41. Pindah Dulu, Baru Lembur

10.8K 614 16
                                        

Kalau bisa memilih kekuatan super, sepertinya Karin akan menjatuhkan pilihannya pada kemampuan mempercepat waktu. Pandangannya sedari tadi tidak lepas pada aplikasi kalender yang sedang ia buka selagi pikirannya melayang jauh memikirkan kegiatan apa yang ingin dilakukan setelah resmi menjadi Isteri Rumah Tangga.

"Ya ampun, masih ngeliatin kalender juga?" Tanya Adjie setelah ia keluar dari kamar mandi seusai menunaikan rutinitas bersih-bersih selepas pulang kerjanya. "Mau ngapain sih, Rin?" Kali ini ia berhasil bergabung dengan Karin di atas tempat tidur dan memberikan kecupan pada pipi kanan Karin.

Karin menutup aplikasi kalender pada ponselnya dan menguncinya, "belum tau. Tapi udah gak sabar aja menikmati masa-masa pensiun dini."

Adjie tersenyum tipis mendengar penjelasan Karin. Jika kata orang jodoh adalah cerminan diri, maka dalam kasusnya, jodoh justru saling melengkapi. Sebagaimana Adjie yang sangat menyukai kerja, berjodoh dengan Karin yang moto dalam hidupnya: "Jika bisa santai, kenapa harus kerja keras?"

Melihat senyuman yang terulas di wajah suaminya, Karin menaikkan satu alisnya. Memikirkan kemungkinan penyalahgunaan kata yang ia gunakan.

"Apa?" Tanya Adjie disertai kekehan setelah melihat wajah penuh penghakiman dari Karin yang bahkan ia sendiri tidak sadari.

"Mas harus bangga! Itu artinya aku siap mengabdikan diriku," ujar Karin dengan nada penuh rasa percaya diri. Seperti ingin lebih meyakinkan suaminya, Karin kini sudah berdiri di atas tempat tidur dan membungkukan dirinya layaknya seorang pelayan yang siap bekerja untuk tuannya.

"Oh, gitu? Ya udah berarti udah si—"

"STOP!" Seruan lantang Karin disertai dengan gerakan paksa menghentikan kegiatan meledek Adjie yang sedang berpura-pura ingin membuka bajunya.

"Loh, katanya siap mengabdikan diri."

Karin memandang Adjie tidak percaya, keinginan untuk memukul Adjie sudah sangat tinggi hingga sulit ia tahan kalau saja ia tidak ingat pesan dari ibunya untuk mengurangi physical attacknya.

"Kalo aku pukul kepala Mas sekali, isinya bisa berubah jadi baik gak? Bukan yang mesum terus?"

Mendengar pertanyaan dari Karin, tawa Adjie meledak. "Abis ngusilin kamu tuh seru."

Karin membeo, mengulangi kalimat Adjie dan mengganti semua huruf vocal menjadi huruf I lalu kembali mendudukan dirinya di samping suaminya.

"Kamu makin heboh, Mas makin seneng," sambung Adjie sambil mengelus rambut Karin dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya. Seperti sedang ingin menyampaikan pesan betapa bahagianya ia sekarang dengan kehadiran Karin dalam hidupnya.

"Ngomongin seneng, aku sudah mengambil sebuah keputusan."

Keyakinan dan rasa penuh percaya diri Karin membuat Adjie penasaran dengan Keputusan apa yang sudah ia buat.

"No sex before we moving out."

"Rin!" Seru Adjie memberikan respon yang membuat Karin terlonjak kaget karena nada bicara yang tiba-tiba meninggi itu. "Apa hubungannya seneng dan sex?"

"Oh, emang Mas gak seneng ngelakuinnya?" Pertanyaan yang Karin terlontar begitu saja dengan polosnya dan berhasil membuat pipi Adjie sedikit merona merah.

Adjie berdeham sebelum membuka mulutnya, "terlalu tiba-tiba aja perubahan topiknya dan kamu udah gak pake kata lembur lagi. Jadi, Mas gak siap."

Melihat betapa salah tingkahnya suaminya itu, Karin sepertinya cukup paham kenapa Adjie senang melihat responnya setiap ia diledek. Karena, memang cukup memuaskan.

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang