38. Jangan Berhenti Ngomel

10.9K 628 5
                                        

"Aku mau minta maaf," dengan tatapan menunduk dan nada bicara yang lemah, Karin menghampiri Adjie yang sedang berjongkok di depan kopernya yang terbuka lebar.

Adjie mendongak, mendapati ekspresi wajah isterinya dengan penuh rasa kasihan. "Kenapa, Sayang?" Tanya Adjie sambil tangannya menggapai tangan Karin untuk ia genggam.

Karin menunduk makin dalam, ia ikut berjongkok di sebelah Adjie, meniru posisi suaminya. "Hari ini aku banyak tantrumnya," bisiknya pelan.

Mendengar pengakuan polos dari Karin, ia terkekeh kecil. Adjie mengganti posisinya menjadi duduk bersila. Ia menuntun Karin untuk duduk di pangkuannya, yang mana dengan patuh Karin turuti. Dengan posisi duduk menyamping, Adjie mengamankan tubuh Karin dengan melingkari tangannya pada pinggang isterinya itu.

"Mau cerita?" Tanya Adjie dengan nada lembut. Berusaha menjaga suasana hati Karin. "Kenapa bisa tantrum? Kenapa jadi gak mau konsul ke Mira? Dan kenapa tadi minta langsung pulang? Mas mau tau."

Karin memainkan jarinya, ada sedikit rasa gugup dalam dirinya. "Mungkin karena lagi period?" Sejujurnya, Karin pun tidak yakin dengan jawaban yang ia berikan.

Namun, Adjie mengangguk dan mencoba mengerti. "Selalu kayak gini?"

"Itu dia!" Karin merengek, ia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. "Biasanya gak gini! Aku juga kesel kenapa aku bisa kayak gini?" Kali ini ia membuat pertanyaan itu seperti ditujukan untuk Adjie dibanding dirinya sendiri. Karin menatap Adjie dengan tatapan memohon, siapa tau Adjie memiliki jawabannya.

Satu tangan Adjie kini sedang merapihkan helaian rambut Karin yang sedikit menutupi sisi wajahnya akibat berusaha bersembunyi dibalik kedua telapak tangannya. Adjie tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memberikan Karin kecupan lembut di pipi isterinya itu.

"Rin," panggil Adjie, kini tangannya sudah kembali memeluk tubuh Karin. Adjie menaruh dagunya pada bahu Karin, membuat wajah lelaki itu berhadapan langsung dengan telinga Karin.

Untuk sesaat, Adjie memejamkan matanya, keningnya ia sandarkan pada pipi Karin. Mengeratkan pelukannya seolah ia mengharapkan waktu untuk bisa berhenti barang lima menit. Adjie menyukai momen intim ini. Karin, di sisi lain, merasa pelukan itu seperti tameng yang melindunginya dari segala keresahan. Di pelukan Adjie, ia merasa tenang, seolah tidak ada tempat lain yang lebih aman di dunia ini.

Perasaan familiar ini, Karin menyukainya.

"Jangan sering-sering berantem ya, Sayang?" Suara yang pelan itu terlantunkan seperti permohonan. "Kan, lebih enak kayak gini. Mesra-mesraan. Kalo lagi berantem, mana bisa?"

"Kalo gitu, ayo buat kesepakatan," ucap Karin membuat Adjie menegakan tubuhnya untuk memandangi isterinya. Karin menoleh untuk menatap lurus kepada Adjie. "Mungkin, sekarang belum waktunya kita butuh Konselor. Aku maunya diselesaikan antara aku sama Mas dulu aja. Kalo memang terlalu rumit, baru kita cari orang ketiga untuk jadi mediator."

Mendengar penjelasan dan permintaan Karin, ia berpikir sejenak. Ingatannya kembali kepada permintaan Karin saat di rumah Damar tadi untuk segera pulang. Yang mana, dengan segera juga Adjie turuti. Tanpa banyak bertanya.

"O..ke?"

Kening Karin mengernyit, "kedengeran gak yakin."

"Iya, setuju," ulang Adjie lalu mencium pipi Karin gemas dengan protes yang baru saja diberikan. "Kalo gitu, beneran karena lagi dateng bulan aja?"

Okay, balik lagi.

Karin menahan napasnya sejenak, ia memejamkan matanya lalu kembali membukanya disertai dengan helaan napas. "Sebenarnya karena aku juga kepikiran, aku kesel karena Mas terus-terusan bicarain tentang kegagalan masa lalu yang sounds like Mas masih hidup di masa itu."

"I am not," tegas Adjie. Ada nada tidak terima di sana. "Sama sekali gak bener."

Karin merasa tertantang, ia menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap Adjie penuh selidik. "Kalo gitu jelasin, kenapa segala sesuatunya, ketakutan yang Mas rasain itu berputar disitu-situ aja?"

Kali ini giliran Adjie yang menghela napasnya. "Karena, aku takut nyakitin orang yang aku sayang dengan cara yang sama, Rin. Seolah aku gak belajar dari masa lalu itu."

Seketika Karin merasa pusing. Otaknya tidak bisa mencerna penjelasan yang barusan Adjie berikan.

"Aku terus mempertanyakan kesalahan apa yang aku buat sampe bisa mendapatkan pengkhianatan seperti itu. Apa aku kurang berjuang? Apa aku pasangan yang gak seimbang buat dia? Apa sebenernya selama ini dia gak pernah bahagia sama aku? Dan banyak lagi."

Mendengar rincian pertanyaan yang pernah menghantui Adjie itu, hati Karin merasakan nyeri yang luar biasa. Ia tidak terima jika orang yang saat ini paling ia sayangi harus menghadapi ketidakberdayaan itu.

"Gak boleh gitu!" Protes Karin, kalau saja ia bisa bertemu Adjie versi itu, sudah pasti Karin akan berjuang mati-matian memberikan segala yang ia punya agar bisa mengeluarkan Adjie dari lembah kekhawatiran yang menyiksa itu.

"Kamu sangat berharga buat Mas, Rin. Sangat berharga. And i am really sorry, kalo apa yang Mas rasain ini bikin kamu kuatir. Tapi memang Mas setakut itu buat kehilangan kamu. The memories keep coming back and i hate it. So much. Karena yang aku pengen cuman nikmatin hidup aku sama kamu sekarang dan seterusnya. Is it too much to ask?"

Tanpa Karin bisa kontrol, airmatanya berhasil lolos. Rasa sesak di dadanya ketika melihat ketidakberdayaan Adjie sungguh-sungguh adalah bayangan yang menyakitkan buat Karin. Bagaimana bisa orang yang kini menjadi sumber kebahagiaannya merasakan hal yang memilukan seperti ini? Karin tidak terima.

Melihat Karin dengan airmatanya yang tidak dapat berhenti mengalir itu, Adjie tertawa kecil sambil tangannya menghapuskan jejak airmata pada pipi Karin. "Kok jadi kamu yang nangis, Rin?"

"Nyebelin, masih sempetnya ketawa lagi!" Protes Karin sambil memukul pundak Adjie. "Mas juga sebenarnya mau nangis, kan? Tapi malu. Jadi, anggep aja nangisnya aku wakilin."

Karin ikut mengelap airmatanya yang terjatuh lalu memeluk Adjie dengan erat selagi kepalanya ia sandarkan pada salah satu pundak suaminya itu. Seketika rasa sesak yang ia rasakan sedari tadi, berganti dengan kemarahan dan kepercayaan diri yang meningkat drastis.

"Pokoknya, stop ngerasa bersalah. Mas gak boleh hidup dihantui rasa bersalah terus!" Tegas Karin seolah ia lupa dengan kekesalannya pada Adjie yang menurutnya terus mengungkit masa lalu itu. Karin mengangkat kepalanya untuk memandang Adjie. "Harusnya yang ngerasa bersalah cewek itu! Liat kan sekarang? Dia hidup gak jelas di negeri orang. Anaknya yang menanggung kesalahan orang tua, harus dioper sana-sini. Dia kira selingkuh bisa berakhir dengan hidup tenang dan bahagia? Enak aja!"

Adjie tidak bisa menahan kekagumannya melihat betapa semangatnya Karin dalam hal mengomel. Setiap kata yang ia pilih dilontarkan dengan tepat dan tajam. Adjie merasa terwakilkan dengan baik oleh Karin melalui kata-kata yang selama ini ia coba pendam dan tidak berani ucapkan dengan alasan tidak ingin membuat keadaan yang sulit makin runyam.

"Wow, Isteri aku jago banget ngomelnya," puji Adjie penuh kekaguman. Ia bahkan memberikan respon yang dramatis dengan bertepuk tangan. Seolah Karin baru saja memenangkan penghargaan terbaik dan terbesar tahun ini.

Karin tersipu, ia mengibaskan rambutnya dan tersenyum bangga. "Jelas. Keahlian nomer satu aku."

"Ngomel terus ya, Rin? Karena kalo kamu masih ngomel berarti Mas gak perlu kuatir. Tapi kalo kamu udah berenti ngomelin Mas, udah pasti ada yang salah."

"Dan udah pasti salahnya ada di..." Karin sengaja menggantungkan kalimatnya. Memancing Adjie untuk menjawab.

"Di Bi Onah."

Tepukan ringan itu Adjie terima sebagai bentuk protes Karin. "Stop bawa-bawa Bi Onah, Mas." Rengek Karin memohon.

"Ya, gimana dong? Mau bawa kamu ke atas ranjang, tapi kamu masih dateng bulan. Cepetan selesai dong. Udah gak tahan."

"Mas Adjie!!"

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang