"Haruskah aku berhenti berjuang untuk mendapatkan dirimu?"
-Freya Jovanka
***
Suara seseorang jatuh saat berjalan menuju pintu utama rumahnya. Kemudian ia bangkit karena kepala yang lumayan pusing, semalam ia minum banyak sampai kehilangan kesadaran.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, Misha membuka pintu rumah dan langsung memasuki kamar tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Baru ingin memasuki dunia mimpi. Misha terkejut bukan main ketika ada satu tarikan pada kerah belakang kemeja yang ia gunakan. Bukan hanya itu, tubuh Misha dibanting ke tembok dengan sangat kuat.
Bruk!
"BODOH!" bentak Arga tepat di depan wajah Misha.
"A-ada apa, Pah?" tanya Misha. Napasnya tercekat karena Arga menarik kerahnya hingga Misha merasa tercekik.
"Kamu memberitahu tentang penangkapan Mita, dan kejahatan yang kita lalukan kepada putra kandungnya?!" kata Arga, urat di lehernya tercetak jelas.
"Misha gak bermaksud."
Arga meninju rahang Misha keras. "Apa kamu sengaja? Kamu ingin kita ditangkap lalu membusuk di penjara? Kamu mau buat Papah hancur?!" bisik Arga tajam.
Cowok itu memejamkan matanya menahan rasa sakit dan nyeri. Walau bukan yang pertama kali, Misha tetap merasa sangat ketakutan hingga tubuhnya bergetar. Arga telah berubah seratus persen, dahulu Papahnya itu adalah seorang penyayang. Pria itu menyayangi Misha dan Mita dengan tulus layaknya keluarga bahagia.
Setelah penangkapan Mita. Arga berubah menjadi pemarah, tidak bisa mengontrol emosi. Sering melamun bahkan berlaku kasar kepada putranya.
"Apa yang ada di kepala kamu?! Papah telah menutupi kasusnya, memblokir seluruh berita di internet karena Papah sudah tidak mau mendengar masalah ini lagi!" bentak Arga tak henti. "Kalau sampai Saguna bisa mendapat buktinya, hidup kita akan hancur, Misha!"
Tubuh Misha terus bergetar hebat mendengar Arga membentak di depan wajahnya, sekarang pria itu mulai mencengkram lehernya. Napas Misha sedikit tercekat walau tidak sepenuhnya. Tetapi ketika membayangkan dan membandingkan sang Papah yang dulu dengan yang sekarang, Misha kehilangan semua oksigen yang ada.
"Tapi itu perbuatan Papah, bukan Misha." kata Misha.
"Lalu apa yang kamu nikmati sekarang?Kamu juga menutupi kebenarannya, kamu juga terlibat." ujar Arga.
"Papah yang minta Misha buat diam!"
Lagi dan lagi Arga memberi bogeman mentahnya. "BERANI KAMU BERKATA DEMIKIAN KEPADA PAPAH?!"
"JAWAB, MISHA!"
Bukan Misha tidak mau menjawab. Tetapi ia tak bisa sebab Arga memukul perutnya kali ini.
"Cepat minta maaf kepada Papah!" ujar Arga tetapi Misha masih diam saja.
"CEPAT MINTA MAAF, MISHA!"
"Mi-misha minta maaf, Pah." ujar Misha, terdengar pelan.
"Papah tidak bisa mendengar suara kamu." balas Arga dengan tatapan tajam, "Ulangi dan jangan menunduk ketika berbicara."
"Misha minta maaf." ulang Misha mengangkat wajahnya. Matanya yang sudah memanas dan sedikit basah terlihat penuh dengan luka.
Arga melepas cengkramannya. Tanpa sepatah kata, berbalik dan meninggalkan Misha yang masih membeku di tempat. Misha tak menunjukkan reaksi. Tidak tahu apa yang bisa ia lalukan sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
