Adjie menahan keinginannya untuk tertawa, "berati kamu udah siap jualan Tupperware dan barang-barang dari Sophie Martin?"
Bagi Karin, tidak ada hal di dunia ini yang mampu menakutinya selama kedua orang tuanya masih hidup. Begitu pula pertanyaan yang Adjie berikan barusan, membayangkan menjual produk dengan system Multi Level Marketing bukanlah sesuatu yang bisa mengusiknya. Namun masalahnya, itu berarti Karin harus kembali menggunakan otaknya untuk bekerja.
Tentu saja, ia akan menolak dengan keras dan mempertahankan mimpinya yang akan segera terwujud; Pensiun Dini.
"Mas, jangan bercanda, pleaseee." Rengek Karin.
"Namanya hidup, Rin. Jangan kebanyakan serius."
Karin memutar kedua bola matanya. Entah kenapa, topik bekerja memang menjadi cukup sensitif untuknya. Ia juga tidak bisa menggunakan alasan datang bulan. Hanya saja, Karin tidak suka pembicaraan yang memposisikan dirinya sebagai seseorang yang harus bekerja.
Ia menghembuskan napasnya panjang sebelum memutuskan untuk memunggungi suaminya lalu mengambil posisi tidur sambil memeluk guling kesayangannya. Jelas saja hal itu membuat Adjie mengernyitkan dahinya dan segera mengecek keadaan Karin untuk memastikan kalau semuanya baik-baik saja.
"Aku gak mau ngomong sama Mas dulu sampe dua jam kedepan," tegas Karin memberikan ultimatum tepat saat ia merasakan gerak tubuh Adjie yang terasa mendekatinya itu.
Adjie mengumpat dalam hatinya, memikirkan kesalahan apa yang baru saja ia buat. Ultimatum dari Karin membuat gerakan Adjie semakin terbatas, bahkan untuk mengajukan pertanyaan saja ia urung. Tapi, berada dalam jarak yang dekat namun tidak bisa berinteraksi adalah sebuah bentuk penyiksaan yang baru untuk Adjie.
"Sa-Sayang, kenapa gitu?" dengan nada bicara nyaris tidak terdengar itu, Adjie hendak menggapai lengan Karin. "Mas, salah apa?" Tanya Adjie kembali sembari menarik tangannya.
Karin yang tidak kunjung memberikan respon, membuat Adjie makin keringat dingin karena khawatir kalau kesalahan yang entah-apa-itu bisa memberikan efek yang besar.
"Karin?"
Masih tidak ada jawaban.
"Isterinya Mas?"
Adjie baru saja hendak menepuk punggung isterinya kalau saja Karin tidak membalikan tubuhnya secara tiba-tiba.
"Kenapa cuman manggil doang sih, Mas? Emang gak bisa dielus punggung aku? Atau peluk, kek! Kenapa manggil aja?" Protes Karin disertai dengan air mata yang mengembang pada pelupuk matanya dan bibirnya yang ia dorong maju.
Melihat hal itu, Adjie tersenyum lega. Ia segera memajukan tubuhnya untuk membekap Karin dalam pelukannya. "Aduh, gemesnya yang lagi ngambek."
Karin yang nyaris menangis karena merasa kesal dengan pergulatan batinnya sendiri itu mengulas senyumannya. Ia sedang menerima kemenangannya karena memang tidak ada tempat yang lebih nyaman dibanding berada di dalam dekapan suaminya.
Hampir saja Karin kecil muncul dan berbuat ulah.
"Aku gak suka topik tentang kerja, Mas," sambung Karin setelah ia merasa cukup tenang untuk bisa menjelaskan apa yang ia rasakan. "Aku gak masalah kalo Mas gajinya kecil tapi jangan suruh aku kerja, kan masih ada Mama dan Papa yang bisa nafkahin kita."
Adjie tertawa pelan dengan penjelasan yang diberikan Karin, "bener juga. Orang tua kita siap menafkahi if anything bad happen."
"Iya! Makanya gak usah bercanda nyuruh aku kerja lagi, mimpi aku buat pensiun dini gak boleh gugur!" Tegas Karin dengan penuh keyakinan. Ia bahkan sempat memberikan kecupan singkat pada dagu Adjie, bagian dari wajah suaminya yang bisa ia jangkau dengan mudah.
"Jangan cium-cium ngasal, Rin."
Karin mengernyitkan keningnya, "kenapa?"
"Kalo nyium itu harus tepat sasaran," sambung Adjie sebelum akhirnya ia mendekati wajah Karin dan memberikan ciuman hangat tepat pada bibir gadis itu.
Satu tangan Adjie menopang kepala Karin selagi ia membuat ciumannya lebih dalam. Kali ini, ia akan bersikap sedikit egois dengan merapatkan tubuh Karin dalam dekapannya. Memastikan kalau isterinya yang kini berada tepat di bawahnya itu tidak memiliki kesempatan untuk berontak.
Karin, dengan degupan jantung yang semakin liar itu memutuskan untuk memejamkan matanya dan menyerah diri untuk mengikuti permainan Adjie. Kedua tangannya terkunci di antara tubuh Adjie dan permukaan ranjang yang menjadi alas mereka. Begitu juga dengan kakinya yang segera terjebak dan terapit rapat oleh kedua kaki Adjie. Keningnya sempat mengernyit, pikirannya terpaku pada betapa cekatannya Adjie memastikan tubuhnya tak mampu bergerak untuk melawan.
Adjie bahkan tidak memberikan jeda pada ciumannya sehingga Karin sudah tidak terpikirkan lagi untuk melakukan protes melalui teriakan.
Tepat saat napasnya terasa nyaris habis, Adjie melepaskan ciumannya. Keningnya ia tempelkan pada kening Karin. Dengan napas yang memburu, Adjie menatap Karin sambil menyeringai selagi gadis itu sedang mengatur ulang kembali napasnya.
"Mas-ohh!" Kalimat Karin terpaksa terhenti saat tiba-tiba Adjie bergerak melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi mengunci Karin untuk ia bawa ke dalam baju Karin dan menelusuri setiap inci bagian kulit Karin.
Membuat Karin terlonjak kaget saat kedua tangan dingin itu menyentuh area perutnya. Terlebih saat Adjie mengecup basah kedua sisi leher Karin. Setiap bunyi kecupan yang terdengar berhasil membuat irama jantung Karin berdegup dua kali lebih cepat.
Peduli setan dengan menggunakan bibirnya sebagai bentuk protes supaya Adjie menghentikan kegiatannya, Karin bahkan menutup rapat kedua bibirnya untuk mencegah desahan keluar. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya setiap kali Adjie berhasil memberikan kenikmatan tak kasat mata itu pada dirinya.
Adjie mengangkat sedikit baju Karin hingga membuat area perut gadis itu terekspos. Dan seperti belum puas memberikan kecupan pada leher Karin, kali ini Adjie beralih pada area tubuh Karin yang terekspos itu. Ia menundukkan wajahnya, mengelus perut Karin sambil sesekali memberikan kecupan hangat yang dalam. Karin memejamkan matanya kuat, sensasi geli yang badannya rasakan memberikannya kenikmatan yang belum pernah ia alami.
Lelaki itu memeluk perut Karin, memejamkan kedua matanya. Menikmati sensasi Ketika kulit pipinya bertemu dengan kulit Karin yang terasa lembut itu. Hidungnya bahkan bisa menangkap aroma tubuh Karin yang secara samar bercampur dengan lotion yang biasa ia pakai sebelum tidur. Wangi yang kini sudah biasa Indera penciumannya rasakan.
Merasa cukup puas dengan itu, Adjie mengangkat tubuhnya. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah Karin selagi kedua tangannya menopang tubuhnya yang kini berada tepat di atas isterinya itu. Satu tangan Adjie ia gunakan untuk merapihkan rambut Karin yang beberapa helaiannya menghalangi area samping wajahnya. Menyelipkannya ke belakang telinga Karin.
Adjie menatap Karin cukup intens. Membuat gadis itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menggigit bibir bawahnya lagi.
"Boleh dilanjutin gak, Sayang? Promise, I'll be gentle."
----
Ha
Ha
Ha
Ha
Gimana?
Anyways! So sorry that it took so long buat update lagi (hampir seminggu, rekor!) aku gak ada tabungan part plusssssss akhir tahun tuh memang tidak mengenal kata santai yaa hadeuuuh..
Yuk, semangat!
Gak usah nungguin part berikutnya, nikmatin dulu aja part ini LOL
Enjoyyyy reading mantemansss 🫶🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Normalnya, Ini Tidak Normal (END)
RomanceNormalnya, perjodohan adalah hal yang paling dihindari. Siapa juga yang suka diatur hidupnya? Terlebih dalam hal memilih pasangan hidup. Seseorang yang akan menemani kita seumur hidup. Maka dari itu, harus teliti dalam hal menyeleksi. Tapi bagi Kari...
