Setelah bertarung dengan debu di gudang seorang diri. Akhirnya Freya dapat bernapas lega, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri memerhatikan setiap koridor sekolah. Nampaknya Freya sedang mencari Meisya dan juga Naila.
Semakin Freya pandang sekitarnya. Semakin terasa aneh. Beberapa murid menatapnya, walau sudah biasa menjadi pusat perhatian karena kelakuan randomnya, tetapi kali ini terasa berbeda.
"Ada apa sih?" gumam Freya semakin bingung.
"Freya!" panggilan yang kencang hingga menggema.
Mendengar itu Freya berbalik badan ingin mengetahui siapa seseorang yang memanggil namanya.
"Kenapa lo?" tanya Freya tak santai kala melihat wajah Kenzo.
"A-ada yang mau gue tanya ke lo." ujar Kenzo terdengar ngos-ngosan. Dan juga terdengar 100% serius, tak ada nada mengejek atau ingin mencari keributan seperti biasanya.
"Apa?" tanya Freya menunggu.
"Jadi gue mau tanya-"
"Lo udah bilang kalau lo mau tanya sesuatu, jadi apa pertanyaannya?!" marah Freya.
"Sabar! Gue lagi nyusun kata." sesaat Kenzo hendak membuka mulutnya kembali. Meisya datang bersama Naila.
"KENZO!" teriak Meisya kemudian menghampiri keduanya, tak lupa Naila setia berjalan di samping gadis tersebut.
"Meisya... Naila..." gumam Kenzo kicep.
"Hal apa yang mau lo tanya ke gue, Zo?" sadar Freya tak menanggapi kedatangan dua manusia tadi, memilih kembali ke topik utama setelah sempat melihat siapa yang datang.
"Nggak ada kok." yang jawab bukannya Kenzo, melainkan Meisya. "Kenzo pasti cuma mau meledek dan ganggu, jadi sebelum Kenzo rusak mood kamu mending kita pergi." lanjutnya.
"Betul." ujar Naila menambahkan. "Kenzo bukannya udah ditunggu Aksa di kantin?" kata Naila kepada Kenzo.
"Ng-iya. Gue lupa." cengenges Kenzo menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Kalau gitu gue duluan deh ke kantin, bye guys!" kata Kenzo gelagapan menerimanya. Segera ia melesat pergi bak jurus seribu bayangan.
"Lo berdua kenapa? Biasanya gak mau ikut campur kalau gue debat sama Kenzo." kata Freya mulai melangkah pelan menuju gerbang utama sekolah. Diikuti oleh Meisya dan Naila yang menggaruk tengkuk leher mereka karena terlalu gugup.
"Gak papa, Freya. Cuma kadang kan jahil Kenzo suka berlebihan. Dari pada nanti suasana hati Freya berubah buruk, kita ikut kena juga dampaknya." kata Naila.
"Kamu kaya nggak tau aja. Kenzo kan emang suka gitu, paling dia cuma mau ngeledek kamu doang, liat kamu marah-marah udah jadi hobi Kenzo." jawab Meisya dengan senyum canggung.
"Bahkan Kenzo belum bilang apa pertanyaannya, Sya."
"Tapi kita udah punya firasat, Freya. Benerkan, Meisya?" sambung Naila meminta bantuan dari Meisya.
"Be-benar banget."
Freya berdecak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya heran, ada saja kelakuan mereka. Kadang membuat emosi tetapi kadang juga menggelitik hati.
Tetapi sampai detik ini tanda tanya yang menghantui pikiran Freya belum juga hilang. Tanda tanda menggantung di kepalanya dan akan musnah hanya jika semuanya telah terjawab.
Tentang tatapan para murid, sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan berbeda dari beberapa jam lalu.
"Frey, kamu ikut kita aja, yuk? Kita mau ke... ke mana, Nai?" tanya Meisya berpikir di akhir kalimat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Novela Juvenil[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
