48. Hadiah Tambahan dari Leya

11.9K 517 30
                                        

Sedari Karin terbangun tadi, firasatnya mengatakan bahwa suaminya tidak jadi berangkat bekerja di akhir pekan hari ini karena Karin bisa melihat ponsel Adjie yang masih tergeletak di meja nakas. Meninggalkan atau lupa membawa barang adalah bukan tipe Adjie sekali.

Dan, benar saja.

Saat Karin memutuskan untuk menuju lantai satu setelah kelar dengan rutinitas paginya, Karin menemukan Adjie sedang terduduk di kursi tinggi pada meja bar dengan sepenuhnya fokus pada laptop yang terbuka di depannya. Karin menyunggingkan senyum tipis melihat pemandangannya pagi ini.

Adjie dengan kaos tipis berwarna putih yang biasa ia jadikan sebagai baju tidur, cukup tipis hingga mampu memperlihatkan siluet terbaik tubuh lelaki itu. Terlebih, ketika dilihat dari belakang. Kakinya yang dibalut dengan celana yang berwarna cukup kontras dengan bajunya, biru dongker, tidak mau diam.

Semakin dekat jaraknya dengan Adjie, ia bisa melihat layar laptop suaminya yang menampilkan grafik yang membuat pandangan mata Karin mengabur saking memusingkan dan rumitnya.

"Tumben kerja di rumah, aku kira Mas jadi ke RS hari ini," Karin bersuara.

Setelah berada tepat disamping suaminya, ia tidak segera mengambil posisi duduk, melainkan mencondongkan tubuhnya pada meja bar selagi pandangannya kembali ia fokuskan pada layar laptop Adjie yang baru saja lelaki itu gulirkan ke bawah, menampilkan beberapa foto sebuah gedung yang terlihat seperti Rumah Sakit itu dari berbagai sisi.

Melihat isterinya sudah berada di jarak yang cukup dekat, tanpa menunggu lama Adjie segera melingkarkan satu tangannya pada pinggang Karin untuk menarik gadis itu semakin dekat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Adjie memberikan kecupan selamat paginya lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Karin selagi satu tangan lainnya mengambil potongan buah pada piring yang berada tidak jauh dari laptopnya.

"Capek kerja mulu. Bikin kangen Isteri," jawab Adjie setelah mulutnya sudah kosong kembali. "Apa aku pensiun dini juga aja ya, Rin? Kayak kamu."

Dengan kedua tangannya, Karin berusaha mengangkat kepala Adjie menjauh dari bahunya. "Kamu ngeledek aku ya, Mas?"

Adjie memutar kursinya hingga berhadapan dengan Karin. Kini, kedua tangannya sudah melingkar dengan eratnya pada pinggang Karin.

"Gak ngeledek, Sayang. Itukan romantis, artinya Mas pengennya sama kamu terus. Gak diganggu sama kerjaan," bela Adjie dengan memberikan senyuman lebarnya supaya lebih meyakinkan. "Mau dibikinin sarapan apa?"

Pandangan Karin segera menyebar, memperhatikan sekitar untuk menemukan piring lainnya yang berisi menu sarapan. "Mas gak bikinin aku sarapan?"

"Belum bikin, bukan gak bikin. Mas gak tau kamu bangun jam berapa, kalo dibikininnya barengan dan ternyata kamu bangun sore gimana? Nanti Mas diprotes."

Karin mencubit pipi Adjie gemas, "emangnya aku Isteri apaan. Bangun sore." Celetuk Karin lalu segera melepaskan diri dari pelukan Adjie.

Ia meletakkan ponsel milik Adjie dan miliknya pada meja bar lalu berjalan menuju kulkas untuk melihat apa yang bisa segera ia santap tanpa perlu menunggu Adjie memasakannya sesuatu untuknya. Karena saat ini, rasa laparnya sulit untuk ditahan mengingat kemarin terakhir makan di jam 5 sore.

"Aku makan ini aja," ucap Karin mengeluarkan sekantung kecil berisi Granola Bites yang kemarin pagi sempat ia nikmati setengah isinya.

"We are running out of milk, Babe."

Mendengar informasi dari Adjie, Karin segera menutup kembali pintu kulkas dan kembali bergabung dengan suaminya. "Mas hari ini beneran libur? Siang nanti bisa ke Supermarket berarti?"

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang