#4 hanya sebuah penolakan

459 44 4
                                        

"Saguna" cowok yang dinginnya ngelebihin es serebuan balik lagi nihh!
Vote dan komen oyyy...

***

Embun di pagi hari menyejukkan hati dan pikiran. Menetralkan segala keresahan yang ada, saat seperti ini yang cocok dijadikan waktu menenangkan diri.

Tetapi tidak bisa. Tepat pukul jam 7 pagi, pelajaran akan segera berlangsung. Membuat kelima siswa dengan jaket Liberios yang membalut sempurna tubuh mereka, harus sedikit menambah laju jalan. Kelimanya sudah telat setengah jam.

"Tungguin gue dong. Gue belum sarapan." teriak Kenzo yang berjalan diurutan paling akhir.

"Nggak. Gue mau ke kelas." tolak Aksa.

"Lah tumben banget. Biasanya sampe bel istirahat juga lo masih di kantin." ujar Farzan mengikuti apa yang Kenzo lakukan.

Yaitu meminta makanan teman sekolah yang keluar dari kantin.

Mereka yang bolos pelajaran lalu membeli makanan di kantin, menaruhnya di kolong meja. Sangat klasik.

"Meisya kasih gue tantangan. Kalau gue tetap di kelas pas jam pelajaran, gak bolos sama sekali, gue boleh minta sesuatu dari dia." jawab Aksa tersenyum.

"Budak cinta." cerca Saguna yang menganggap penjelasan Aksa barusan, sangat bodoh.

"Setuju. Bucin, cuih!" cetus Kenzo sambil memakan siomay siswi kelas 10 yang ia palak.

"Eh, Kak. Jangan ngeludah di atas siomay aku dong." ujarnya mendengar ucapan Kenzo tadi.

Padahal tadi itu hanya tambahan kata agar kalimat darinya terkesan sangat merendahkan para buciners di dunia. Bukannya meludah sungguhan.

"Engga kok. Gue nggak-"

"Buat Kakak aja deh siomay-nya." ujar siswi tadi sebelum pergi dengan raut jijik.

"Mampus, pamor lo turun!" tawa Farzan menggelegar di koridor.

"Lagian sejak kapan punya?" balas Samuel yang juga tertawa dibuatnya.

"Sorry, Sam. Followers instagram gue aja lebih banyak dari lo, AWOKAWOKAOWOK!" kata Kenzo tak mau kalah.

"Aksa yang bucin kok lo berdua yang repot?" kata Farzan mengarah pada Saguna dan Kenzo.

"Lagian bahas cinta sama manusia kaya gini?" unjuk Samuel ke arah wajah Saguna. "Mana mempan, boy!"

"Nanti juga kalau lo jatuh cinta, Na. Lo bakal lebih bodoh dari Aksa."

"Gak mungkin." kata Saguna ketus.

"Karena lo yang skeptis sama rasa cinta. Nanti sekalinya jatuh cinta, cintanya dalam banget." kata Kenzo.

"Sotoy." balas Saguna merangkul Kenzo-ralat, sedikit mencekiknya. Hendak menyeretnya menjauh dari yang lain.

"Pagi, Freya!" panggil Farzan kencang.
Sepertinya, obrolan menarik telah tiba.

Gadis dengan seragam sekolah itu menoleh. Kemudian tersenyum sumringah kala melihat Saguna sedikit jauh di sana, Freya berjalan cepat membuat lekukan tubuhnya semakin tercetak dengan jelas.

"Gila. Freya montok banget." ujar Kenzo terdengar pelan sambil menggelengkan kepalanya heran.

"Hati-hati lo. Kedengeran Freya, bisa kena eksekusi mati." ujar Farzan mengingatkan.

"Selamat pagi, pacar!" teriak Freya dengan oktaf paling tinggi, menghampiri mereka berlima dengan cepat.

Tanda kutip, sebenarnya hanya mendekat ke arah Saguna saja.

Saguna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang