"Hai, Sayang."
"Helo, Mas."
"Halo, Karin," sapaan dari suara asing itu membuat Karin segera menoleh ke kursi penumpang belakang.
Matanya menangkap lelaki yang sedang duduk di belakang kursi pengemudi. Tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Untuk sesaat Karin merasa familiar dengan wajahnya namun otaknya tidak bisa menemukan sebuah nama yang cocok. Karin menoleh ke arah Adjie yang pandangannya tertuju lurus ke jalanan di depannya. Ia menunggu penjelasan dari calon suaminya itu namun Adjie hanya bida menyeringai sambil membawa mobil yang mereka tumpangi berjalan ke arah pintu keluar gedung kantornya.
"Akhirnya gue ketemu juga dengan the legend, Karin."
Alis Karin mengernyit mencoba mengartikan apa yang lelaki itu ucapkan. Gadis itu tersenyum canggung sambil mengangguk. "Hehe.. halo."
"Mas," desis Karin sambil mencubit pelan lengan Adjie. Gadis itu menunggu penjelasan.
"Kaget, ya?" Tanya Adjie sambil terkekeh. "Kenalin, Damar."
"Karin," gadis itu merespon sambil kembali menoleh dan tersenyum tawar, ia menggunakan seatbeltnya dan memilih untuk duduk manis saja. Membiarkan Adjie untuk menuntun percakapan mereka.
Jelas ini semua karena Karin yang masih kaget. Dan juga, hal-hal tidak terduga seperti ini sebenarnya bisa membuat suasana hati Karin tidak baik. Karin menyukai kepastian sehingga ia bisa merencanakan step berikutnya dan setiap langkah yang sudah diatur sedemikian rupa, harus dijalankan menurut urutannya. Itu sebabnya, Karin tidak terlalu suka sesuatu yang dadakan karena artinya, Karin harus menyelipkan langkah baru pada urutannya yang sudah tersusun rapih itu.
"Damar ini temen kuliahku, Rin. Aku belum cerita, ya?"
Karin hanya menggeleng, membuat suasana cukup canggung dan jeda yang cukup lama karena Adjie merasa salah langkah.
"Kita ngejar sarjana bareng, jadi Residen bareng tapi habis itu Damar milih buat praktek di Surabaya. Makanya baru aku temuin sama kamu sekarang," Adjie mengakhiri penjelasannya dengan kekehan karir.
Damar yang bisa membaca situasi cukup baik, memutuskan untuk mengikuti gerakan menolak bicara seperti Karin. Ia sangat menikmati momen Adjie yang salah tingkah karena sadar baru saja melakukan kesalahan.
"Dam, ngomong dong," Adjie mencuri pandang kepada Damar lewat kaca spion depan. Tatapannya seperti sedang memohon bantuan dari sahabatnya itu.
"Iya, Rin. Gitu," respon Damar dan berhasil mendapatkan tatapan penuh sumpah serapah dari Adjie. "Ya, intinya, Rin. Kok mau sama Adjie, sih?"
"Sialan juga lu."
Pertanyaan Damar barusan berhasil membuat senyum Karin terukir. Kalau dilihat-lihat, sifat mereka cukup mirip. Apa karena itu mereka bisa bersahabat dekat?
"Udah stempel darah, Dam. Karin gak bisa muter balik apalagi membatalkan perjanjian," canda Adjie namun berhasil mendapat pukulan pada lengannya dari Karin.
"Ngomongnya."
"Nah, itu maksudnya, Rin. Kok bisa tahan dengerin jokes minim kualitas kayak gitu. Seumur hidup loh, Rin."
Benar juga.
Kalau bicara jujur, awalnya pun Karin merasa tidak cocok dengan candaan yang sering Adjie lontarkan. Apalagi kalau sudah menjurus ke hal cheesy nan mesum. Akan tetapi, ia sudah tidak memberikan respon berlebihan lagi akan itu. Entah karena terbiasa atau karena Karin sudah menerima kekurangan Adjie yang itu.
"Lo tuh gue ajak jemput Karin bukan buat nurunin harga pasar gue, Dam," sindir Adjie yang rasa ingin memukul sahabatnya itu sedang memuncak.
"Bro, sebelum janur kuning melengkung. Gue akan terus berusaha menyadarkan Karin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomantizmNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
