SELESAI

882 13 0
                                        

Assalamu'alaikum, kembali lagi untuk terakhir kalinya 😊











Saya, sebagai penulis akan memberikan satu part lagi. Mungkin part ini untuk terakhir.











Terima kasih sudah memberikan vote dan komen ☺️











Tandai typo!











Happy reading

•••

Di gendongan papanya, Mahen tidak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan abang pertama.

"Papa, itu ada olang yang milip Abang Laven," beber Mahen menunjuk kerumunan orang yang ikut wisuda bersama sang papa.

Satria pun melihat arah tunjuk anak bungsu. Dia mengerutkan dahi saat tidak menemukan orang yang dimaksud Mahen.

"Mana, nak? Gak ada, tuh," kata Satria menyipitkan mata sambil celingak-celinguk mencari orang tersebut.

"Di situ adi, Pah. Olangnya dah pelgi ke ana," jawab Mahen, melihat orang yang mirip Raven sudah pergi memasuki kerumunan orang-orang itu.

Satria menatap sang istri yang menganggukkan kepala. "Udah, bukan siapa-siapa. Mahen jangan dipikirin, ya," kata Satria mengelus rambut sang anak sambil memutar kepala Mahen agar tidak melihat ke belakang terus.

"Apa Bang Vion? Kalau iya, kenapa enggak nyamperin?" batin Satria menduga orang yang dilihat Mahen itu ayah kandung Raven sembari melihat anak tirinya.

"Ih, adahal adi ada olang yang ayak Bang Laven," gerutu Mahen merasa papa dan mama tidak percaya sama ucapannya tadi.

"Ih, Mahen tukang bohong! Malas lah, aku main sama adek."

Mendengar dirinya diejek abang kembarnya, Mahen memberontak minta diturunkan dari gendongan Satria.

"Kulang ajal, Inno!" jerit Mahen mulai memukuli Vinno yang kurang ajar itu.

Vinno yang dipukuli sama adik kembarnya, tidak tinggal diam. Balita satu itu balik mukul Mahen.

"Nih, ambil nih!" Sambil memukul kepala Mahen. Dari suaranya, sangat terdengar pukulan Vinno keras ke kepala sang adik. Satria aja yang mendengar sampai meringis kesakitan dan dia menduga kalau anak bungsunya akan mengaduk pusing nanti malam.

"Ck ck, memang adik not akhlak," kata Raven geleng-geleng kepala dengan melipat tangan di depan dada.

Bukan hanya Satria saja yang pusing saat anak kembar itu bertengkar, tapi Raven juga sama. Setiap dia di samping sama adiknya, udah pasti adik kembarnya akan gaduh.

Satria dan Elysia diam di tempatnya. Mereka tidak akan memisah anak kembar itu karena sebentar lagi salah satu dari balita itu akan menangis. Itu yang mereka pikir.

"Vinno!" teriak Mahen dengan bibir dimajukan ketika kehabisan tenaga memukuli abangnya sekaligus kecapekan menghalangi sang abang yang terus memukul kepalanya.

"Saya, adekku," sahut Vinno menjulurkan lidah mengejek sang adik.

Saat Mahen mau memukulnya lagi, Vinno melotot. Agar tak kena pukulan yang luar biasa dari adik kecilnya, dia pun lari dan tanpa diduga Mahen malah mengejarnya balik..

Alhasil mereka kejar-kejaran dengan mengabaikan situasi yang ramai akan keluarga para wisudawan yang lainnya.

Satria dan Elysia melototkan mata ketika mendapatkan kedua putra mereka berlari.

Si Bungsu Punya Istri (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang