Salsabila Lirabiha, seorang gadis yang dikenal karena kebaikan hatinya, namun menyimpan sisi pendiam yang misterius. Di tengah kesunyiannya, hadir Areksa dan Aksara, si kembar ceria yang bagaikan matahari kembar, selalu berhasil menyinari hari-harin...
"Ya kagak lah, kenapa emangnya?" seru Salsa karena walaupun ia merasa lelah ia harus hidup.
"Gua mah capek banget, sal!" sahut Keyla karena ia sudah kesal dengan hidupnya.
"Pen bundir, sumpah!" seru Saskia berteriak.
"Mau secapek apapun kita dalam hidup ini, kita harus menghadapi tantangan yang ada dalam dunia ini, walaupun terkadang kita capek atau lelah, kita juga jangan sampai mau kalah sama perjuangan kita dulu!" ujar Salsa sambil menasihati nya.
"Lagian, kalo kita mutusin buat bundir, kita nggak bakalan tahu kalau suatu saat kita bakalan sukses, gimana kalo semisalnya kita nanti tiba-tiba jadi CEO, gimana terus kita mutusin buat bundir, eh nggak jadi sukses deh kita, jadi mau gimanapun itu, kita harus menghadapi tantangan dunia ini, gua mohon sama kalian buat tetap bertahan, jangan pernah menyerah!" lanjut Salsa karena seharusnya ia bertahan hidup.
"Ya, makasih atas nasihat lho, sal!" seru Keyla tersenyum.
"Sama-sama!" jawab Salsa dengan ramah.
Bel pulang tiba Neeeeet
"Sal, yuk kita ini pulang bareng!" teriak Areksa membuat Salsa merasa risih.
"Yaudah, ayok!" jawab Salsa berlari ke arah nya.
"Dih, kejam, gua kagak di ajak!" seru Aksara dengan sinis.
"Yaudah, kita pulang bareng bertiga, kan pada naik motor masing-masing, kan?" seru Salsa mengajaknya untuk berpulang bareng.
"Woi, gua mau pulang bareng sama lho, pada!" sapa Avana dan Hinata secara bersamaan.
"Yaudah, yok kita balap yah!" ujar Salsa dengan senyumannya yang nakal.
"Yeah, gua menang karena gua udh sampe rumah!" seru Salsa dengan kebanggaan nya.
"Yaudah, bay, gua masuk dulu!" ujar Salsa karena ia sudah sampai rumah.
"Dah, curang lho!" seru Areksa dengan sinis.
Salsa memasuki rumahnya. "Bagus anak perempuan ikut balap!" bentak sang ayah membuat Salsa terkejut.
"Tapi kan, yah, Salsa ikut balap cuman kemarin doank!" jawab Salsa dengan pelan.
"Udah berani nakal sekarang!" teriak sang ayah karena seharusnya Salsa menurut tentang apa yang dikatakan nya. Sang ayah menampar lalu memukuli Salsa dan mengurang nya kedalam kamar.
"Gua capek, yah, harus diginiin terus!" seru Salsa berteriak.
"Diam kau, anak pembawa sial!" jawab sang ayah membuat Salsa terdiam.
"Ayah, kapan mengakui aku sebagai anak ayah, kapan yah? Kalo semisalnya ada yang terjadi di masa lalu, Salsa mohon jelasin biar Salsa tahu kesalahan Salsa!" teriak Salsa menangis.
"Kau telah membuat putraku koma!" gumam sang ayah dengan nada pelan.
"Tapi kan, yah, bukannya aku anak tunggal, dan siapa putra ayah?" tanya Salsa dengan heran.
"Sudahlah, aku tidak ingin berbicara dengan mu, anak pembawa sial!" ujar sang ayah terdiam.
"Aku capek, yah, capek harus berantem mulu sama ayah, aku pengen damai, kenapa susah?" bentak Salsa dengan kesedihannya.
"Diam kau, anak. Pembawa sial, kau tidak berguna di dunia ini!" ujar sang ayah menyuruh nya diam. "
Kenapa ayah nggak bunuh Salsa aja yah? Salsa capek!" teriak Salsa dengan kesal.
Tanpa aba-aba, ayahnya langsung mengurungnya di kamar nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah yang biasa dijadikan sebagai tempat berteduh dan saling memberikan kasih sayang untuk keluarga, malah menjadi luka yang sangat besar untuk seorang anak. Biasanya, rumah dijadikan sebagai tempat di mana anak itu berbagi tawa dan bahagia, malah menjadi tempat di mana anak itu mengalami kesedihan dan juga kepedihan. Di mana anak itu tidak mengalami kebahagiaan dan juga kesenangan, dalam rumah itu hanya ada luka yang dalam bagi seorang anak, karena selalu dibandingkan oleh kedua orang tua.