Kring! Kring!
"Udah dong, Dodi. Kamu jangan nangis terus karena aku jadi bingung harus ngapain." ujar Meisya kala teman sekelasnya menangis tanpa henti.
"Apa yang harus saya lakukan? Saya sungguh bingung, wahai saudari Meisya." tangis Dodi semakin menjadi.
"Kamu pasti bisa kok, yakan Fani?" tanya Meisya meminta Fani untuk ikut bersuara.
"Iya, santai aja kenapa sih. Lagian cuma disuruh roll depan doang, masa gak bisa?" kata Fani yang sudah pening tujuh keliling.
Ternyata tadi bel istirahat sudah berbunyi di setiap sudut sekolah. Olahraga memang bukan mata pelajaran kelas mereka hari ini. Tetapi mengingat Dodi sendiri belum mengambil nilai untuk diisi di rapot nanti, membuat guru mereka meminta Dodi segera melakukannya pada jam istirahat.
"Wahai saudari Meisya dan Fani yang tersayang. Saya sengaja tidak bersekolah pada hari pengambilan nilai, dikarenakan saya tidak bisa roll depan." jelas Dodi yang sudah sangat ketakutan. "Entah apa yang akan terjadi, bisa-bisa tulang belakang saya akan mengalami keretakan atau mungkin leher saya akan terkilir?" lanjutnya histeris.
"Ya ampun, Dodi. Lo disuruh roll depan, bukan ikut perang dunia!" kesal Freya memegangi kepalanya yang nyeri. Sudah sakit mendengar cara Dodi berbicara, ditambah khawatir berlebihan Dodi yang tidak tertolong.
"Lagian kenapa mendadak banget deh? Bukannya si Dodi juga nggak bawa baju olahraga?" ucap Fani.
"Iya betul, makanya Dodi harus pinjam sama anak IPS yang sekarang ada mata pelajaran olahraga." ujar Meisya bantu menjawab.
"Terus tunggu apa lagi? Sana lo pinjam baju olahraga ke anak IPS, ngapain malah nangis? Nanti keburu bel masuk." suruh Freya kepada Dodi.
"Tetapi saudari Freya, saya takut-"
"Di..." panggil Freya pelan namun suaranya terdengar berat. Suasana berubah seperti di film horor, Dodi melihat awan hitam tebal mengerumuni gadis tersebut. "Gue mau pergi ke kantin. Mau makan. Mau minum. Tapi Meisya gak tega ninggalin lo nangis kaya bayi gede sendirian, jadi berhenti merengek dan pinjam baju olahraga sekarang!" teriak Freya tambah membuat Dodi menangis.
"Ya ampun, Dodi. Lo bukan anak umur lima tahun!" stress Freya.
"Kalau gitu gue keluar duluan ya. Soalnya mau ambil buku paket di ruang guru." pamit Fani. Dari pada ikut pusing melihat kelakuan Dodi, lebih baik mengurus urusannya sendiri.
"Fani aja sampe pergi karena lo!" ujar Freya asal.
"Kamu yang sabar. Mungkin Dodi emang benar ketakutan." kata Meisya mengelus pundak Dodi.
"Apa yang harus ditakutin, Meisya? Roll depan, bukan hantu."
"Aku punya usulan. Mending gini aja, Freya. Tolong kamu pinjamin baju olahraga Aksa ke kelasnya. Tadi aku udah kirim pesan, dia bilang datang dan langsung ambil aja." ujar Meisya memberikan sebuah ide yang langsung ditepis kasar oleh Freya.
"Dih, kenapa harus gue?!" tolak Freya.
"Tolongin Dodi."
"Gak dulu. Makasih." Freya masih menolak sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Memang hanya saudari Meisya yang peduli terhadap Saya. Saudari Freya jahat sekali. Kenapa kalian bisa berteman? Bagai bawang merah dan bawang putih!" kata Dodi sesegukan.
"Diam ya, bawang bombay." cerca Freya.
"Atau aku aja yang ambil bajunya tapi kamu tetap di sini temanin Dodi."
"NGGAK!" jawab Freya sangat cepat. "Sekarang gue yang minta tolong, Sya. Jangan pernah tinggal gue berdua sama manusia satu ini, gue masih mau jadi orang waras." kata Freya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Roman d'amour[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
