Pagi itu, aula olahraga yang luas mulai dipenuhi suara gemerincing pedang dan langkah kaki para atlet. Freya berjalan masuk dengan tenang, mengenakan seragam anggar berwarna putih yang rapih. Ia melirik Jade, yang sudah ada di sana, duduk di bangku sambil memasang pelindung kakinya. Jade melambai ketika melihat Freya datang.
"Heh, telat, ya?" Jade menggoda dengan senyum, menyeringai sedikit.
Freya mengangkat bahu. "Bukan telat, cuma nggak secepat lo aja," jawabnya, lalu segera duduk di samping Jade. Ia mengeluarkan masker anggarnya dari tas dan mulai mempersiapkan diri.
Latihan dimulai dengan beberapa gerakan pemanasan di bawah arahan pelatih. Para anggota tim membentuk barisan, mengikuti instruksi dengan serius. Jade, yang sudah terbiasa, bergerak dengan ritme yang terlatih, sedangkan Freya tetap fokus, memusatkan pikirannya pada setiap gerakan.
Setelah pemanasan, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk latihan sparring. Freya dipasangkan dengan Jade, dan keduanya saling memasang masker anggar mereka, memperlihatkan mata yang penuh semangat.
"Jangan gampang nyerah, Frey," ucap Jade dari balik masker, mencoba memprovokasi.
Freya hanya tersenyum tipis, lalu mengambil posisi, pedangnya teracung dengan mantap. "Lo yang hati-hati, Jade. Kali ini gue nggak bakal kasih ampun," balasnya.
Latihan berlangsung intens. Pedang mereka saling beradu, menciptakan bunyi dentingan yang menggema di aula. Setiap gerakan terukur, penuh taktik, dan Freya menunjukkan kemajuan pesat, tak membiarkan Jade mendominasi.
Di sisi aula, anggota tim lain juga terlibat dalam sparring mereka masing-masing. Sorakan dan instruksi pelatih terus terdengar, menciptakan suasana kompetitif yang memacu adrenalin.
Setelah beberapa ronde, Jade tertawa kecil di balik maskernya, terengah-engah. "Gila, lo beneran makin jago aja, Frey," katanya, mengakui keunggulan Freya dalam beberapa serangan terakhir.
Freya melepaskan maskernya, keringat membasahi dahinya, tetapi wajahnya tampak puas. "Gue kan udah janji buat nggak ketinggalan," katanya, tersenyum lebar.
Mereka berdua duduk sebentar di tepi aula, mengatur napas sambil melihat teman-teman lain yang masih berlatih. Jade menyikut Freya dengan ramah. "Habis ini, kita makan bareng, ya?"
Freya mengangguk, merasa energinya pulih sedikit demi sedikit. Latihan pagi itu memang melelahkan, tetapi juga penuh semangat. Dan bersama teman-teman satu tim seperti Jade, semuanya terasa lebih berarti.
Setelah mengatur napas sejenak, Freya menoleh ke Jade dan tersenyum kecil. "Tapi, gua mau ngomong sama Pak Joheender dulu," katanya, matanya memandang ke arah ruang pelatih, tempat Pak Joheender Vaanas biasanya memberikan arahan atau diskusi kepada anggota tim yang membutuhkan bimbingan khusus.
Jade mengangguk mengerti, sambil meneguk air mineralnya. "Oke, nanti gue tunggu, ya," balasnya santai, memberi Freya waktu yang dia butuhkan sebelum mereka menikmati makan siang bersama.
Freya melangkah pelan menuju ruangan Pak Joheender, rasa berat yang menekan dadanya seakan semakin menyesakkan. Ia menggenggam erat tali tasnya, seperti berharap pegangan itu dapat memberikan sedikit keberanian. Setibanya di depan pintu kayu yang bertuliskan "Pelatih Joheender Vaanas," ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikiran yang terus berkecamuk.
Setelah mengetuk pintu tiga kali, suara dari dalam mempersilakannya masuk. Freya membuka pintu dengan perlahan, langkahnya sedikit ragu, namun wajahnya tetap berusaha tenang. Pak Joheender tengah duduk di balik meja kayunya, sibuk membaca laporan sambil sesekali menuliskan sesuatu. Begitu melihat kehadiran Freya, ia meletakkan penanya, matanya tertuju penuh perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
SMP Floor 1997
Teen FictionSMP Floor 1997-- "Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang keadilan." • Joebartinez, 1910, setelah penegakkan hukum yang dianggap kurang adil dalam kematian Gartinez. Cerita ini mengikuti kehidupan sekelompok remaja di SMP Flores, sebuah sekolah yan...
