15. Meluluhkan Puncak Everest

14.5K 963 13
                                        

Leya Tamara
@LeyaTam

Leya, ini Adjie. Karin udah pulang? :

: Barusan banget balik, Dok. Gak brg?
: Kenapa nih? Saya mencium bau-bau
pertengkaran

Ya biasalah masalah rumah tangga :
Ok, thank you Le. Follback btw hehe :

New notification.
LeyaTam following you back.

Sudah 2 hari Adjie menerima sikap dingin dari Karin. Dingin bukan sembarang dingin, rasanya seperti berada di Puncak Everest. Oleh karena itu, di hari kedua ini, Adjie melakukan segala cara untuk bisa mengetahui keadaan Karin. Salah satunya mengecek daftar pertemanan Karin di sosial media untuk menemukan akun sahabatnya itu.

Tentu saja bukan perkara sulit terlebih pada daftar yang diikuti Karin, nama Leya hanya ada satu serta menggunakan foto profil dirinya sendiri walaupun akunnya terkunci.

Target sudah diketahui keberadaannya, saat ini giliran Adjie bergerak menuju tempat yang akan dituju Karin, rumahnya.

Dalam perjalanan menuju rumah Karin, lelaki itu terus berandai akan skenario terburuk yang bisa saja terjadi. Seperti diusir oleh Karin atau kalau ia keras kepala dan menolak untuk pergi maka Karin akan menyiramnya dengan air cucian. Tapi lebih daripada itu, hal apa yang bisa Adjie lakukan dan ampuh untuk meluluhkan hati Karin?

Sudah dua hari berpikir, tapi ia belum juga menemukan jawabannya.

Dan saat ini ia kagum sendiri dengan dirinya karena walaupun pikirannya melayang kesana-kemari namun ia tetap bisa selamat sampai tujuan seperti saat ini. Dengan kesadarannya yang sudah kembali sepenuhnya, Adjie bisa melihat pagar rumah Karin yang berwarna cokelat. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah gadis itu dan segera keluar dari mobil sambil berjalan terburu-buru untuk membuka pagar yang tidak pernah terkunci di jam segini.

Dengan jantung yang berdebar, Adjie menekan bel yang terletak tidak jauh dari pintu rumah ini. Tidak lama setelahnya, gadis yang sudah dua hari tidak ia temui bahkan ia dengar suaranya itu akhirnya terlihat di hadapannya.

"Loh, cepet sampenya," gumam Adjie.

Bersamaan dengan tatapan malas yang Karin berikan, gadis itu tanpa merasa bersalah berusaha untuk menutup pintu kembali namun tentu saja Adjie tidak membiarkannya. Kedua tangan Adjie sigap menahan supaya pintu tidak tertutup.

"Sayang, tunggu!" Sambil menahan pintu, Adjie berusaha memberikan Karin senyumannya. "Gak kangen aku, kah? Gak mau ngobrol sama aku?"

"Kenapa? Kamu kangen? Mau ngobrol?"

"Iya dong!" Seru Adjie disertai anggukan berulang. Berusaha meyakinkan Karin kalau jawabannya itu tulus.

"Kenapa aku? Kan masih bisa cari cewek lain buat dijadiin isteri kedua dan ketiga," tegas Karin sinis. Sepertinya memang ia tidak punya niat untuk berdamai dengan Adjie setidaknya dalam waktu dekat ini.

"Rin, ayolah. I didn't and never meant that. Please. Let's talk, Babe."

Kali ini, tidak hanya menahan pintu, Adjie juga perlahan berusaha mendorongnya dan melangkahkan kaki memasuki rumah Karin.

"Gak kepengen. Bye." Dengan begitu Karin segera melenggang ke ruang tengah rumahnya. Membuat Adjie yang sedari tadi menahan pintu dan mulai mendorongnya hampir terjatuh kedepan karena sudah tidak ada lagi yang manghalanginya.

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang