Tante Gina
Karin
Calon mantu tante
Nanti malem boleh gak kita makan malem bareng, neng?
Jadi tante aja yang jemput
Nanti tante bilang Adjie
Boleh, Tante
Apa gak repot, Tan?
Kalo gak nanti Karin susul aja
Kita mau makan di mana, Tante?
Ok kalo gitu
[Share location]
Di sini ya neng
Karin kembali membuka ruang percakapannya dengan Gina. Mencocokan nama Restoran yang tertera di ponselnya juga yang sedang terpampang di depannya. Setelah yakin kalau ia tidak salah tempat, Karin segera memasuki Restoran. Mencari keberadaan Gina yang baru saja menelponnya kalau calon mertuanya itu sudah sampai.
"Untuk berapa orang, Kak?" Seorang pramusaji yang sedang membawa buku menu menghampirinya.
"Dua, tapi Ibu saya sudah sampe, sih."
Ibu.
Karin sedikit mengernyit dengan panggilan yang ia buat untuk Gina. Lagi pula, mau bagaimana lagi? Menyebutkan calon mertua terlalu berlebihan dan terdengar menyombongkan diri bagi Karin. Menurutnya menggunakan panggilan Ibu untuk Gina adalah yang paling tepat, toh, memang sebentar lagi Gina akan menjadi Ibu Mertuanya.
"Oh, atas nama Bu Gina ya, Kak?"
Karin mengangguk. Sang pramusaji menuntunnya untuk menuju tempat Gina berada, ruangan tertutup khusus dan ketika dibuka menunjukkan Gina yang sudah menunggu di dalam.
Dalam ruangan VIP ini terdapat meja persegi dan empat bangku.
"Halo, Tante," Karin menyapa sambil mencium tangan calon mertuanya itu. Ia mengambil posisi duduk berhadapan dengan Gina.
"Macet gak, Rin?" Tanya Gina basa-basi dan kembali duduk.
Karin menggeleng, "aman, Tante."
"Tante udah pesenin makanan, pokoknya enak dan Tante jamin kamu suka. Kamu harus nyobain," ucap Gina yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Kata Mama, akhir-akhir ini kamu lagi sakit ya, Rin?"
Karin mengangguk, ingatannya akan beberapa hari lalu dimana ia harus bergumul dengan rasa mual membuat Karin bergidik. Bagi dirinya, lebih baik disuntik tiap hari daripada harus bergumul dengan rasa mual karena selera makan Karin menjadi turun. Padahal, selera makan sangat penting bagi Karin untuk menjaga suasana hatinya stabil dan tetap baik.
"Iya, Tante. Seumur hidup, aku baru dua kali semual itu dan dua-duanya karena begadang. Setelah itu aku janji sama diri aku sendiri buat gak begadang lagi,"
"Oh, karena begadang," guman Gina sambil pikirannya bekerja mencari informasi ataupun cerita yang pernah ia dengar kalau begadang bisa membuat seseorang mual. "Rin-"
Kalimat Gina terhenti saat seorang pramusaji masuk untuk mengantarkan makanan pesanan mereka. Membuat Karin terkagum dengan Sup Kaldu Daging yang terhidang, sepiring besar berisi bermacam-macam potongan buah dan segelas susu yang Karin pun merasa aneh karena Gina memesan minuman susu untuknya.
Karin tidak protes dengan minuman yang dipesan, ia hanya tidak menemukan korelasi antar makanan yang terhidang. Terlihat seperti asal mencocokan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
Storie d'amoreNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
