Suara lonceng di atas pintu cafe berbunyi. Jordan dan Freya memasuki tempat tujuan mereka, Freya yang melepas terlebih dahulu seragam kerjanya sedikit membuat Jordan terpukau. Dengan penampilan kasualnya membuat Freya terlihat sangat amat cantik. Sederhana, namun memesona.
"Nanti kalau ada yang kenal sama gue, gimana? Mereka tau kalau gue karyawan di tempat lo. Rencana kita bisa kebongkar!" ujar Freya berbisik sedikit keras kepada Jordan.
"Ini bukan kriminal, Frey. Teknik berdagang. Gue cuma pengin tau tingkat kenikmatan hidangan di sini. And you're not even that famous so chill." jawab Jordan santai. Tidak seperti Freya yang berlagak bak detektif di sebuah film.
"Iya sih." gumam Freya menjawab.
Jordan menarik sebuah kursi. Tetapi yang membuat Freya terkejut adalah, cowok itu menarik kursi tadi untuknya. "Silahkan." goda Jordan tersenyum manis.
"Cocok jadi pelayan." canda Freya hingga Jordan memutar bola matanya malas.
"Selamat siang, Kak. Mau pesan apa?" seseorang datang menghampiri keduanya seraya menyungging senyuman. Terlihat Jordan yang memerhatikan cowok di hadapannya dari atas sampai ke bawah.
"Jangan bilang lo suka sama dia." bisik Freya menyenggol lengan Jordan.
"Otak lo udah geser. Gue lagi merhatiin seragamnya. Masih bagusan punya kita, kan?" tanya Jordan ikut berbisik.
"Setuju. Apalagi yang pake gue, makin bagus dan cantik." tidak akan pernah berubah. Sifat terlalu percaya diri Freya yang sudah tak dapat tertolong lagi. Padahal gadis itu sering meledek Samuel tetapi ternyata level percaya diri mereka sama rata.
"Saya dan istri mau pesan hidangan terbaik di sini. Semuanya tanpa pengecualian, Mas. Terima kasih." kata Jordan mendapat anggukan paham.
"Baik. Ditunggu untuk pesanannya." ujarnya kemudian pergi membawa catatan pesanan.
"JIJIK, KAK!" marah Freya kala pelayan tadi sudah tak terlihat.
"Biar dia makin yakin dan supaya gak ada yang curiga sama kita juga, Frey." ujar Jordan memberi asalan mengada. "Santai, Frey. Ini semua kan cuma pura-pura." lanjut Jordan.
"Terserah deh, lo atur aja." pada akhirnya Freya hanya mengiyakan dan memilih untuk tak menghiraukannya lagi. Keduanya menunggu pesanan mereka datang.
"Asik makan-makan!" girang Freya yang sudah tak sabar.
"Kalau kurang lo boleh tambah dan pesan apa aja. Gue yang bayar." ujar Jordan menepuk dadanya bangga.
Keduanya masih menunggu makanan dan minuman, mengobrol dan bertengkar sudah menjadi hobi baru untuk Freya dan Jordan. Jordan mengaku bahwa tempat ini lumayan bagus dan ramai sekali pengunjung, apalagi cafenya masih terbilang baru. Sedari tadi pengunjung tidak berhenti masuk dan mengisi setiap sudut serta menikmati hidangan mereka.
Sampai pada akhirnya. Pesanan datang.
"Mau lo atau gue duluan yang coba makanannya?" tanya Jordan menelan salivanya kasar, terlihat sangat amat menggiurkan.
"Barengan?" kata Freya dan Jordan setuju.
Berbarengan Freya dan Jordan memakannya dengan gerakan cepat. Satu suapan telah mereka kunyah. "Masih hidup, Frey?" tanya Jordan dengan tatapan kosong.
"Sumpah. INI ENAK BANGET!" ujar Freya berteriak.
Keduanya menatap satu sama lain. Bukan tatapan biasa tetapi dengan tatapan memangsa.
"Punya gue!"
"Lepas tangan lo dari piring ini!"
"Gue yang bayar jadi ini punya gue!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
