Setelah mengirim pesan tersebut pada Adjie, Karin merasa kelimpungan dengan ritme jantungnya yang meningkat tajam.
Dengan terburu-buru ia membuang ponselnya ke atas ranjang dan segera berlari ke arah jendela kamar untuk menutup gorden demi meminimalisir celah cahaya yang akan masuk ke dalam kamarnya.
Ini adalah kali pertama bagi Karin, sehingga ia merasa perlu memastikan ruangan ini diterangi oleh cahaya yang temaram. Begitu juga dengan pintu kamar mandi yang dipastikan tertutup.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Karin bisa mendengar langkah kaki memburu. Adjie benar-benar tidak mau kehilangan kesempatannya lagi, memikirkan hal itu saja berhasil membuat rasa gugup Karin meningkat.
"RIN!" Teriak Adjie yang bahkan wujudnya saja belum terlihat. "Astaga," ujarnya penuh kekaguman akan apa yang matanya tangkap.
Adjie perlahan menjalan mendekati Karin yang kini sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. Dengan canggungnya berusaha mempertahankan kedua tangannya untuk tidak menutupi area payudara dan kewanitaannya.
Karin menahan malu. Terlebih saat pandangan penuh kekaguman Adjie pada tubuhnya seperti tidak mau lepas. Ini pertama kalinya Karin memperlihatkan tubuhnya pada suaminya.
Setelah empat bulan, akhirnya.
"I won't go easy and this time I won't let you go juga loh, Rin," ucap Adjie lebih lembut dari sebelumnya dan menaikkan sudut bibirnya samar.
Karin menggigit bibir bawahnya penuh rasa gugup setelah mendengar kalimat tersebut. Kali ini memang ia tidak bisa mundur, mau tidak mau, cepat atau lambat, ia memang harus menghadapi hal ini.
Dan sebenarnya, lebih cepat lebih baik, kan?
"Aku juga gak akan mundur lagi kok, Mas."
Kini, Adjie tepat berada di depannya. Memamerkan tubuh tingginya dengan memotong jarak antara mereka dan menempelkan keningnya pada puncak kepala Karin.
Satu tangannya ia letakan pada pinggang Karin selagi tangan lainnya dengan bebas menyapu setiap inci tubuh Karin dengan lembut dan berakhir pada dagu gadis itu. Adjie tidak melepaskan kesempatan itu, ia mengangkat dagu Karin hingga pandangan isterinya tertuju tepat padanya.
Matanya tidak bisa berbohong. Saat Adjie menatapnya dengan sorot penuh gairah, Karin tak mampu menyembunyikan kilauan gugup yang tampak jelas di kedua bola matanya.
Membuat Adjie tidak bisa menahan seringaiannya. "Such a good girl you are, Sayangku."
Karin menelan ludahnya dengan pujian tiba-tiba dari Adjie. Rasanya ia ingin menjawab validasi tersebut dengan menyombongkan betapa layaknya ia mendapatkan julukan Gadis Baik. Walaupun maksud Adjie, bukan baik seperti yang Karin pikirkan.
Adjie menggenggam tangan Karin. Menarik tubuh gadis itu perlahan untuk menurut mengikutinya.
Kali ini Adjie mengambil posisi duduk pada tepian ranjang, menempatkan Karin di sela kedua kakinya. "And now I think I've fallen deeper."
Karin tidak bisa menyembunyikan kerutan pada dahinya ketika ia segera berpikir apakah itu pujian yang bagus atau layak menerima protes.
Adjie memutuskan bahwa inilah saat yang tepat untuk membuka bajunya, melemparkannya ke sembarang arah lalu kedua tangannya kembali menggenggam kedua tangan Karin.
"Up here, Sayang."
Sempat ragu namun pada akhirnya Karin menurut untuk duduk di pangkuan suaminya.
Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus diperbuat selain mengikuti instruksi Adjie.
Adjie segera menangkup wajah Karin, mendekatkannya untuk ia dapat mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Karin yang sedari tadi terlihat memanggilnya. Memberikan kecupan lembut sebelum akhirnya Adjie mulai melumat bibir gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
