heyyyy, maap telat upnya......
sekarang up karena komen dari AmaraSalsabila9
special part for uuuu hehe
Enjoyyyy...
***
Langkah lebar seorang cowok dengan tangan yang sesekali terkepal kuat. Cowok itu masih menahan emosi, tetapi lama-kelamaan malah menumpuk di hati serta pikirannya. Saguna tidak bisa menampung semuanya lagi.
"Permisi, mohon maaf. Ada yang bisa saya bantu?" seseorang memberhentikan langkah Saguna. Pria berdasi yang menatapnya sedikit intens, menunjuk sebuah tulisan sedikit besar yang terpampang jelas di dekatnya.
Berdecih, Saguna masih bisa membaca. Ia tahu kalau area yang hendak ia lalui, dilarang sembarangan orang memasukinya.
"Saya ingin bertemu dengan Arga Andana." kata Saguna tanpa ekspresi.
Pria di hadapannya sedikit terkejut. Mungkin menurutnya itu sedikit kurang sopan. Menyebut nama pemilik perusahaan tanpa embel-embel 'Pak' dan yang lebih parah pelakunya ialah seorang bocah SMA.
"Maaf tetapi apa anda mempunyai janji temu sebelumnya?"
"Tidak." jawab Saguna enteng.
"Maka kamu sudah tau jawabannya." jawab pria tersebut mengubah nadanya menjadi kasar.
"Saya tidak perlu janji temu dan sebenarnya saya juga tidak membutuhkan izin dari anda." kata Saguna menjelaskan tanpa rasa takut. "Yang perlu anda lakukan hanya minggir dan jangan halangi saya untuk menemui Arga." ucap Saguna pelan serta tatapan matanya menusuk tajam.
"Maaf, tidak bisa." kekeuhnya. "Keluar sebelum saya panggil petugas keamanan untuk menyeret kamu pergi dengan tidak terhormat."
"Panggil. Saya tidak takut." tantang Saguna masih berusaha sabar.
"Saya peringatkan kembali, pergi dari sini." ulang pria itu.
"Saya katakan kembali, saya tidak takut." balas Saguna.
"Baik, jika kamu mau dipermalukan."
Namun sebelum pria itu memanggil petugas keamanan yang ada. Seseorang yang Saguna cari keluar dari ruangannya. Ruangan di ujung lorong, sebab itu area yang Saguna pijak sekarang dilarang sembarangan orang memasukinya. Arga berjalan selangkah demi selangkah menghampiri keduanya.
"Biarkan saja." ujar Arga, suaranya terdengar berat dan sedikit serak.
"Tapi Pak-"
"Tinggalkan kami berdua." kata Arga memerintah.
Saguna mengibaskan tangannya, mengusir pria tersebut untuk enyah dari hadapannya.
"Baik, Pak." pria itu pergi meninggalkan Saguna dan Arga.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Tentu ada."
Arga diam, namun ekspresi wajahnya seperti mengatakan "Katakan."
"Di mana pertanggung jawaban anda, tuan Arga yang terhormat?" tembak Saguna tanpa basa-basi, tanpa memutar atau tanpa banyak membuang waktu. Raut kebingungan tercetak jelas di wajah Arga yang menautkan kedua alisnya. Tentang apa maksud anak muda di hadapannya ini?
"Saguna Zayyan." Saguna menyebutkan namanya lengkapnya. Dan nama belakang yang Saguna sebut membuat Arga lumayan terkejut atas kedatangannya.
"Ikut saya." ujar Arga menarik Saguna masuk ke dalam ruangannya.
Ruangan yang sedikit dari karyawan di perusahaan dilarang masuk, hanya beberapa dari mereka yang mempunyai akses untuk menemui Arga di kantornya.
Tidak tahu apa alasannya. Walau sepenting apa pun urusan pekerjaan, Arga memberikan kepercayaannya tidak kepada seluruh karyawan yang ada.
Saguna meneliti setiap sudut ruangan. Sangat mewah. Dan sialnya, Arga mendapatkan ini semua dengan cara menjebak Mita, wanita itu yang terkena getahnya. Sedangkan Arga sendiri menikmati kerja kotornya. Misha asyik menghamburkan uang. Terdengar sangat tidak adil, bukan?
"Tidak disangka, tamu hari ini adalah anak tiri saya sendiri." ujar Arga duduk di bangku tahta. Tersenyum miring.
"Now you have a perfect life, don't you?" tanya Saguna, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"I do."
"Hidup yang tenang dan damai. Bisnis berjalan lancar, serta masa depan yang cerah."
"Sudah jelas." sekali lagi Arga membalasnya dengan jawaban yang sederhana. Dan itu membuat Saguna tersenyum samar. Bukan senyum bahagia, seyuman yang mengandung rasa sakit hati.
"Jelaskan lebih rinci maksud dari kedatangan kamu, Saguna. Atau mau menikmati teh hangat terlebih dahulu?" tawar Arga.
"Tutup mulut anda dan berbicara hanya tentang penangkapan Mita." kata Saguna.
"Jadi kamu sudah tau, Saguna? Tentang Mamah kamu, istri saya, yang telah ditahan dan masuk penjara?"
"Lebih tepatnya difitnah." ujar Saguna membalas ucapan Arga. Cowok itu berjalan santai mendekat dan duduk di meja kantor setelah menyingkirkan beberapa berkas di atasnya, membuangnya hingga jatuh berserakan di lantai.
Mengambil sebuah bingkai kecil yang di mana terdapat foto Arga dan Misha tengah tersenyum ke arah kamera. Bahkan mereka tak mengenang Mita dalam bentuk foto sekalipun.
"Difitnah oleh suaminya sendiri." katanya sambil melempar bingkai secara asal sampai kacanya retak.
"Jangan kurang ajar! Tau apa kamu tentang hal itu?!" Arga langsung meledak.
"Saya tau semuanya." balas Saguna tenang.
"Dengar bocah, Mita telah menggelapkan uang kerja sama dengan sebuah perusahaan besar, jumlahnya tidak kecil. Itu adalah murni kesalahannya. Jangan mencoba sangkut-pautkan saya dalam kejahatan yang wanita itu buat!" bentak Arga bangkit dari kursinya.
"Oh ya? Sayangnya saya mendapat informasi tersebut, dari pihak yang bersangkutan." kata Saguna masih memancing.
"Si-siapa yang kamu maksud?" tanya Arga, ekspresinya mulai berubah. Karena tidak mungkin, kasus yang sudah lama ditutup kini terungkit kembali. Arga tidak mau kehancuran yang selama ini hanya menjadi mimpi buruk, akan terjadi nantinya.
"Putra kesayangan anda."
"Misha?" gumam Arga pada dirinya sendiri. "Tidak mungkin Misha mengatakan itu kepada kamu, Saguna!"
"Mungkin aja. Bukannya Misha saudara tiri saya? Dan bukan hal yang aneh kalau dia bercerita semua detail kejadian?" sarkas Saguna. Cih, Saguna jijik mempunyai hubungan keluarga dengan dua manusia licik seperti mereka.
"Jangan main-main dengan saya!" kecam Arga menarik kerah baju Saguna. Mencengkramnya kuat, Arga bisa menyingkirkan siapa saja yang mengganggunya.
"Ketakutan dan kepanikan yang anda tunjukkan sekarang, membuktikan betapa lemahnya seorang Andana." balas Saguna.
"Bocah ingusan. Jangan ikut campur urusan saya!"
"Tapi anda menggunakan Mamah saya, menjebaknya!"
"Kamu masih peduli? Bahkan Mita sudah membuang kamu. Dia tak pernah memikirkan kamu sedikit pun, dia lebih memilih saya dan Misha!" ujar Arga mendorong Saguna.
"Dia tidak memilih." kata Saguna.
"Masih belum bisa menerima kenyataan?" kata Arga menusuk.
Mita pergi karena alasan ekonomi. Saguna yang kala itu tidak mengerti alasan kedua orang tuanya berpisah, hanya bisa menatap kehancuran mereka. Lain halnya dengan Jordan yang sudah lumayan besar dan paham atas semua yang terjadi
"Justru sekarang saya menerimanya. Lagipula saya telah mendapatkan pengganti yang lebih baik. Tapi anda harus ingat, dia tetap orang tua kandung saya dan saya pastikan dia akan mendapat keadilan." tegas Saguna.
"Kamu bahkan tak punya bukti!" tawa Arga meremehkan.
Saguna langsung terdiam. Benar, ia tidak mempunyai bukti. Jangan salahkan Saguna yang nekat datang. Tetapi ucapan Misha belum juga bisa Saguna singkirkan dari kepalanya, itu adalah alasan utama mengapa Saguna datang tanpa memikirkan resiko.
"Dengar sekali lagi, bocah. Tidak mudah menghancurkan seorang Arga Andana. Mundur, atau kamu akan hancur seperti Mita, mamah kandung tercinta." ancam Andana tajam.
***
Vomment yaa jangan lupa....
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Romantizm[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
