#8 kosong

443 42 5
                                        

Roti tawar yang selalu menjadi favorit Saguna ketika sarapan terlihat jelas di piring berukuran sendang berwarna putih bersih. Cowok itu sibuk mengolesi roti dengan selai coklat, tatapan tajamnya seperti mengintrogasi menu sarapan paginya.

Sedangkan Jordan sudah mulai memakan nasi goreng dengan telur mata sapi di hadapannya.

"Sarapan yang banyak, sayang. Bunda mau anak-anak Bunda semuanya harus kuat. Biar hari ini kalian berdua semangat menjalani kegiatan, Oke?" ujar Ashe yang justru terlewat semangat di ruang makan.

"Iya, Bunda." dan yang menjawab hanya Jordan saja.

Sampai semua tatapan penghuni meja makan, tertuju ke arah Saguna yang diam seraya memakan makanan dengan ritme pelan.

"Kenapa?" tanya Saguna menyadari.

"Nggak! Nggak kenapa-napa kok. Iyakan, Bun? Yah?" ujar Jordan yang lelah dengan sisi tak tersentuh Saguna.

Memang bukan sesuatu yang baru. Cowok itu bersikap demikian kepada semua orang tanpa pengecualian. Tetapi sungguh, bukan berarti hal itu menghilangkan rasa hormat dan sopan santun Saguna terhadap kedua orang tuanya.

Banyak yang salah sangka. Dan menganggap Saguna belum menerima kehadiran Ibu tirinya yaitu, Ashe.

Saguna sudah hidup lama dengan Ashe, tumbuh besar dalam kasih sayang Ashe. Bahkan lebih lama dibanding waktu yang Saguna habiskan bersama Mamah kandungnya sendiri.

Ini memang adanya Saguna. Dengan segala sifat dan sikapnya. Saguna menyayangi Ashe, Saguna menyayangi keluarganya.

Saguna hanya buruk dalam hal menunjukkan rasa sayang tersebut. Ia merasa tanpa perlu dibilang dan diperjelas, mereka semua akan mengetahuinya juga.

"Bang Jordan terlalu banyak bicara." balas Saguna cepat kepada Bunda dan Ayahnya.

"Lo yang terlalu banyak diam." balas Jordan tentu tak mau kalah.

"Sudah cukup. Sekarang kalian habiskan sarapannya. Tidak boleh bertengkar di meja makan. Mengerti?" lerai pria tampan yang kini duduk berhadapan dengan Saguna.

Ardana Zayyan. Pria yang kerap dipanggil, Ayah.

"Iya, Ayah." jawab Jordan dan Saguna hanya mengangguk paham.

"Gimana, Na? Enak nggak di skors?" ledek Jordan menahan tawa.

"Biasa aja." jawab Saguna sekenanya.

Ardana yang sudah biasa dengan sikap Saguna, tidak marah tetapi kecewa kala mengetahuinya.

Sikap Saguna yang terbentuk karena trauma masa kecilnya itu, tak membiarkan Ardana menyalahkan Saguna dengan segala sikap dan kelakuan putranya.

Masa lalu yang buruk. Sulit dilupakan, dan tak dapat diubah. Tetapi dapat mengubah seseorang.

Rumit memang.

"Gini aja, gue ada tawaran menarik buat lo, Na. Dari pada nganggur 3 hari nggak ada kerjaan terus bosan. Mending bantu gue di cafe, mau nggak?" tutur Jordan.

"Gak tertarik." jawab Saguna tak banyak basa-basi.

"Tenang, Na. Walau lo Adik gue tapi tetap aja lo bakal dapat gaji yang sama kaya pekerja yang lain, lumayan kan?" kata Jordan tersenyum lebar seraya menaik turunkan alisnya beberapa kali.

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang