Ciee kaget kan gue dobel up wkwk
***
Malam yang biasa menenangkan pikiran gadis bersurai indah itu berubah menjadi malam yang buruk. Malam terakhir Freya menempati rumah yang sudah bertahun-tahun melindunginya dari panas dan hujan. Menampung ribuan momen sempurna dalam hidupnya, tempat mereka mencurahkan rasa cinta dan sayang terhadap sesama.
Freya terbaring tetapi tidak terlelap, melainkan terjaga dengan tatapan kosong.
Besok Freya harus melepaskan semua yang ia punya sekarang. Harta dan fasilitas yang selama ini ia dapatkan setiap harinya.
Gadis itu juga harus siap melihat Dayton yang kemungkinan akan masuk penjara. Melihat Irish yang pasti akan terus bersedih hati. Walau Irish sudah menyewa pengacara lain, tetapi jujur saja kalau wanita itu sedikit pesimis.
Tetapi sesaat. Freya mengingat satu hal,
tentang berita yang masuk ke dalam ponsel genggam miliknya, kala ia berada di toilet sekolah.
Dengan cepat Freya meraih benda pipih berlogo apel digigit, setelah menemukannya tergeletak di atas nakas.
Berita harian. Pada malam tadi tepatnya pukul jam 20:21 WIB, telah terjadi penangkapan pengusaha terkenal bernama Dayton Dake Jovanka atas tuduhan korupsi uang perusahaan senilai miliyaran rupiah.
"Gue nggak nyangka. Hidup gue berubah cuma dalam satu malam?! Gue benci! Gue benci!" racau Freya memukul ke segala arah.
Sesaatnya terdengar ketukan dari arah pintu.
"Freya lagi nggak mau diganggu, Mah. Freya mohon." ujar Freya kepada orang di balik pintu.
"Freya. Boleh aku masuk?"
"Naila juga mau masuk."
Sepertinya Freya tahu siapa mereka. Bahkan Naila telah memperkenalkan dirinya lebih dulu tadi, "Tapi gue mau sendiri!" balas Freya.
"Tapi kita nggak mau biarin kamu sendirian, Freya. Tolong buka pintunya." jawab Meisya sedikit berteriak.
Tidak ada jawaban lagi dari Freya. Gadis itu memilih bangkit dari duduk termenungnya. Berjalan menuju pintu kamar. Seperdetik kemudian, pintu terbuka menampilkan dua gadis yang tengah tersenyum tipis. Bermaksud memberi semangat untuk Freya.
Tak lama Meisya segera memeluk Freya erat. Diikuti oleh Naila, ketiganya berpelukan tanpa ada yang berbicara sepatah kata.
Meisya dan Naila tahu. Freya hanya butuh ketenangan, dan dukungan dari orang terdekat. Isak tangis samar terdengar mencelos dari bibir merah muda Freya, dadanya sesak.
Pertahanan yang sedari tadi ia bangun runtuh ketika mendapat pelukan dari keduanya. Tenggorokannya seperti tercekik hingga tak mampu menahan keluh kesah yang mengumpul menumpuk.
"Sekarang kita masuk, ya?" Meisya menuntun Freya masuk. Sedangkan Naila menutup pintu kamar pelan.
"Gu-gue masih gak nyangka semua ini terjadi." Freya menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Meisya membenarkan letak rambut Freya yang berantakan. "Jangan kecewa sama Papah kamu. Karena sekarang, pasti dia juga kecewa sama dirinya sendiri." ujar Meisya sungguh-sungguh dengan senyum manisnya.
Dan masih tak berubah, senyuman Meisya bagai obat penawar.
"Kecewa yang Papah kamu rasakan bukan main sakitnya, Frey. Rasa bersalah itu menyiksa." sambung Meisya lagi.
Yang Meisya maksud adalah rasa bersalah karena telah membuat keluarganya menderita.
"Menyalahkan yang sudah terjadi. Nggak akan membuat semuanya jadi lebih baik, Freya." ujar Naila lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
