil. Tepat saat itu juga, mereka mendengar dari pengeras suara informasi mengenai anak hilang.
Kedua orangtua itu terus mengucapkan terima kasih kepada Karin dan Adjie karena telah menemukan anak mereka dan menjaganya. Adjie bahkan tidak berhenti tersenyum saat melihat anak yang akhirnya mereka tahu baru berusia tiga tahun itu dengan nyamannya berada di pelukan Ayahnya.
Dan itu cukup mengganggu pikiran Karin karena sebelumnya Adjie panik bukan main. Melihat sisi baru itu, Karin jadi bertanya-tanya apakah memang menemukan anak yang hilang bisa membuat Adjie sepanik itu? Suatu hal yang normalkah bagi Adjie? Atau karena profesi Adjie yang lekat dengan anak-anak sehingga ia bisa sepanik itu?
"Besok aku jemput ya," tutur Adjie tepat setelah mereka berada di depan pintu rumah Karin.
Karin berbalik untuk berhadapan dengan Adjie. "Mas, kenapa tadi bisa panik banget?"
Akhirnya, pertanyaan yang dari tadi menganggu pikiran Karin, ia putuskan untuk utarakan. Karin butuh jawaban, bukan asumsi pribadinya saja. Ia bisa saja sedang sensitif dan sebenarnya itu memang respon normal Adjie.
Apapun itu, Karin butuh dengar jawabannya langsung dari Adjie.
"Emang, iya?" Tanya Adjie selagi ingatannya kembali ke beberapa saat lalu. "Inget ceritaku di Hotel tempo hari?"
Karin mengangguk, "tapi yang bagian mana?"
Malam yang ia habiskan bersama dengan Adjie adalah malam dimana mereka saling terbuka satu sama lain dengan kisah masa lalu. Karin tentu saja tidak punya banyak cerita menarik untuk diceritakan kembali, itu sebabnya ia memancing Adjie supaya banyak hal yang bisa ia dengar dari cerita Adjie.
Saking banyaknya, mungkin ada beberapa yang Karin lupa, pun masih diingat dengan baik, Karin harus memastikan cerita yang mana.
"Alasan aku bercerai."
Karin mengerutkan dahinya, ia bingung bagaimana bisa itu ada hubungannya dengan yang terjadi malam ini?
Ia ingat dengan baik bahwa alasan Adjie bercerai dengan Maudy-mantan isterinya itu-karena wanita itu mengandung anak yang bukan dari hasil buah cintanya bersama Adjie.
Melakukannya saja belum sempat, tiba-tiba perut Maudy sudah cukup besar. Adjie menerka usia kandungannya lebih tua daripada usia pernikahannya. Dan benar saja, di usia pernikahan Adjie yang baru 4 bulan, Maudy tengah mengandung selama 6 bulan.
Adjie yang sedang sibuk dengan gelar barunya sebagai Dokter Spesialis tersebut sempat bersyukur karena Maudy tidak terlalu menuntut kehadirannya di pernikahan mereka yang masih baru itu. Maudy juga tidak pernah marah kalau akhir pekannya harus terganggu karena Adjie diminta ikut dalam operasi darurat. Bahkan Maudy menyemangati Adjie yang harus kembali ke Rumah Sakit padahal ia belum ada sejam yang lalu sampai rumah.
Saat ditelusuri, ternyata itu merupakan rasa bersalah Maudy yang sudah mengkhianati Adjie. Menuruti keinginan mantannya untuk bertemu tepat sebulan sebelum tanggal pernikahan mereka, hingga akhirnya reuni kecil itu berakhir di atas ranjang.
Mantan yang hanya Maudy pacari selama 3 bulan setelah putus dari hubungan 5 tahunnya dengan Adjie. Setelah hubungan 3 bulan itu berakhir pun, Maudy dan Adjie kembali bersama.
"Sejak saat itu, entah kenapa aku jadi punya rasa bersalah terhadap anak yang Maudy kandung. Jadinya, setiap ketemu anak kecil, instingku untuk melindungi mereka. Mungkin juga karena aku Dokter Anak, makanya aku panik setengah mati waktu tau anak itu terpisah dari orang tuanya."
Karin tidak paham, "kenapa harus merasa bersalah? Mas gak salah apa-apa."
"I know, but still, gimana kalau aku pura-pura gak tau? Dan nerima anak itu jadi anakku? Mungkin dia akan punya kehidupan yang lebih baik."
Karin menarik tangan Adjie untuk duduk di kursi teras rumahnya. Dengan Adjie yang menyenderkan punggungnya pada senderan kursi dan Karin yang menyerongkan duduknya sehingga bisa menatap Adjie dengan baik.
"Yang ini Mas belum cerita, pasti ada extended versionnya. Apa itu?"
"Setelah cerai sama aku, Maudy melahirkan, dia langsung pergi ke Paris tanpa membawa anaknya," Adjie memulai ceritanya. Tangannya ia tautkan sambil pandangannya tertuju lurus ke depan seperti sedang mereka ulang adegan yang ada di otaknya. "Sebelum kami memutuskan untuk menikah, adiknya Maudy sebenernya udah memiliki rencana menikah. Tapi orangtua mereka gak setuju kalau adik ngelangkahin kakaknya. Akhirnya harus menunggu setahun lebih sampe aku yakin untuk menikahi Maudy. Setelah itu mereka mulai persiapan pernikahannya. Things happened. Maudy hamil tapi bukan aku ayahnya, melahirkan, meninggalkan anaknya dan akhirnya anak tersebut masuk ke dalam kartu keluarga adiknya Maudy yang baru menikah sebulan."
Karin hampir tersedak air liurnya sendiri mendengar cerita yang benar-benar diluar akalnya. Cerita yang biasa ia lihat di serial drama yang biasa ibunya tonton. Tapi kali ini nyata terjadi.
"Anak Residen yang kamu temuin di Gathering RS waktu itu? Maya di-"
"Adiknya Maudy?!" Karin sangat tidak siap dengan kenyataan yang baru saja ia terima. Dengan kedua tangannya yang ia gunakan untuk menutupi mulutnya yang sedang menganga, Karin menatap Adjie dengan tatapan tidak percaya. Ia butuh penjelasan lebih lanjut.
"Makanya kalo kamu inget dia ngeselin, Maya ngebuang semua amarah dan perasaan kesalnya terhadap kakaknya ke aku. Terlebih, karena aku juga Maya harus menunda rencana pernikahan mereka selama itu."
Karin memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Otaknya tidak mampu menampung segitu banyaknya informasi mengejutkan dalam satu waktu.
"Dia jadi Dokter Residen di Rumah Sakit tempat yang sama dengan Mas bukan buat bales dendam, kan?" Karin tidak bisa mengendalikan otaknya yang mulai berpikiran liar itu.
Adjie menggendikan bahunya, "bisa jadi. Tapi aku gak tau juga."
"Bentar, aku pusing," gumam Karin lalu menyandarkan keningnya pada bahu Adjie. "Dari nemuin anak hilang di parkiran kok bisa nyambung sejauh ini."
Adjie menolehkan wajahnya, mengecup puncak kepala Karin dengan lembut lalu mengelus rambut kekasihnya itu. "Ya, namanya udah 35 tahun hidup, Rin. Ada aja dramanya."
Karin mengangkat kepalanya, "kayaknya emang mainku kurang jauh aja. Drama hidupku belum bisa ngalahin serial drama yang biasa Mama tonton."
"Us, kurang drama apa? Perjodohan itu kan cuman ada di kisah-kisah fiksi aja. Orang jaman sekarang mana mau dijodohin?"
"Aku mau."
Adjie terkekeh, ia mengecup pipi Karin gemas. "Kamu kan, emang orang jaman dulu."
"Enak aja! Itu Mas bukan aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomantikNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
