33. Pagi Pertama

15.4K 712 7
                                        

Disclaimer :
Mengandung candaan 21+ yang mungkin aja buat beberapa dari kalian kurang nyaman.

---

Karin nyaris terlonjat kaget saat sebuah tangan melingkari pinggangnya. Matanya terlebih dahulu terbuka lebar dibanding otaknya untuk bekerja memproses apa yang baru saja terjadi. Alhasil, dengan sekuat tenaga ia melemparkan tangan tersebut.

"Mas, sorry!" Serunya sambil mengambil posisi duduk saat menyadari bahwa tangan yang baru saja ia hempaskan adalah milik Adjie, lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya

Karin menoleh ke sisi kanannya, area di mana tubuh Adjie berbaring. Suaminya itu sedang menahan sakit sambil memeluk tangannya sendiri.

"Sakit, Rin," desis Adjie dengan mata yang masih tertutup.

"Maaf, aku kaget," sahut Karin mencoba menjelaskan. Tangannya pun segera mengelus lengan hingga telapak tangan kanan Adjie yang menjadi korban pagi ini. "Lupa, biasa tidur sendiri. Maaf, ya?"

Karin memohon sambil memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk membayar kekacauan yang baru saja ia lakukan.

"Mas, kamu nangis?" Tanya Karin memastikan saat ia menyadari air mata yang lolos.

Normalnya, Karin harus merasa semakin bersalah, kan? Karena tindakannya barusan tanpa ia sadari menyakiti suaminya hingga menitikan air mata.

Namun, Karin malah berusaha menahan tawanya. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya dengan memeluk tubuh Adjie yang masih tertidur miring itu sambil terus mengucapkan permintaan maafnya.

"Kenapa nangis?"

"Sakitnya gak seberapa sebenernya," ucap Adjie membuka suaranya, Karin kembali pada posisi duduknya.

"Terus?"

Kali ini Adjie sudah membuka matanya, ia menatap Karin dengan bibir bawah yang terdorong maju, "kaget."

Apa sih? Gemes banget!

Mendengar hal itu, tawa yang sedari tadi Karin coba tahan ia lepaskan begitu saja. Seketika ia lupa bahwa umur Adjie jauh diatasnya.

"Iya, iya. Sorry, ya? Maafin aku udah ngagetin. Tapi itu karena aku juga kaget," jelas Karin mencoba menenangkan suaminya sambil kembali memeluknya, kali ini ditambah dengan elusan halus pada punggung Adjie.

Karin bisa merasakan kepala Adjie yang mengangguk dan memeluk balik dirinya.

"Aku maafin tapi bikinin aku sarapan."

Dengan sigap Karin melepaskan pelukannya dan menatap sinis ke arah Adjie. "Ih, gak mau rugi banget."

"Aku udah sampe nangis loh, Rin. Karena kaget," Adjie mengelap bekas air matanya yang terjatuh. "Bikin sarapan doang mah gak seberapa."

"Masalahnya," Karin menjeda kalimatnya. "Roti aja, ya?"

"Boleh, dibakar, ya?"

Senyum Karin mengembang, "gampang itu mah."

"Gak mau pake toaster," sambung Adjie seperti paham maksud isterinya barusan. Karena setelahnya, Karin mengernyit tidak suka. "Kalo pake toaster doang aku juga bisa, Rin."

"Terus pake apa?" tanya Karin membutuhkan saran karena selama ini roti panggang yang ia santap untuk sarapan atau sebagai camilan, selalu dibuatkan oleh Bi Onah.

Untuk urusan dapur, Karin memang tidak punya keahlian pada bidang itu. Sebenarnya hampir untuk semua hal yang berkaitan dengan mengurus pekerjaan rumah. Tapi, kalau hanya menyapu atau mengepel, setidaknya itu terlihat lebih mudah untuk ditiru dibanding memasak.

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang