32. Malam Pertama

19.4K 796 3
                                        

"Kalian mau bulan madu kemana? Nanti infoin ke Papa aja, biar diaturin. Hadiah pernikahan."

Pertanyaan dari Gaudy sukses membuat Karin hampir memuntahkan kembali sepotong mangga yang baru saja ia lahap. Sedangkan Adjie, dengan wajah yang berbinar, pikirannya sedang bekerja memilih destinasi yang beberapa namanya sudah muncul di dalam kepalanya.

Karin harus mulai terbiasa dengan status barunya yang ia terima dua belas jam yang lalu. Begitu juga dengan sosok Adjie yang saat ini sudah memakai setelan piyama dan sedang terduduk dengan nyamannya di sofa ruang tengahnya.

"Dalam atau luar negeri, Pa?" Tanya Adjie seolah ia sudah mempunyai dua pilihan untuk masing-masing kategori.

Karin urung untuk menimbrung, ia memilih untuk menjadi penikmat obrolan dua lekaki kesayangannya itu.

Sejam yang lalu mereka baru kembali dari makan malam keluarga dan kerabat sebagai ucapan syukur karena acara pemberkatan tadi pagi telah berjalan dengan lancar. Selesainya dari acara makan malam tersebut, Adjie dan Karin bersepakat untuk malam ini tidur di rumah keluarga Thamadi juga untuk beberapa malam kedepan hingga kesepakatan baru mereka terbentuk, mengenai akan tinggal secara permanen di mana.

"Gak ada batasan," balas Gaudy yang berhasil membuat senyuman Adjie kembali mengembang.

"Asik banget.. Jepang, Pa!"

"Halo? Mas? Kamu perginya sama aku, kok gak nanya pendapat aku dulu?" Karin memukul lengan Adjie mendengar seruan lelaki itu barusan. "Emang aku mau ke Jepang?"

Adjie mengelus lengannya yang barusan dipukul, ia menautkan alisnya sambil menatap Karin. "Emang gak mau?"

"Mau, tapi..."

"Kamu mau kemana lagi emang?"

"Swiss!"

Dengan senyuman jahil yang terulas, Adjie mengelus punggung Karin. "Gampang, kalo itu kita palak Mami Gina aja."

Karin tertawa kecil mendengar ide cemerlang suaminya itu. Ia mengangguk setuju. "Oke, Papa sama Mama kado ke Jepang. Mami Gina sama Papa Bambang ke Swiss."

Mendengar kesimpulan yang dilontarkan Karin, adiknya yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka segera menginterupsi.

"Kalo butuh asisten, aku siap bantu, Kak."

"Sorry, Gam. Kita udah ada misi tersendiri, jadi gak boleh ada orang ketiga," sahut Adjie lalu merangkul bahu Karin.

Yang dirangkul segera melepaskan diri, "Mas! Pap, Mas Adjie mesum!" Serunya yang sudah mengerti misi apa yang dimaksud Adjie.

Gaudy tertawa melihat tingkah pasutri baru ini. "Kok mesum sih, Kak? Udah halal juga."

"Stop! Gamma masih kecil, gak mau denger obrolan orang gede," dengan begitu, Gamma melarikan diri ke kamarnya.

"Mama!"

Seperti tidak mendapat dukungan dari ayahnya, Karin mencari alternatif pertolongan.

Tidak lama, Rissa menampakkan sosoknya dari arah dapur dengan membawa sepiring potongan buah-buahan yang baru saja ia terima dari Bi Onah.

"Karin, kamu tuh udah jadi Isteri orang. Behave sedikitlah, Nak."

Karin merengut, ia menatap Adjie yang sedang tersenyum jahil ke arahnya.

"Halo, Isteri," sambil menambahkan lambaian tangan meledek.

"Udah ayo, Pa. Hari ini episode barunya udah tayang."

Dengan begitu, Rissa dan Gaudy meninggalkan Karin berdua dengan Adjie di ruang tengah.

"Terus kita ngapain?" Tanya Karin setelah ia mengecek jam pada layar ponselnya.

"Tidur?" Adjie bangkit dari duduknya, tangannya ia ulurkan ke arah Karin. Mengajaknya untuk segera beristirahat.

Baginya, hari ini sangat melelahkan.

"Berdua?" Karin memastikan, yang berhasil mendapatkan decakan dari Adjie.

"Mau bertiga sama Bi Onah?" Pertanyaan dari Adjie dibalas dengan gelengan kepala.

Tentu saja itu pertanyaan yang konyol dari Karin, tapi usul dari Adjie juga tidak kalah konyol. Karin hanya belum siap untuk menghadapi malam pertamanya menjadi isteri dari Adjie. Malam ini dan seterusnya, ia harus terbiasa tidur dengan sosok yang menemaninya di sebelahnya.

Perihal tidur, Karin cenderung cukup santai. Ia bisa tidur di mana saja asalkan kepalanya teralaskan oleh sesuatu yang empuk. Dengan siapa ia berbagi tempat tidur, biasanya tidak terlalu bermasalah bagi Karin. Ia tidak terlalu sensitif dengan teman tidurnya. Atau itu karena selama ini Karin hanya punya Leya yang pernah menjadi teman tidurnya. Seseorang yang menemaninya tidur.

Hanya tidur.

Tapi malam ini, predikat teman tidur yang resmi disandang Adjie sepertinya memiliki arti yang berbeda.

Dengan agak ragu, Karin bangkit berdiri. Ia mengambil uluran tangan Adjie yang kini menuntunnya menuju kamarnya. Tempat yang sudah Adjie ketahui letaknya di rumah ini.

"Mas," panggil Karin setelah mereka berhasil masuk kamar dan ia segera menutup pintunya.

"Dalem?" Adjie tidak membalikkan badannya, ia segera menuju ranjang. "Gak perlu guling gak sih, Rin?"

"Kenapa?" Tanya Karin yang kini sudah duduk di tepian ranjangnya selagi Adjie masih menatap letak dua bantal dan satu guling yang ia punya.

"Kan sekarang udah ada guling hidup," ucap Adjie tanpa menambahkan ekspresi apapun, kalimat tersebut ia ucapkan selayaknya itu adalah kalimat yang biasa dan normal.

Bagi Karin, kalimat itu berhasil membuatnya bergidik ngeri. "Mas, tolonglah!"

Baru Adjie meloloskan tawanya.

"Aku di sini," jelas Karin menepuk sisi kanan ranjang. "Tapi, Mas.. malem ini, langsung tidur aja, ya?"

Pertanyaan yang barusan Karin lontarkan, pada akhir kalimatnya terdapat penurunan nada. Kalau boleh jujur, Karin pun merasa canggung karena harus menanyakan hal tersebut. Tapi, ia juga ingin tidur dengan tenang jadi perlu memastikan.

Adjie mengangguk, ia segera mengambil posisi miliknya di sisi kiri ranjang. "Kecuali kamu masih punya energi untuk berbu--"

"Mas!" Karin segera memotong kalimat Adjie. Ia tidak siap mendengar lanjutannya.

Melihat Adjie yang sudah dengan nyamannya berbaring di atas ranjang, Karin merasa semakin canggung untuk bergabung.

Ini gimana? Langsung tiduran aja? Tidurnya dengan posisi normal aja, kan? Gak mesti peluk--

"Mas Adjie, pelan-pelan!"

Brak!

Karin segera mengangkat kepalanya untuk menoleh ke arah pintu yang baru saja tertutup dengan keras. Seseorang baru saja melemparkan sepasang bantal dan guling.

"Kak, itu dari Mama dan Papa buat Bang Adjie!" Teriakan Gamma terdengar dari luar kamar.

Adik lelaki Karin itu baru saja menyaksikan tubuh kakaknya yang ditarik ke dalam pelukan Adjie karena lelaki itu merasa gemas dengan Karin yang masih terduduk kaku di tepian ranjang. Namun, teriakan respon dari Karin yang sempat Gamma dengarlah yang membuat adiknya itu dapat merasakan kecanggungan yang sedari tadi kakaknya rasakan.

Sehingga mau tidak mau, Gamma segera menarik dirinya sendiri untuk keluar. Ia tidak tahan kalau harus berlama-lama di dalam kamar kakaknya, bisa-bisa ia menyaksikan hal lainnya.

"Lucu terus ya keluarga ini," komentar Adjie melihat tingkah Gamma, ia segera bangkit berdiri untuk mengambil sepasang bantal dan guling yang tadi Gamma lemparkan dan kembali kee posisi tidurnya.

"Gulingnya udah dapet satu-satu, jadi peluk guling aja," jelas Karin segera memeluk guling yang biasanya ia gunakan.

"Emang kamu gak mau tidur sambil melukin Masmu ini, Rin? Lebih nyenyak loh."

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang