"Kita pulang sekarang, Kyla." kata Saguna yang baru tiba dan mengajak Kyla kembali ke rumah. Bukannya meminta tetapi membawa Kyla meninggalkan tempat duduknya secara paksa.
Terbukti, Saguna menarik Kyla yang tidak mau. Karena gadis itu sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi. Saguna secara tiba-tiba ingin pulang lebih awal dari rencana sebelumnya.
"Kalian pulang cepat?" tanya Farzan yang tadi duduk berdekatan dengan Kyla. Tetapi keduanya tidak menjawab dan menjauh dengan cepat.
"Kenapa, Na? Ini baru jam sembilan malam. Bunda bilang paling telat pulang jam sebelas." komentar Kyla yang masih ingin menghabiskan waktunya di bazar.
"Gue cuma mau keluar dari bazar. Kalau lo gak mau pulang kita bisa ke tempat lain, terserah lo." balas Saguna namun Kyla menepis lengan Saguna keras.
"Karena apa? Karena ada Freya di sana?" tanya Kyla menghentikan langkahnya.
Saguna sempat terdiam sebelum berbalik menghadap Kyla. "Bukan. Gue gak suka karena berisik, makanannya juga gak terlalu enak."
"Lo pintar bela diri, tapi gak pintar cari alasan." kata Kyla merasa jawaban yang Saguna ucap barusan tidak benar. Bukan karena suara bising atau pun makanan. Ada hal lain yang membuat Saguna merasa tidak nyaman.
"Lo mau jalan ke mana? Bilang aja, kita bisa pergi sekarang asal bukan kembali ke bazar."
"Lo sedang menghindar." jawaban Kyla jauh berbeda dari pertanyaan yang Saguna berikan.
"Gue gak ngerti maksud lo."
"Jangan pura-pura bodoh. Na. Lo lupa? Gue kenal lo dari kita masih kecil. Gue tau lo, dan sekarang gue juga tau kalau lo bohong."
"Gue gak bohong." Saguna kembali mengelak tuduhan Kyla.
Kyla berdecih. Mendengarnya malah membuat Kyla semakin yakin dengan apa yang ia ucapkan barusan. Seperti yang Kyla bilang, ia tahu betul Saguna. Melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana Saguna memandangi Freya saat menyanyi di atas panggung tadi.
Cowok itu memang bodoh. Mengatakan kalau tak mencintai Freya ketika dirinya sendiri yang justru membuktikan pernyataan itu tak benar, dari tatapan matanya.
"Omong kosong."
"Terus apa yang lo mau? Bilang kalau gue ajak lo pergi karena Freya, sedangkan bukan itu alasan sebenarnya?!" ujar Saguna terbawa suasana.
"Gue cuma minta lo jujur!"
Mengusap wajahnya kasar. "Jujur kaya gimana yang lo mau? Mengakui tuduhan lo benar. Itu yang lo sebut jujur?!" bentak Saguna.
"Saguna, lo gak bisa bohongin gue di saat lo aja gak bisa bohongin diri lo sendiri." ujar Kyla menunjuk dada sebelah kiri Saguna tajam. "Lo selalu tunda kalau Bunda dan Ayah ingin membicarakan tentang pertunangan kita. Karena lo bingung sama perasaan lo." sambungnya.
Membuang pandangannya ke arah lain ketika apa yang Kyla ucapkan seratus persen BENAR. Saguna tidak dapat menatap wajah Kyla yang berusaha menatap matanya.
"Liat gue, Na!"
Masih enggan, Saguna masih menyangkalnya. Cowok itu selalu mengatakan bahwa itu salah, semua yang Kyla katakan tidak benar adanya. "Ini bukan waktunya untuk berdebat, Kyla."
Kyla tersenyum samar, mengubah topik pembicaraan adalah jalan ninja semua orang yang tak bisa membalas perkataan lawan bicaranya. Atau sekedar membenarkan pernyataan Kyla, Saguna tak mampu.
"Lo sempat menolak pertunangan. Dan sekarang bimbang sama pilihan lo sendiri, itu semua karena lo suka sama Freya. Lo cinta sama dia, iyakan?" ujar Kyla tidak berhenti walau Saguna memintanya. Terus memojokkan Saguna ke sudut ruangan, namun entah berapa luas ruangan yang Saguna ciptakan sehingga sampai detik ini Saguna belum juga mengakuinya.
"Dia yang suka sama gue, gue sama sekali gak suka sama dia. Apa belum jelas?"
"Terus kenapa lo menunda pertunangan?!" balas Kyla cepat.
"Kenapa lo memaksa gue menjawab pertanyaan itu?" Saguna malah balik bertanya.
"Na, lo memilih gue di depan Ayah. Dan sekarang gue harus menjalin hubungan dengan cowok yang malah punya hati sama cewek lain?"
"Ayah yang membuat pilihan. Bukan gue." tembak Saguna.
Kalimat terakhir dari Saguna membungkam mulut Kyla. Itu sudah menjawab semuanya. Pertemanan. Saguna dan Kyla terjebak dalam satu kata tersebut. Kyla tidak mampu memecah kaca tebal yang mengurung dirinya sendiri, tidak memperbolehkannya masuk ke dalam hati Saguna.
Atau ternyata hubungan di antara mereka hanya ada di saat semua orang mengucilkan Saguna. Lihat Saguna sekarang, satu sekolah memujinya.
"Saat lo dengar kabar tentang pertunangan. Apa gak ada sedikit aja di pikiran lo tentang perasaan gue?" Saguna semakin memperjelas. "Lo benar. Kita kenal udah lama banget. Lo menemani gue dari kecil. Dan lo juga tau kalau sayang gue itu hanya sebatas Adik-Kakak. Lo tau dan sadar akan itu semua." sambungnya lagi.
"Menemani lo dari kecil. Apa itu gak cukup?"
"Lo lebih dari cukup, Kyla." kata Saguna.
"Jadi?"
"Lo gak paham." Saguna semakin terlihat gusar. Terlihat Saguna menjambak rambutnya ke belakang.
"Kenapa malam itu lo gak menolak pertunangan? Kenapa lo gak bilang kalau lo gak cinta sama gue?" ujar Kyla bertanya dengan nada sendu.
"Lo tau kalau gue udah mencoba." jawab Saguna. "Dengar, Kyla. Semuanya udah terlambat karena Ayah udah memutuskan kalau kita akan bertunangan. Dan semua itu pasti terjadi."
Saguna meninggalkan Kyla dan berjalan ke arah parkiran dengan langkah cepat. Kyla hanya diam, gadis itu benar-benar tersesat.
***
Mau minta maaf karena gantung cerita ini sampe 2 tahun mungkin? atau lebih
Tapi kaget banget karena beberapa orang masih ada yg komen minta lanjut😭😭
Jadi aku niat mau lanjut sampai tamat
Aku rekomendasi baca ulang kalau kalian lupa sama alur ceritanya, oke?
Terima kasih semua....
Aku up short part dulu ya, tunggu kejutan selanjutnya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Genç Kurgu[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
