"Tolong jelasin sekarang." kata Saguna yang berubah dingin dengan wajah seriusnya. Sesekali rahangnya mengeras, tidak tahu pasti apa yang sedang cowok itu rasakan. Mereka sudah berada jauh dari tamu undangan, memilih pergi meninggalkan pesta untuk sementara.
"Jadi Bunda belum bilang sama Saguna tentang pertunangan ini?" tanya Ardana.
"Ng-Bunda memang belum sempat bilang ke Saguna. Bunda..."
"Lagipula memang ada yang salah? Bukannya kalian saling mencintai? Seharusnya tidak menjadi masalah, bukan?" ujar Ardana karena Ashe menggantungkan ucapannya.
"Kyla itu sahabat Saguna bahkan udah Saguna anggap seperti saudara sendiri, Yah. Dan gak akan pernah berubah karena selamanya Kyla akan jadi sahabat Saguna, gak lebih." ujar Saguna memberi penjelasan. Kyla yang berdiri di pojok, mengepalkan genggaman tangannya mendengar ucapan Saguna.
"Memangnya kamu pikir kenapa Kyla kembali ke Jakarta, Saguna? Karena Ayah dan Bunda yang minta. Karena ingin menyatukan kalian berdua kembali." jelas Ardana.
Menyatukan kembali? Saguna tidak habis pikir.
Ashe telah berbohong dengan berpura-pura tidak tahu akan hal ini. Saguna mengelap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya. Mengapa mereka berlagak seperti, sebuah pertunangan adalah sesuatu yang sederhana? Bagaimana mereka berpikir kalau dirinya akan menerima dengan lapang dada?
"Jadi semuanya tau kecuali Saguna, lo juga, Kyla?" tanya Saguna pada Kyla dengan raut tak percaya.
"I-iya. Gue diam karena tau, kalau lo gak akan setuju." jawab Kyla sedikit berat.
"Kita sahabat." balas Saguna cepat.
"Apa salahnya, Na? Kita masih tetap bisa jadi sahabat." ujar Kyla mendekat dan memegang tangan Saguna.
"Kalian masih tanya salahnya di mana?" kata Saguna mengarah kepada Kyla dan Ardana yang sesaat lalu berkata hal yang sama. "Tanpa kalian sadari, ini seperti sebuah jebakan."
"Apa maksud kamu, Saguna? Jebakan, kamu berbicara apa?" kata Ardana.
"Kalian buat acara pertunangan tanpa kasih tau atau tanpa tanya perasaan Saguna. Apa namanya kalau bukan jebakan? Pertunangan adalah sesuatu yang sakral, bukan mainan." ucap Saguna masih mencoba tenang walau di dalam dadanya ada sesuatu yang meletup-letup.
"Bunda bilang ini cuma acara penyambutan untuk Kyla." kata Saguna menahan sesuatu yang panas di dalam hatinya. Bukan karena pengumuman pertunangan. Tetapi karena reaksi Freya barusan. Tatapan matanya, menyiratkan sesuatu.
"Terkadang. Lo bisa lihat apa maksud orang tertentu, dari matanya."
Freya pernah mengatakan demikian. Dan ketika Saguna melihat tatapan mata gadis tersebut, ia merasa masuk menyelami manik indahnya. Tetapi bukan rasa senang dan bahagia yang ada di dalam, Saguna dapat mengartikan tatapan mata Freya. Rasa kecewa. Sedih. Terkejut. Sakit. Bercampur menjadi satu.
"Maafkan Bunda, Saguna. Bunda gak bermaksud bohong sama kamu." Ashe hanya bingung kala Ardana meminta dirinya mengatakan pada Saguna tentang pertunangan. Hingga tak terasa Ashe tetap bungkam sampai acara berlangsung.
"Tapi Saguna gak bisa. Dan Saguna masih sekolah, apa Ayah dan Bunda gak memikirkan hal itu?!" tanya Saguna terbawa emosi. Amarah yang ia pendam sejak beberapa hari ke belakang seketika menggebu kembali.
"Ini hanya pertunangan. Kalian bisa menikah setelah lulus sekolah, Na." kata Ardana.
"Sesimple itu?" kata Saguna seperti sudah tidak bisa berkata-kata. "Ini masalah perasaan. Bukan tergantung penilaian Ayah tentang Saguna dan Kyla cocok atau tidak!" bentak Saguna tak tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
