Setelah pembicaraan mereka selesai, Adjie urung pamit. Ia mempersilakan orang tuanya untuk pulang terlebih dahulu dan meminta izin kepada Rissa dan Gaudy untuk tetap tinggal sebentar untuk memiliki waktu berdua dengan Karin walaupun hanya sebentar karena waktu terus berjalan dan saat ini hampir tengah malam.
Rissa dan Gaudy tentu saja setuju.
Yang baru saja terjadi pasti cukup mengagetkan mereka. Akan banyak hal yang perlu dibahas dan dikeluarkan keresahannya antar mereka berdua, calon pengantin.
"Gimana?"
Karin menggedikan bahunya, "embrace it. Mau gimana lagi, Mas?"
Adjie mengangguk. Ia membetulkan letak bantal yang menjadi alas kepalanya.
Mereka memutuskan untuk menggelar tikar di halaman belakang sebagai alas tubuh mereka yang sedang menikmati langit malam. Beruntungnya, malam ini cukup bintang yang terlihat di atas sana.
"Tapi, jadi berasa banget perjodohannya," sambung Karin sambil tertawa pelan. Ia memiringkan posisi tidurnya menjadi menghadap Adjie yang masih fokus memandangi langit malam. "Sebelumnya cuman berasa dicomblangin."
"In a good way, kan, Rin?" Tanya Adjie memastikan.
"Very, very good."
"Kadang aku pede banget dengan hubungan kita, tapi ada masanya aku juga ngerasa takut, Rin."
Karin memperhatikan sisi wajah Adjie, ia bisa melihat kerutan yang muncul di dahinya. Dengan jarinya, Karin menelusuri kerutan yang dibuat itu. Berharap kalau ujung jarinya seperti penghapus yang bisa menghilangkan kerutan kekuatiran itu.
"Kenapa?" Tanya Karin dengan jari yang masih bermain di dahi Adjie.
Adjie menggendikan bahunya, ia menatap Karin lekat. "Kalo badanku lagi capek, otakku ikutan. Jadinya, aku mulai diingetin dengan kegagalan masa lalu."
Karin menghela napasnya, ia menarik jarinya dari dahi Adjie. Dengan kepala yang berhasil ia sanggah dengan tangannya, Karin bisa melihat wajah Adjie secara menyeluruh. "Gak boleh gak pede gitu, Mas. Nih ya, pokoknya lusa nanti, waktu kita ngucapin janji pernikahan. Mas harus tau kalo itu bukan kalimat biasa yang asal ucap aja. I mean it."
Kini, Karin kembali merebahkan dirinya dan memandangi beberapa bintang yang terpantau oleh pandangannya. "Pada waktu susah maupun senang, kelimpahan maupun kekurangan, sehat maupun sakit. Aku akan menerima semuanya." Karin merentangkan tangannya pada kata terakhirnya. Ingin memastikan kalau Adjie tahu bahwa segala hal tentangnya akan Karin terima.
Adjie mengetuk dahi Karin dengan punggung jari telunjuknya, "udah hafal aja. Kapan browsing dan ngafalinnya?" Ledek Adjie yang berhasil mendapatkan pukulan cukup keras pada lengannya.
"Aku bukan manusia purba, Mas. Ada teknologi yang namanya film yang menceritakan kisah hidup seseorang termasuk tentang pernikahan. Kalo Mas kan tau janji nikah karena udah pernah."
"Oh, udah bisa ngeledek balik, ya?" Adjie menangkup wajah Karin dengan gemas.
Tentu saja Karin tidak tinggal diam, ia menepuk tangan Adjie beberapa kali sebagai permohonan untuk minta dilepaskan.
"Jangan digituin, nanti aku keliatan jelek."
Adjie mendekatkan wajahnya ke telinga Karin dan berbisik, "pada waktu jelek maupun cantik. Aku siap menerima kamu," ledeknya seperti ingin menambahkan kalimat itu pada janji nikahnya nanti.
"Pada waktu tua dan tambah tua banget," sambung Karin tak mau kalah.
"Heh, belum tentu kamu bisa nyampe umurku ya, Sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
