Kaki Karin menolak untuk diam. Sedari tadi ia terus menggerakannya naik turun selagi pandangan matanya seperti tidak mau lepas dari layar ponselnya.
Beberapa hari terakhir ini, Karin bisa menobatkan aplikasi kalender pada ponselnya sebagai aplikasi yang sering ia buka. Sehari bisa mencapai lebih dari belasan kali Karin mengamati kotak penunjuk tanggal hari ini supaya tidak bergerak kemana-mana.
Dan hari ini, tepat 10 hari sejak kali pertama Karin melakukan kegiatan ini. Semakin bertambah hari, semakin tidak ada tanda-tanda ia akan datang bulan, maka semakin gelisah pula hatinya.
Setelah merasa cukup dengan ponselnya, Karin meletakan benda pipih itu dan kini beralih pada layar laptop yang berada di depannya, mengetikan sesuatu pada bilah pencarian.
Apa gejala awal kehamilan
Karin terlalu takut untuk menekan tombol enter pada keyboard laptopnya. Bagaimana jika apa yang terjadi padanya beberapa hari terakhi ini akan tertulis di sana?
Ia memutuskan untuk menghapus apa yang sudah diketiknya dan mengubahnya menjadi: Cara mempercepat menstruasi.
Karin rasanya seperti kembali ke masa SMP ketika ia akan pergi Study Tour dan salah satu kegiatannya adalah Wahana Air di tanggal biasanya Karin datang bulan. Maka dari itu, sebelum keberangkatannya, Karin sibuk mencari informasi tentang bagaimana cara mempercepat menstruasi. Dan ia tidak percaya akan melakukan hal ini lagi namun untuk alasan yang berbeda.
"Sayang?"
Karin terlonjak kaget saat merasakan sentuhan pada puncak kepalanya. Terlebih saat sosok Adjie yang muncul di sebelahnya.
"Lagi ngapain, sih? Aku udah manggilin kamu dari depan pintu tadi," protes Adjie. Namun, ia tetap melakukan ritual selepas pulang kerjanya. Memberikan kecupan pada kening, salah satu sisi pipi dan bibir isterinya itu.
Adjie mengintip pada layar laptop, menyunggingkan bibirnya lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol air mineral dingin.
"Masih belum?" Tanya lelaki itu sambil membuka pintu kulkas mereka.
Karin menghembuskan napas panjang nan berat. "Karena stress aja mungkin ya, Mas?"
Setelah mendapatkan sebotol air minum, Adjie segera membukanya. Bersandar pada pintu kulkas yang sudah tertutup. "Butuh jawaban aku sebagai Adjie Suami kamu atau Dokter Adjie?"
Karin bergidik ngeri dengan pertanyaan suaminya barusan. Ia memberikan tatapan membelalak pada lelaki yang kini sedang menahan tawanya selagi ia menegak habis minuman pada botol kemasan tersebut.
"Gak mau bercanda. Yang serius."
"Mau aku ambilin test pack yang kemarin dibeli?" Tanya Adjie berjalan mendekati Karin dan meletakan botol kemasan kosong pada meja bar.
Karin memandangi botol kosong tersebut dengan lesu. "Gak tau."
"Ya udah, kita tunggu lagi sampai besok, ya?" Adjie berkata lembut sambil memeluk tubuh istrinya. Dekapannya erat, seolah ingin menyerap energi khawatir yang menyelimuti Karin, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia miliki. "Siapa tahu, besok kamu udah haid."
"Kalo enggak?"
"Tunggu lagi sampe besok, besoknya, besoknya dan besoknya lagi. Paling tiba-tiba perut kamu membesar," ledek Adjie yang berhasil mendapatkan cubitan pada lengannya.
"Gak lucu!"
Adjie masih terkekeh kecil, ia mencium puncak kepala isterinya dan sekali lagi mengeratkan pelukannya. "Lagian, Rin. Kalo hamil pun gak masalah, kamu punya Suami. Ada yang tanggung jawab."
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
