#14 permen

296 25 0
                                        

Untuk pertama kalinya, Freya datang ke rooftop sendirian. Tadi di kelas, Aksa bilang kepadanya bahwa tempat ini adalah tempat terbaik di sekolah untuk menenangkan diri dan pikiran.

Dan ya, ternyata itu benar adanya. Tidak terlalu buruk.

Saat sedang menikmati angin di siang yang tidak terlalu panas, Freya mendengar seseorang datang.

"Kenapa lo ikut ke sini, Sa? Gue mau sendirian dulu." ujar Freya lalu menoleh. Oh sial, itu bukan Aksa melainkan Saguna.

"Oke. Gue balik ke kelas." ujar Saguna berbalik.

"Jangan! Gue kira lo itu Aksa." kata Freya menarik ucapannya. Jadi Saguna itu pengecualian? Padahal kalau mau sendirian dulu, harusnya siapa saja yang datang tidak berpengaruh.

Mendengarnya, Saguna kembali. Saguna duduk sedikit lebih jauh dari Freya, lebih tepatnya di sofa lapuk yang sengaja ditaruh di rooftop sekolah.

"Lo kenapa ke sini?" tanya Freya. Apa jawaban yang sedang Freya harapkan? Menginginkan Saguna menjawab kalau cowok itu datang untuknya? Sangat tidak mungkin.

"Lo ada di tempat gue dan Liberios." jawab Saguna. Menandakan bahwa seharusnya ia yang bertanya. Lagi pula dari tadi pagi Saguna tidak bersama Aksa dan yang lainnya. Jadi ia datang ke sini karena kehendaknya sendiri.

Freya merutuki dirinya. "Aksa yang bilang kalau gue boleh ke sini, dan-"

"Bebas. Lo boleh ke mana aja yang lo mau. Bukan urusan gue." ujar Saguna menyenderkan kepalanya. Mengistirahatkan tubuhnya sebentar.

"Lo gak keganggu kalau gue ada di sini?" kata Freya to the poin dan sedikit hati-hati.

"Enggak, selagi lo diam di tempat. Dan gak teriak-teriak kaya biasanya."

Tak ada alasan untuk pindah tempat. Freya kembali memusatkan perhatiannya kepada pemandangan. Freya mulai merasa sangat tenang. Sunyi dan sepi. Bahkan seketika Freya lupa tentang Saguna yang juga berada di sini.

Tetapi tiba-tiba cowok itu melemparkannya sesuatu. Freya menoleh dan mendapati permen yang tadi mengenai bahunya, rasa stawberry. Rasa kesukaannya.

Freya tersenyum melihat Saguna yang juga tengah mengunyah permen di mulutnya.

"Jordan tau masalah keluarga lo?" tanya Saguna tak memandang ke arah Freya sama sekali.

"Tau." jawab Freya membuka bungkus permennya.

Saguna mengangguk beberapa kali dengan kedua alis yang terangkat. "Jordan kan orang ter-update."

Saguna yang memulai percakapan membuat suasana hati Freya semakin membaik. Hingga tak bisa menahan senyum hangat yang merekah seperti bunga di pagi hari. Terima kasih, Aksa. Karena telah memberinya saran untuk menenangkan diri di tempat ini.

"Tapi gue baru tau, Kak Jordan itu ternyata perhatian banget." jawab Freya.

"Contohnya?"

"Dia kasih gue pekerjaan terus tadi malam dia antar gue pulang." ujar Freya menjelaskan.

Di sana. Saguna malah terkekeh renyah. "Itu bukan perhatian. Tapi kasihan." ujarnya.

Dan tentu saja. Saguna tetap lah Saguna. Ucapannya yang terkadang seperti perban luka dan terkadang seperti pisau tajam. Dapat mengobati namun juga dapat membuat luka sebelumnya justru berubah menjadi lebih lebar dan sakit.

"Gue gak liat itu di matanya."

Pada akhirnya. Saguna menoleh dan memusatkan pandangannya ke arah Freya.

"Rasa kasihan? pasti ada. Gue pantas dikasihanin." ucap Freya. "Tapi yang gue liat emang Kak Jordan tulus membantu."

"Terkadang lo bisa liat apa maksud orang tertentu, dari mata mereka. Itu alasannya gue selalu menatap mata lawan bicara." Freya ikut menoleh ke arah Saguna. Membuat tautan mata antara keduanya yang berlangsung cukup lama.

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang