Adjie pamit untuk menyingkir sejenak sesaat setelah pengumuman Pemberkatannya dengan Karin dan briefing singkat untuk jumat nanti selesai. Ia mengajak Karin untuk berbicara empat mata di lantai dua rumahnya. Tempat paling steril dari keberadaan keluarganya yang lain.
"Aku kesel banget, bisa-bisanya nyimpulin kalo aku hamil!"
Karin melemparkan badannya pada ranjangnya. Ia memeluk gulingnya dan memandangi langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang.
"Emang semua cewek yang mual dan pusing artinya lagi hamil apa?"
Adjie bergabung di ranjang bersama Karin. Ia duduk di pinggir ranjang. "Momennya lagi pas, Rin. Setelah kita nginep."
"Mas juga!" Karin mengubah arah tidurnya dengan menempatkan kepalanya pada bantal tidurnya selagi ia masih memeluk gulingnya dengan nyaman. "Kenapa tiba-tiba oke aja dan nyuruh aku diem?"
Adjie menyenderkan tubuhnya pada headboard ranjang Karin sehingga kepala Karin bersebelahan dengan letak pahanya beristirahat. "Aku bisa apa, Rin? Kalo kita terus maksa dan buktiin mereka salah, yang ada mereka nanggung malu nanti."
Karin memejamkan matanya sejenak disertai dengan helaan napas panjang. "Aduh, lagian momen abis nginep, terus Mas dinas dan aku jadi begadang lalu berakhir sakitnya kok bisa beruntun gitu, sih."
"Ya udahlah, mau gimana lagi?" Tanya Adjie lalu menunduk untuk menatap mata Karin. "Bagus, kan? Sahnya jadi cepet."
Karin mencubit paha Adjie setelah ia memamerkan wajah jahilnya itu.
"Aw!"
"Kamu kesempetan namanya!"
"Lah, aku mah cuman oportunis aja, Rin. Tiap ada kesempatan ya aku ambil. Apalagi kesempatan buat bisa cepet-cep-"
"Stop, mesum!" Sergah Karin menutupi wajah Adjie dengan guling yang sedari tadi ia peluk.
"Aman, akan aku tahan sampe akhirnya bisa praktek."
"Mas!"
Adjie tertawa geli melihat respon Karin dan pipinya yang mulai memerah.
"Abis ini, setelah semuanya pulang, kita ngomong sama mereka yang sebenernya," Adjie menyampaikan maksud ingin berbicara empat mata dengan Karin. "Kalo kamu gak hamil. Karena nama baik aku juga harus kembali, mesum-mesum gini, aku juga berakal kali. Enak aja."
Karin tertawa jahil, "kalo gitu gak mau ah. Toh, nunggu nanti pun bakal nikah juga."
"Rin!" Seruan Adjie disertai dengan cubitan gemas pada pipi gadisnya itu. "Aku gak terima. Dibilang ngehamilin anak orang, boro-boro berbuat. Nyuri cium aja aku kena ledek terus."
"Makanya jangan nyosoran, Mas."
"Ya, mau gimana lagi? Namanya kebawa suasana."
"Karin! Adjie!"
Panggilan dari Rissa terdengar. Yang dipanggil segera turun menuju sumber suara. Adjie yang berjalan di belakang Karin dan melihat rambut gadis itu yang sedikit berantakan setelah merebahkan dirinya di ranjang, merapihkan rambut Karin dan bajunya yang sedikit naik.
Terdengar dehaman keras dari Gina yang ternyata menyaksikan itu.
"Mam, gak gitu!" Adjie segera membela dirinya. Kini, ia menyadari kehadiran ayahnya setelah seluruh keluarga yang tadi hadir sudah pulang.
"Para orang tua kami tersayang, aku sama Mas Adjie mau ada yang diomongin."
Dengan begitu, mereka mengambil posisi duduk pada ruang tengah tempat yang biasa dihabiskan untuk menonton.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomansNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
