#28 masih mencoba

115 12 9
                                        


Halo ketemu lagi di cerita Saguna!
Thanks for staying with us...

***

Pagi hari yang cerah. Cuaca sejuk yang hanya akan bertahan paling lama sampai jam sembilan pagi. Jangan lupa kalau mereka yakni para tokoh utama tinggal di ibu kota Jakarta.

Seisi sekolah geger dengan berhasilnya bazar amal kelas dua belas jurusan IPA, lebih tepatnya kelas Freya dan Meisya. Banyak yang memuji dan kagum. Tak kala dari kalangan guru yang bangga, para murid juga ikut senang karena jumlah amal yang terkumpul lumayan banyak.

Membayangkan berapa banyak orang yang akan terbantu oleh pendapatan bazar amal semalam membuat mereka bersorak gembira.

Di saat sekolah sedang bising membicarakan keberhasilan bazar amal. Cowok dengan kemeja yang di keluarkan itu terduduk diam sedikit menunduk, seseorang memintanya untuk menunggu.

Suara pintu yang dibuka terdengar. Bu Runi duduk dengan senyum yang merekah. "Nilai kamu bagus banget, Na. Paling tinggi di antara teman segeng kamu itu." ujar Bu Runi memuji, sungguh.

"Iya, Bu." jawab Saguna singkat.

"Kenapa, Na? kamu gak senang?" tanya Bu Runi.

"Senang, saya cuma lagi gak enak badan." kata Saguna mengambil sodoran lembar ulangan dari tangan Bu Runi. "Boleh saya keluar?" tanyanya.

"Silahkan. Kalau bisa kamu ke UKS, jangan ke kelas dulu. Minta dibuatin teh hangat sama murid yang lagi bertugas di sana, Na." kata Bu Runi. Gurunya yang satu ini memang garang. Tetapi tak dapat dipungkiri sifat ke-ibuan yang dimiliki Bu Runi cukup tinggi terhadap para muridnya.

Saguna mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum beranjak keluar ruangan. Walau tak ada niatan sedikit saja untuk mengikuti ucapan Bu Runi, Saguna rasa ia tak membutuhkan segelas teh hangat saat ini.

Mulai berjalan pelan menyusi lorong. Hanya ada beberapa murid di sekitar, pandangan Saguna tertuju pada lembaran ujian sebelum seseorang menabrak Saguna kencang hingga cowok itu terjatuh menubruk lantai.

"Woi, anjing! kalau jalan liat ke depan, pake mata lo!" seseorang membentak Saguna kuat.

Saguna yang hendak melawan terdiam ketika manusia di hadapannya sekarang adalah, Misha. Saguna melihatnya dengan sangat jelas, masih pada posisi tersungkur di lantai. Lagi dan lagi tubuhnya mendadak membeku terdiam.

"Gak ada habisnya lo cari masalah sama gue?" ujar Misha sinis.

"Lo lupa? Nih anak kan emang pusatnya masalah." siswa lain mendekat dengan segelas minuman di tangan kanannya. "Udah gak punya teman. Tapi masih punya muka buat datang ke sekolah?!" tambahnya lagi.

Perkataannya membuat Saguna dejavu. Juga membuat keadaan mengeruh. Murid di sekeliling ikut mendekat dan berkata kasar kepadanya. Saguna melihat wajah Misha yang tersenyum tipis seraya mengambil minuman dari siswa di sebelahnya, kemudian melempar ke arah Saguna membuat cowok tersebut tersentak kasar.

"Saguna?" suara pelan terdengar menyusuri indra pendengaran.

Tak disadar Saguna memejamkan mata dan ketika ia membuka kedua matanya kembali, Saguna tercekat. Melihat keadaan sekitar yang berbeda, jauh berbeda. Saguna mengedar pandang melihat beberapa murid yang menatapnya bingung dari kejauhan.

"Lo gak papa, Na?" tanya cowok dengan buku di tangannya. Berdiri di hadapan Saguna, dia bukan Misha. "Maaf, gue gak sengaja nabrak lo tadi. Gue buru-buru banget harus ke ruang guru sekarang." katanya lagi seraya mengulurkan tangannya hendak membantu Saguna bangun.

"Gue gak papa." kata Saguna seperti orang linglung. Napasnya terengah-engah merasakan kemeja sekolahnya yang sama sekali tidak basah. Entah apa yang baru saja terjadi, Saguna sendiri tak tahu.

Saguna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang