39. Permintaan Rutinitas Baru

10.5K 593 5
                                        

"Rin, besok aku masuk kerja."

Sambil menikmati potongan buah segar yang baru saja dihidangkan Bi Onah, Karin ikut mengangguk dengan pengumuman yang Adjie berikan. "Sama, aku juga."

"Iya, Mas juga besok udah masuk."

Terjadi jeda cukup panjang yang membuat Karin tidak nyaman sehingga ia menoleh ke sisi kanannya.

"Besok Mas kerja," ulang Adjie tepat saat ia mendapatkan perhatian dari Karin.

Karin menunjuk dirinya sendiri dengan garpu yang sedang ia pegang, "sama, Mas. Aku juga karena aku gak lanjut ambil cuti, soalnya mau cepet-cepet ngurus resign. Full time wife, here i come." Dengan meniru suara tawa seorang villain pada film superhero yang pernah ia tonton, Karin mengakhiri kalimatnya.

Adjie di satu sisi merasa frustasi, "Rin." Panggilnya kembali. "Besok, Mas kerja."

"Oke? Selamat kerja! Yang semangat kerjanya siapa tau bulan depan naik jadi Direktur."

Mendengar doa yang Karin panjatkan, Adjie mengamini sebelum akhirnya mencubit pipi isterinya itu dengan agak gemas.

"Maksudnya, Mas pengen dibantu siapin."

Untuk sesaat, otak Karin tidak bisa bekerja. Seperti ada malfungsi. "Apanya yang mau disiapin, Mas? Bukan hari pertama kerja, kan? Atau Mas dipindah ke tempat baru?"

Adjie tidak percaya dengan kepolosan Karin ini. Namun, memang bisa saja ini bukan hal yang familiar baginya. "Taking care of me, Sayang."

Click clack!

"Oh, Mas mau aku nyiapin baju, sepatu dan lainnya untuk kerja besok?"

Senyuman penuh harap milik Adjie merekah di wajahnya. "Itu! Ya?"

Karin menahan napasnya dan menghembuskannya dengan berat, "inilah kenapa aku takjub dengan Isteri apalagi Ibu yang bekerja tapi masih bisa mengurus keluarga."

"Kenapa?" Adjie bertanya, pikirannya bekerja mencoba mencari korelasinya.

"Aku aja kalo bangun pagi buat kerja selalu mepet, dan biasanya buat baju aku nyari yang gak lecek biar gak usah minta Bi Onah bantu setrika."

Adjie menelan ludahnya mendengar penjelasan dari Karin.

"Gak boleh ilfeel!" Sergah Karin sambil tertawa setelah melihat perubahan mimik wajah suaminya.

Adjie pun ikut tertawa, itu memang bukan sesuatu yang bisa membuat Adjie ilfeel namun kenyataan bahwa rutinitas pagi mereka berbeda, membuat Adjie harus menyiapkan dirinya.

Ia adalah orang yang cukup disiplin dengan waktu, itu kenapa untuk rutinitas pagi, Adjie selalu melakukan hal-hal biasa yang sudah ia masukan dalam jadwalnya. Bangun pukul lima pagi, berolahraga ringan walaupun hanya sebentar lari pagi, sarapan, mandi lalu berangkat kerja. Dan mendengar bagaimana Karin memulai paginya dengan cukup gegabah, kepala Adjie terasa sedikit pusing.

"Kalau kamu udah jadi full time Wife nanti, dibayangan kamu, akan melakukan rutinitas pagi hari seperti apa?"

Mendengar pertanyaan dari suaminya, Karin tampak berpikir. "Pertanyaan bagus karena yang kepikiran hanya nganter Mas sampe teras, dadah-dadah, nunggu mobil Mas keluar garasi rumah terus tidur lagi."

"Rin!" Adjie tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menepuk ringan kening Karin. Tentu saja korbannya hanya menyengir tanpa merasa bersalah dengan pernyataannya. "Masa gitu?"

"Bisa gitu kalo Mas gak protes, tapi karena Mas protes, jadi mari kita diskusikan. Mas maunya gimana emang?"

"Pertanyaan bagus. Ayo diskusi."
Adjie menarik kursi makan yang Karin duduki untuk memperkecil jarak antara dirinya dengan Karin. "Mas gak masalah kamu bangun lebih lama sedikit dari Mas. Gak masalah juga kalo yang bikin sarapan bukan kamu tapi Mas."

Normalnya, Ini Tidak Normal (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang