Setelah pertemuannya dengan Gina barusan dan kejutan akhir dengan kedatangan ibunya dan Adjie, saat ini Karin sudah berada di mobil Adjie dan mengikuti arahan ibu mereka untuk mengikuti mobil yang berada di depan mereka.
Mobil yang diisi oleh Gina dan Rissa.
"Ada apa, sih, Mas?"
"Gak tau, tapi perasaan aku gak enak."
"Aku juga."
Adjie segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam. Karin bisa merasakan kepanikan Adjie dari tangannya yang terasa dingin itu.
"Mas Adjie kok bisa sama Mama?" Tanya Karin seraya menggenggam balik tangan Adjie dan mengusapnya lembut. Berusaha menghangatkan tangannya yang dingin.
Adjie menggeleng, "ketemu di depan Resto. Waktu Mas masuk, Tante Rissa manggil dari belakang."
"Oh! Speaking of that, Tante Gina udah gak mau dipanggil Tante."
"Terus?"
"Panggil Mami aja, ya, Neng." Sahut Karin mencoba menirukan Gina. Yang mana, berhasil membuat Adjie tertawa kecil.
"Kalo gitu aku juga udah mulai panggil Mama dong, bukan Tante Rissa lagi."
Karin menggedikan bahunya, "terserah kamu. Mau nunggu Mama yang minta atau pede aja manggil Mama duluan."
"Maksudnya?" Dengan cepat Adjie menoleh ke arah Karin dan memberikannya tatapan penuh selidik.
"Apa?"
"Kamu mau ngeledek, kan?" Tuduhnya sambil meremas genggaman tangannya sebagai ganti cubitan yang sebenarnya ingin ia berikan kepada Karin.
Karin tertawa, "mana ada? Aku cuman ngomong."
"Gak percaya tapi yaudah."
Kenapa gemes banget, sih?
"Terus tadi ngobrol apa aja sama Mami?"
"Gak banyak ngobrol, lebih banyak nyuruh aku makan. Karena Mami tau aku habis sakit dan gak napsu makan."
Adjie berdecak kesal, "harusnya aku ikut, tuh. Mana laper banget sekarang."
Dengan satu tangannya yang bebas, Karin mengelus perut Adjie selayaknya itu adalah hal normal untuk dilakukan. "Kasian dedek cacingnya belum dikasih makan."
Adjie tertawa sambil menepuk tangan Karin pelan. "Enak aja cacing. Walaupun napsu makanku gila, tapi dari kecil aku rajin minum obat cacing, ya."
"Jaman dulu emang udah ada obat cacing, Mas?"
"Karin!" Seruan Adjie disertai dengan cubitan gemas pada lengan Karin. "Waktu aku kecil tuh bukan di jaman purba. Manusia udah pada pake baju."
Hari ini peran mereka seperti sedang berganti, Karin yang biasa menjadi korban kejahilan Adjie berubah menjadi tersangka kejahilan. Membuat Karin sadar akan keseruan menjahili seseorang terlebih jika respon yang diberikan cukup meramaikan suasana.
Mobil mereka akhirnya berhenti di depan rumah Karin. Membuat sang penghuni bingung sendiri. Dengan penasaran akan agenda mereka malam ini, Karin lebih dulu turun dan menuju ke dalam rumah. Meninggalkan Adjie yang terlihat membutuhkan persiapan lebih.
Entah kenapa, ia lebih gugup malam ini.
Kerutan di dahi Karin semakin dalam saat ia menyadari bahwa di ruang tamu rumahnya sudah ada beberapa wajah familiar yang menunggunya.
"Aduh calon manten," sapa seorang wanita paruh baya yang sedang menghampiri Karin bersama seorang lelaki yang mengekornya.
Oma Lies dan Opa Robby.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
