Tok! Tok
Ketukan pada meja kerja Karin membuatnya dengan enggan mengangkat kepala yang sedari tadi ia sembunyikan pada lipatan tangannya di atas meja. Saat ini masih dalam jam istirahat, itu sebabnya Karin berusaha tidur sebentar untuk mengisi ulang energinya yang sudah terkuras karena harus mengikuti rapat sejak pagi tadi sampai sejam yang lalu.
"Tumben? Lo sakit, Rin?" Tanya Leya melihat kondisi sahabatnya yang terlihat lemas itu. "Lo gak makan?"
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Karin menyingkirkan tangan Leya dari dahinya saat sedang mengecek suhu tubuhnya. "Kurang tidur doang."
"Kok bisa?" Leya mengambil posisi duduk di lantai berkarpet dan meluruskan kakinya sambil menyenderkan badannya pada tulangan kubikel Karin.
"Begadang. Mas Adjie lagi dinas ke Amerika. Jadinya gue cuman bisa telponan malem waktu dia istirahat," jelas Karin dan setelahnya ia kembali pada posisi menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya.
"Kasihannya," ledek Leya yang bisa merasakan tatapan membunuh Karin bahkan saat ia sedang menyembunyikan wajahnya itu. "Dari kapan?"
"Kemarin lusa sampe besok lusa," sahut Karin dari balik lipatan tangannya. "Udah, jangan ganggu gue. Energi gue nanti gak nambah-nambah."
"Beli kopi aja deh, yuk?"
"Leya Tamara, gu-"
Belum juga Karin menyelesaikan kalimatnya, si empunya nama sudah bergegas pergi meninggalkan tempatnya duduk. Membuat Karin bernapas lega dan melanjutkan pengisian baterai energinya.
Dalam usahanya terlelap, Karin masih belum menemukan posisi yang nyaman karena sekarang tangannya sedang kebas efek dilipat dan diberi beban terlalu lama. Mulai merasa frustasi, Karin memilih untuk menuju Pantry.
Tangannya dengan lihai membuka laci yang berisi kopi kemasan, memilih merek kesukaannya dan segera menyeduhnya. Ia bisa bertaruh jika Leya memergokinya menyeduh kopi setelah dia hampir mengomeli Leya yang mengajaknya beli kopi, gadis itu pasti akan ceramah panjang lebar dan baru selesai dua hari lagi.
"Ngopi, Rin?"
Karin menoleh dan mendapati Derry sedang berjalan memasuki Pantry menuju bak cuci untuk meletakkan gelas bekas pakainya.
Kalau sedang memikirkan Leya tapi yang muncul Derry, Karin menerka-nerka apakah itu bisa dihitung sebagai salah satu pertanda mereka berjodoh?
"Iya, Pak. Butuh kafein. Abis ngopi, Pak?"
Derry menggeleng, "ngeteh, Rin. Saya udah lama gak ngopi."
"Kenapa emangnya, Pak?" Tanya Karin sambil mengaduk kopinya dengan sendok kecil yang baru saja ia ambil.
"One day, setelah ngopi segelas tiba-tiba lambung saya sakit banget. Saya kira emang saat itu aja mungkin karena saya kurang sehat atau gimana. Tapi setelahnya, masih berefek demikian. Jadinya yaudah, saya menyerah berusaha," jelas Derry diakhiri dengan suara tawa.
Mendengar penjelasannya, Karin tersenyum jahil. "Kalo sama doi, belum menyerah berusaha kan, Pak?"
Derry menyenderkan punggungnya pada lemari yang berada di sebelah bak cuci. Menatap Karin yang sedang tersenyum jahil padanya. Pikiran lelaki itu menerawang sejenak sebelum memberikan jawaban.
"Pak, saya tadinya cuman mau ngeledek aja. Kalo dipikirin jawabannya seserius ini, candaan saya jika missed."
Lagi, Derry tertawa. "Singkatnya, belum."
"Gak singkatnya, Pak?"
"Banyak variabel pertimbangannya, Rin," jawab Derry diawali dengan mengangkat kedua bahunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
Roman d'amourNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
