43. Demi Masa Depan

12.3K 571 2
                                        

Kesempatan memang jarang datang dua kali, tetapi jika kita mau berusaha menciptakan ulang peluang yang sama, maka tidak mustahil akan ada kesempatan kedua.

Setidaknya, itulah prinsip hidup yang dipegang oleh Adjie Dwiseno.

Maka dari itu, pada Sabtu pagi—yang bagi Karin terasa terlalu pagi—Adjie memaksa istrinya untuk ikut melihat sebuah rumah yang berpotensi menjadi hunian baru mereka.

"Akhir pekanku gak berasa karena harus bangun sepagi ini," protes Karin, diakhiri dengan mulutnya yang terbuka lebar saat menguap. Matanya menyipit, sementara satu tangan buru-buru terangkat menutupi mulutnya, tapi tetap saja ekspresi lelahnya tidak bisa disembunyikan.

Adjie hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, "demi masa depan, Rin."

Jawaban dari Adjie sukses mendapat tatapan penuh penghakiman dari Karin. Otaknya bekerja mencari korelasi dari kedua hal tersebut. Karin paham betul bahwa memiliki rumah memang berguna untuk masa depan nanti, tapi Karin juga tahu kalau masa depan yang Adjie maksud bukan itu.

Kalau begitu, jika suaminya yang mengatakan demikian, arah pembicaraan itu sudah pasti tertuju pada satu topik mutlak.

"Mas," panggil Karin dengan tatapan tidak percaya akan fakta yang baru saja ia berhasil simpulkan. "Kamu ngajak aku survey rumah sepagi ini biar bisa cepet-cepet pindahannya?"

"Dengerin penjelasan aku dulu, Rin," ucap Adjie yang seperti sedang tertangkap basah. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan seringaiannya itu. "Kemarin itu bener-bener nyaris banget! Ibaratnya kalo di rumah cuman ada kita berdua pasti kejadian. Nah, mumpung kamu udah mulai luluh jadi aku harus memanfaatkan momentum itu dan secepatnya menciptakan kesempatan kedua."

Mendengar penjelasan dari Adjie, Karin benar-benar tidak habis pikir dengan keseriusan suaminya itu. Ia hanya bisa terkekeh kecil menanggapi setiap kalimat yang Adjie coba sampaikan.

"Mas, biasa aja. Gak perlu grasak-grusuk gitu. Ini masih jam delapan pagi tapi kita udah survey rumah. Agen propertinya juga mau aja diajak janjian jam segini, sih?" Karin menggerutu sambil mengambil gelas kopi hasil sogokan Adjie. "Berarti ini survey rumah, kan? Bukan apartemen?"

Adjie mengangguk. Senyumannya kembali terulas lebih lebar dari sebelumnya. "Pokoknya, aku yakin banget kamu akan langsung cocok."

"Kok bisa?"

"Bisa, soalnya waktu itu kamu pernah komentar dan bilang ke aku kalo lingkungannya asri dan kamu suka."

Karin alis tertaut. "Aku udah pernah datengin? Sama kamu?" Mulut Karin terbuka membentuk huruf O tepat saat mobil yang dikendarai Adjie mengarah mendekat pada pagar perumahan yang sangat familiar itu.

"Maksudnya kita jadi tetanggan sama Bang Damar?" Tanya Karin tiba-tiba, saat ingatannya melayang ke kejadian minggu lalu ketika kali pertama Karin mengujungi perumahan ini. "Kamu tuh segitu gak terpisahkan banget sama Bang Damar, ya? Kayaknya kalo gak dijodohin sama aku, pasti udah nyusulin Bang Damar ke Surabaya."

Adjie hanya mengangkat kedua bahunya santai. "Kan, kalo ada tetangga yang udah kenal dengan baik juga memudahkan kita, Rin. Amit-amit nanti kamu butuh bantuan dan aku lagi gak di rumah, tinggal telpon Damar atau Mira. For you own safety juga, Sayang."

Mendengar hal itu, Karin cukup mengerti maksud dan keinginan suaminya itu. Ia juga jadi teringat dengan perjanjian yang dibuat bersama Leya. Kalau mereka akan terus berada berdekatan satu sama lain bahkan Ketika sudah menikah dan punya anak nanti. Tidak sampai situ saja, Leya bahkan bertekad untuk menjadikan anak-anak mereka nanti bersahabat seperti dirinya dengan Karin. Malah kalau bisa, jika anak-anak mereka berlawanan jenis, Leya mengusulkan untuk sekalian saja dijodohkan supaya Impian untuk terus berdekatan satu sama lain itu benar-benar akan terwujud. Karin yakin walaupun saat itu Leya mengatakannya sambil bercanda, tapi keseriusannya tidak boleh disepelekan.

Ah, Karin jadi teringat ibunya dan Mami Gina.

Memang, bisa hidup dekat dan saling terlibat dalam cerita kehidupan sahabat adalah sebuah berkah yang indah.

"Aku juga mau suruh Leya pindah ke sini kalo udah nikah sama Pak Derry," ucap Karin tidak mau kalah.

Secara tidak langsung, ia juga baru saja memberikan pernyataan kalau tidak masalah dan mendukung ide Adjie untuk bertetangga dengan Damar dan keluarganya.

Mendengar nama terakhir disebut, Adjie segera menatap Karin tidak suka. "Menurut aku, kamu jangan terlalu deket lah sama Derry-Derry itu, Babe."

Karin memiringkan kepalanya heran dengan permintaan tiba-tiba suaminya. "Kenapa emangnya?"

Adjie berdeham pelan, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia tidak bisa, dan tidak akan, mengungkapkan rahasia yang Derry percayakan kepadanya sehari sebelum pernikahannya dengan Karin. Ada semacam kontrak tak kasat mata yang terjalin di antara mereka, sebuah janji untuk saling menjaga rahasia itu sampai kapan pun.

Setidaknya, itulah yang dilakukan oleh pria sejati, bukan?

"Mas, kenapa?" Tanya Karin lagi menunggu jawaban dari Adjie. Kini, rasa penasaran Karin semakin meningkat.

"Eh, udah sampe."

Karin memajukan bibirnya mendengar pengumuman dari Adjie, suaminya itu bahkan tidak mau bertanggung jawab atas rasa penasaran yang ditinggalkan. Ia memang tidak bisa menemukan kemungkinan yang bisa jadi alasan Adjie melarangnya untuk dekat dengan Derry. Termasuk rasa cemburu, kemungkinan yang pertama kali Karin buang jauh-jauh dengan alasan Karin sudah menjelaskan pada Adjie saat pertama kali ia sempat salah sangka dengan Derry dan ketika Karin jelaskan bahwa lelaki itu sedang dekat dengan sahabatnya, Adjie lega bukan main bahkan ikut bahagia untuk Leya.

Terus kenapa dong?

"Kalo rumahnya Bang Damar di sebelah mana?" Tanya Karin tepat setelah ia berhasil keluar dari mobil dan memandangi sekelilingnya. Karin masih begitu asing dengan tempat ini karena baru sekali kemari.

Dengan telunjuknya Adjie menunjuk ke arah kirinya, "blok belakang."

"Persis?"

Adjie menggeleng, "blok belakang di cluster sebelah."

Karin menghembuskan napas tidak percaya. Entah apa yang ada di dalam kepala Adjie, terkadang ia gagal menebak.

"Itu gak terlalu deket juga dong, Mas."

Lelaki itu memberikan cengiran lebarnya, "ya, dibanding kalo aku lagi kerja. Lebih deket rumah Damar kan, Rin. Hehe.."

Tahan, Rin.

"Kalo kata Damar di cluster dia udah penuh semua, tapi nanti kita coba tanya sama Mbak Jen, Agen Propertinya."

Karin mengangguk setuju, ia berjalan mengekori Adjie sesaat setelah lelaki itu menggenggam tangannya.

"Pagi, Mas Adjie. Mbak Karin," sapaan ramah itu diberikan oleh seorang wanita yang mengenakan rok dibawah lutut berwarna abu-abu tua dengan atasan blouse biru muda. Rambutnya ia cepol rapih.

Karin tertegun kagum dengan kerapihan wanita tersebut sepagi ini selagi ia melihat pantulan dirinya pada jendela yang terletak di area teras rumah ini.

Celana baggy berwarna cokelat, baju hitam dengan wajah Minnie Mouse yang cukup besar pada bagian depan dibalut dengan cardigan rajut berwarna krem. Rambutnya? Jelas Karin biarkan terurai begitu saja karena masih setengah basah.

"Mbak Jen, thank you, ya? Kita bisa survey pagi gini. Untung waktunya pas," Adjie menyahut. Membuat Karin menghakimi kalimat Adjie dalam hatinya.

Ia masih sedikit kesal karena paginya di akhir pekan yang seharusnya berjalan dengan lambat diganggu hanya karena alasan yang bagi Karin tidak darurat itu.

"Kalo Mas Adjie yang minta, susah ditolak pastinya," wanita bernama Jen itu merespon dengan candaan disertai kekehan genitnya.

Jelas saja, bagi Karin itu adalah sebuah pelanggaran. Layak mendapatkan kartu merah!

Rasanya Karin ingin menarik perasaan kagumnya tadi dan menggantinya dengan sumpah serapah karena sudah berani bersikap terlalu ramah cenderung genit kepada suaminya selagi ia berada tepat di sebelah Adjie.

Gimana kalo aku gak ikut?! Pasti udah glendotan!


Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang