"Sayangku!"
Karin menjauhkan sejenak ponselnya dari telinganya setelah mendengar pekikan tajam dari Adjie.
"Aku nelpon Mas buat mastiin kalo Mas gak pingsan karena kalo Mas pingsan, yang nungguin aku di depan Altar nanti siapa?"
"Ya diundur aja sampe aku sadar."
"Mas, aku ma-"
"Sayang, i love you. So much! Okay? Mas minta maaf karena kemarin gak pikir panjang sebelum memutuskan cerita sama kamu. Mas janji, next time Mas akan tanya pendapat kamu dulu sebelum bertindak. Maafin Mas ya, Sayang?"
Senyuman Karin terulas perlahan. Hatinya merasa puas mendengar permohonan dan juga solusi yang diberikan oleh Adjie. Dengan kata lain, Adjie tidak hanya membereskan kekacauan yang ia buat, namun, ia juga melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi untuk kedua kalinya.
"Oke, aku maafin."
Terdapat jeda yang cukup lama antara mereka berdua.
Karin sudah tidak tau harus membahas apalagi. Namun, ia juga tidak mau memustuskan sambungan telepon. Sedangkan Adjie, ia menunggu sebuah kalimat keluar dari mulut Karin.
"Rin, udah?"
Karin menautkan alisnya, "apanya?"
Sepertinya Karin memang tidak merasa perlu untuk meminta maaf. Adjie pun tidak ingin mempermasalahkannya karena yang terpenting, suasana hati gadisnya itu sudah membaik.
"How you feel, Babe?"
Pertanyaan itu kembali terlontar. Karin yang suasana hatinya baru saja membaik dan mual yang sedari tadi ia tahan sudah sempat hilang, memutuskan untuk melewatkan pertanyaan itu.
"Mas, nanti lagi aja ngobrolnya. Aku udah dipelototin Leya karena kelamaan nelpon Mas," jelas Karin disertai kekehan.
Mereka berdua pun setuju untuk memutuskan panggilan telepon.
"Pamali, Rin!" Protes Leya yang kini sudah berhasil menyita ponsel milik Karin. "Mintanya kan cuman bales chat, bukan malah jadi telfonan. Setengah jam lagi udah jadi Suami Isteri tau!"
"Tau," imbuh Karin asal walaupun Leya tidak memberikan tanda tanya pada kalimatnya barusan sehingga ia tidak membutuhkan jawaban dari Karin. "Kapan gue bisa turun, Ley?"
Mendengar pertanyaan dari Karin, gadis itu segera berlari untuk mengecek suasana halaman belakang rumah Karin lewat jendela kamar Karin yang mengarah langsung ke tempat di mana acara berlangsung.
"Secepatnya."
Leya bisa melihat kursi tamu undangan yang nyaris terisi penuh dan para pemusik yang akan mengiringi selama jalannya acara sedang bersiap di posisi masing-masing. Dan tepat di atas Altar, seorang lelaki berjas hitam sedang mempersiapkan dirinya.
Senyuman Leya terulas tepat sesaat setelah pintu kamar Karin diketuk. "Kak Karin, lima menit lagi ya!"
Pemberitahuan yang berhasil membuat jantung Karin nyaris copot. Gadis itu kembali mengecek pantulan dirinya pada cermin lemari pakaiannya. Gaun pengantin berwarna putih yang melekat pada tubuhnya ini berhasil membuat senyuman Karin terulas.
Dengan siluet berselubung berhasil menonjolkan lekuk tubuh Karin yang ramping. Bagian favoritnya adalah detail renda pada bagian atas gaun tersebut juga kain tile yang menjadi bagian dari lengan gaunnya.
Sekali lagi Karin mengatur napasnya selagi Leya merapihkan rambut Karin yang ditata dengan indah oleh Nita. Sebagian tergerai dan sebagian lagi dihias dengan aksesoris jepitan kecil berbentuk bunga, sesuai permintaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
Любовные романыNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
