#3 sahabat miliknya

487 39 2
                                        

"Diam di sana!" teriak anak laki-laki yang berdiri dengan satu tangan terangkat. Telapak terbuka sempurna, menampilkan kelima jarinya yang berdiri merenggang. Menandakan bahwa ia tidak mau seseorang di hadapannya berjalan mendekat.

Walau hanya satu jengkal.

"Mau apa kamu ke sini? Mau bermain bersama kami?" ujarnya lagi, nada bicaranya tak dapat dijelaskan.

Ketidaksukaan?
Dendam?
Kesal?
Marah?
Semua tercampur aduk.

"I-iya." kata seorang bocah dengan gugup.

Tetapi yang ia dapat malah decihan keras. "Mana ada yang mau main sama kamu?!" balasnya.

"Tapi kenapa? Kenapa kalian nggak mau main sama aku? Salah aku apa?"

"Mamah kamu yang salah! Kenapa Mamah kamu merebut Papah aku?! Kenapa Mamah kamu menghancurkan keluarga aku?!" bentaknya.

"Dasar!"

"Mamah kamu sudah ambil Papahnya Misha!" teriak mereka. Mengelilingi bocah beralis tebal yang memiliki bulu mata lentik tadi.

"Bukan! Mamahku bukan perebut Papahnya Misha!" elaknya menahan tangis.

Walau jelas diingatannya. Sang Mamah pergi sebab sudah menemukan keluarga yang baru.

Namun tetap saja dirinya tidak terima kala wanita yang telah melahirkannya. Disebut dengan kata-kata yang tak ia suka seperti tadi. Wanita itu memang telah gagal menjadi orang tua terbaik untuknya, tetapi wanita itu tidak buruk. Mamahnya tidak buruk!

"Aku benci kamu! Dia nggak sayang sama kamu makanya dia pergi! Dan kenapa dia harus pilih Papahku?!" teriak Misha menjadi jadi. Nyatanya, Misha tidak suka keberadaan orang baru di keluarga kecilnya.

Ia lebih suka ketika Sang Papah hanya perhatian kepadanya. Bukan kepada orang lain, waktu keduanya menjadi sangat sedikit.

"Mamah kamu perusak! Mamah kamu perusak!"

"Jangan bicara lagi!" bangun dan mendorong bahu Misha. Ia semakin tidak terima kala Misha terus-terusan berkata demikian.

"KAMU DAN MAMAHMU SAMA-SAMA PERUSAK!"

"Pergi kamu!"

"Kita nggak mau punya teman kaya kamu!"

"Kasihan deh gak disayang Mamah!" ujar yang lain lalu tertawa.

"Tutup mulut kalian! Berhenti!" erang bocah tadi seraya menutup telinganya rapat.

Misha yang juga sudah emosi. Mendorong anak kecil itu sekuat tenaga.

Bruk!

Karena tubuhnya lemas juga hentakan kuat dari Misha. Membuat benturan cukup kuat.

"Saguna!" teriak gadis kecil yang baru saja tiba.

"Kalian jahat! Kenapa kalian ganggu Saguna terus?!" teriaknya lagi seraya membantu Saguna bangun.

Kepala Saguna kecil terbentur tembok. Matanya samar-samar masih terbuka. Saguna hendak memegang luka di kepalanya.

"Saguna! Saguna, bangun!" gadis kecil itu terus memanggil nama sahabatnya.

"SAGUNA, BANGUN!"

"SAGUNA!"

Tersentak hebat. Cowok bercelana selutut itu bangun dari mimpi buruknya dengan sangat kasar, seperti terseret lalu ditendang keluar secara paksa.

Saguna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang