35. Hot and Sexy Husband

17K 677 11
                                        

"Astaga, pake bajunya, Mas. Kamu mau masuk angin?"

Pertanyaan Karin terlontar bukan tanpa sebab, saat ia baru kembali dari kamar mandi, Karin menemui suaminya itu sedang berdiri bertelanjang dada di depan salah satu pintu lemari yang memiliki kaca.

Entah ini memang hal normal atau memang Adjie selalu ada saja tingkah tidak biasanya.

Untuk apa bertelanjang dada di kamar yang suhu ruangannya dibuat 20 derajat celcius?

Lagi pula, Karin juga harus berpura-pura biasa saja saat jantungnya mulai berdetak tidak karuan karena ini pertama kalinya ia melihat bentuk tubuh bagian atas Adjie. Selama ini hanya pernah merasakan lekukan tubuhnya saat sedang berpelukan. Ternyata memang benar, tubuh bagian atas suaminya itu cukup atletis.

"Emang aku beneran gak hot and sexy, Rin?" Tanya Adjie yang sudah membalikkan tubuhnya menghadap Karin yang sedang mengambil ponselnya di atas ranjang.

Karin membalas tatapan Adjie dengan tubuh yang tiba-tiba terasa kaku untuk bergerak. Tanpa sadar, ia menelan ludahnya sendiri.

"Hmm.. gak tau ah. Kenapa tiba-tiba banget?"

Adjie mengambil langkah mendekati Karin, tentu saja gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya kali ini. Ia segera memejamkan matanya dan terduduk di tepian ranjang.

"Mas, gak usah deket-deket," pintanya saat Karin bisa merasakan bokong Adjie yang juga mendarat di atas ranjang.

"Kenapa?"

Karin membuka salah satu matanya, "kenapa? Kamu gak pake baju!" tangannya ia ulurkan hingga berhasil menutupi badan bagian atas Adjie, baru secara perlahan membuka sebelah matanya yang tadi tertutup.

"Anggep aja nyicil, Rin. Atasnya dulu baru nan--"

"Stop!" Sergah Karin. Tangan yang tadi ia gunakan menjadi alat sensor manual segera ia dorong ke wajah Adjie untuk menutupi mulut suaminya itu supaya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. "Aaaaaaa!" Karin lupa kalau itu membuat sensor manualnya menghilang sehingga ia kembali bisa melihat dada bidang Adjie.

Melihat kehebohan yang dibuat isterinya, Adjie hanya bisa tertawa geli. "Rin, kenapa sih? Heboh sendiri gitu. Ayo latihan."

Adjie berhasil menyingkirkan tangan Karin yang membekap mulutnya. Kini, ia menangkup wajah isterinya yang kedua matanya masih tertutup itu.

"Latihan apa?"

"Ayo, buka matanya perlahan. Liat Mas."

Karin berharap, permintaan Adjie barusan adalah kalimat salah ucap dan suaminya itu tidak benar-benar meminta demikian. Tapi jeda yang diberikan Adjie, menyadarkan Karin kalau permintaan Adjie barusan adalah perintah yang harus dilakukan.

"Latihannya gak usah sekarang, Mas. Please."

Karin memang tidak bisa melihatnya, tapi Adjie baru saja menggelengkan kepalanya.

"Harus sekarang. Kalo nanti, kamu pasti ada aja alasannya."

Lagi, Karin menelan ludahnya sendiri. Ia memerintahkan tubuhnya untuk rileks lewat tarikan napas panjang yang ia ambil dan menghembuskannya perlahan. "Oke, pelan-pelan. Sebentar."

"Mas tungguin sampe kamu siap buat bu--hahahahaha.." Tawa Adjie lolos begitu saja saat Karin membuka matanya secara tiba-tiba dan terkesan sedang memelototi dirinya. "Nah, ini wajah suamimu. Liatin dulu sampe puas."

Mendengar hal itu, Karin memelas. Ia kembali mencoba peruntungannya, "besok ajalah ya Mas nyicilnya?"

Adjie mengambil momen ini sebagai kesempatannya, ia menyeringai jahil. "Boleh, tinggal diganti sama cicilan yang lain."

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang