"Gue bingung deh, Rin." ujar Leya, menatap sahabatnya dengan penuh keraguan setelah berhasil meletakan dua kantong belanjaan milik Karin.
Hari ini, Leya berhasil mengajak Karin keluar setelah mendapatkan izin dari Adjie kemarin. Saat itu, Leya menyampaikan niatnya untuk menghabiskan satu hari bersama Karin, melakukan kegiatan ala perempuan, karena sudah lama merindukan momen kebersamaan seperti itu. Adjie dengan senang hati mengizinkan, ia juga berterimakasih pada Leya karena idenya dapat menjadi hiburan sesaat untuk Karin yang akhir-akhir ini sering ia tinggal karena sedang memulai proyek barunya dengan Damar.
"Gue bukan Guru, jangan tanya sama gue karena gue gak bisa kasih penjelasan." Balas Karin setelah ia berhasil melepas dahaga dengan segelas air dingin.
"Tapi ini tentang lo."
Karin yang sedang berjalan ke arah meja bar, menatap Leya dengan satu alisnya terangkat. "Gue bukan mata pelajaran, Ley."
"Ih, jawab mulu! Dengerin dulu makanya." Leya melemparkan tatapan kesalnya pada Karin yang berhasil membuat gadis itu mengangguk dan mengatupkan bibirnya. "Lo kan udah mendapatkan apa yang lo mau, menikah dan pensiun dini."
"Kebalik, gue mau pensiun dini makanya milih nikah." Balas Karin meralat kalimat Leya.
Leya memutar kedua bola matanya setelah berhasil bergabung dengan Karin usai mengambil posisi duduk di sebelahnya. "Tetep aja, kalo pasangannya bukan Dokter Adjie juga lo gak akan mau, kan?"
"Gak salah."
"Aduh, sebentar dulu. Jangan dipotong-potong," kali ini Leya tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menepuk lengan Karin. "Intinya, lo sedang menjalani hidup yang lo mau. Tapi, kenapa sedari tadi pagi kita jalan. Muka lo nekuk mulu? Apalagi yang bikin lo stres, Rin? Apalagi yang kurang? Maruk banget lu, gue liat-liat."
"Morak, maruk. Gue cuman sedikit gak tenang aja. Soalnya," Karin menjeda kalimatnya, ia menelan ludahnya selagi otaknya kembali membantah kesimpulan yang dibuatnya beberapa hari terakhir ini. "Gue udah pindah lebih dari sebulan kan, Ley. Terakhir gue haid itu sebelum pindahan, tapi sampe detik ini. Gue juga belum haid lagi."
"Anjir! Penanaman bibit berhasil?"
"Stres."
"Kok stres sih, Rin? Oke, gini. Bilang lah lo beneran telat haid karena hamil, yaudah juga gak sih? Udah ada suami, Rin. Kenapa harus takut sampe nekuk tuh muka lo?"
"Masalahnya,"
Karin tidak berani melanjutkan kalimatnya. Leya benar, seharusnya dia tidak perlu takut jika kemungkinan itu terjadi. Tapi, sebelum akhirnya bibit itu bertumbuh, perlu dilakukan proses penanam, kan?
Bagaimana bibit bisa bertumbuh kalau ditanam saja belum?
"Sebelum gue pulang, mau gue temenin ke apotek dulu buat beli testpack? Kalo lo malu, gue aja yang beli."
Karin menghela napasnya panjang. Bukan itu masalahnya.
"Gue cuman capek aja, Ley. Bukan hamil."
Leya menatapnya dengan tatapan tajam, masih tidak percaya. "Apaan sih? Kok lo yakin banget? Dokter Adjie udah tau? Dia bilang apa? Pasti gejala kehamilan, kan?"
Karin mengerutkan kening, merasa seolah-olah Leya melontarkan lelucon. “Capek, Ley. Kecapekan. Capek dengan perintilan pindahan. Bukan hamil.”
"Enggak, Rin. Hamil. Percaya sama gue. Lo itu lagi hamil," timpal Leya dengan yakin. Ia bahkan mengakhiri kalimatnya dengan mengelus perut Karin.
"Gak usah cocokologi bisa gak sih, Ley?"
"Gak bisa soalnya gue gak sabar mau jahilin anak lo."
Karin hanya bergeming, memilih untuk menyembunyikan wajahnya di balik tangan yang terlipat di atas meja. Ia merasa canggung dan ingin menghindari pembicaraan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
Storie d'amoreNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
