#32 ada kami di sini

133 11 6
                                        

Terlihat Saguna menyenderkan tubuhnya di sebuah bangku panjang. Salah satu spot indah serta nyaman yang jarang sekali orang ketahui. Tak kala padatnya kota Jakarta membuat Saguna merasa senang karena tempat ini tidak terlalu ramai yang datang.

Beberapa hari terakhir langit terlihat redup, tidak ada tanda akan turunnya hujan namun tidak terasa pula hangatnya sinar mahatari. Saguna menyukai cuaca sekarang, Saguna sangat menikmatinya sehingga dirasa ia mulai memejamkan mata.

Baru dua menit, Saguna merasa seseorang memegang pundaknya.

"Aduh! Sakit, Na. Lepas!" Kenzo memekik kesatikan kala Saguna memelintir lengannya ke belakang.

"Bisa ngomong gak?" Saguna melepaskan tangan Kenzo. Cowok itu kesal karena mereka datang tanpa suara.

Mereka, keempat anggota inti Liberios. Aksa, Samuel, Farzan dan Kenzo. Bagaimana Saguna bisa tahu kalau yang memegang pundaknya adalah Kenzo?

"Maaf, gak kepikiran kalau lo bakal karate gue di tempat." ujar Kenzo memegangi lengannya.

"Kasihan." ledek Farzan.

"Ikut duduk juga, seru kayanya. Nyaman banget di sini, lebih nyaman dari pada di markas." ujar Samuel.

"Sarkas?" tanya Saguna.

"Lo kenapa, Na? Udah lama banget gak gabung sama kita di markas dan jarang ngumpul. Udah jadi rahasia umum kalau lo juga jarang ngomong, tapi gue perhatiin makin parah sekarang." kata Farzan.

"Gue gak papa." jawab Saguna.

"Lo cowok atau cewek?"

"Maksud lo?!" balas Saguna.

"Lagian kalau ditanya kaya cewek. Selalu jawab 'gak papa' tapi ternyata ada apa-apa." kata Kenzo dengan santainya.

"Lo semua kalau datang cuma buat ganggu gue, mending pergi." kata Saguna tak selera.

"Oh cukup tau. Jadi menurut lo, kita pengganggu?" sambar Aksa duduk di sebelah Saguna dan ikut menyenderkan tubuhnya. "Salah satu kebiasaan buruk Saguna. Menjauh dari orang yang peduli sama lo ketika lo merasa di bawah." ujar Aksa serius.

"When you know, you're not okay. You cut people off."

"Tapi kita bukan sekedar people. Kita Liberios, lo bisa cerita sama kita tentang apa pun karena kita keluarga." ucap Samuel mendapat anggukan setuju dari yang lain.

Memangnya menurut kalian ini sebuah kebetulan? Mereka menemukan Saguna sendirian. Mereka tahu betul Saguna tidak akan datang ke markas Liberios. Sebab itu keempatnya mencari ke berbagai tempat yang biasa Saguna datangi. Hingga menemukannya di sini.

"Gue tau. Gue lagi mencoba memperbaiki kebiasaan buruk gue." jawab Saguna.

"Kita belajar banyak dari kejadian sebelumnya, Na. Gue sempat hampir buat Liberios hancur cuma karena menyembunyikan sesuatu dari kalian. Jangan biarin hal serupa terjadi." kata Aksa hingga Saguna mengangguk mengerti.

"Cerita ke kita kalau ada masalah. Sebisa mungkin kita akan cari solusinya." sambung Samuel.

Teringat akan Misha. Cowok sialan itu bukan hanya bagian dari trauma masa kecil Saguna. Kini Misha bagian dari Canopus juga, maknanya mereka berhak tahu siapa sebenarnya ketua Canopus yang baru.

"Gue tau siapa ketua Canopus yang baru." ucap Saguna menghentikan Kenzo dan Farzan yang sedang bersenda gurau.

"Kita juga tau, namanya Misha. Anak baru SMA Angkasa, iyakan?" kata Kenzo.

"Gue kenal dia."

Kenal?

"Lo tau siapa Misha?" tanya Aksa berubah sangat serius.

Saguna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang