𝔅𝔞𝔠𝔨 ℌ𝔲𝔯𝔱
-
"Ayah gak perlu meminta maaf, karena bagaimana pun, kita sebagai anak yang selalu menjadi beban buat ayah, ayah adalah lelaki terhebat di hidup kami" Jelas Ethan.
Semuanya menyetujui ucapan Ethan tersebut. Mereka selalu menganggap ayah, ibu, dan bundanya itu segalanya, mereka adalah pahatan sempurna yang dikirim Tuhan kedalam hidup mereka.
Naya merasakan kesedihan ini, ia merasa terharu, namun sialnya, kepala Naya pusing tak karuan, tubuhnya lemas, bahkan genggaman tangannya yang semula kuat bertaut dengan tangan Ricky pun kini semakin melonggar.
Tanpa sadar, hidungnya mengeluarkan darah yang bercucuran dan akhirnya Naya jatuh pingsan.
"Nay?" Bingung Ricky saat Naya menyender padanya dengan lemas.
Mereka menatap Naya dan Ricky, namun gestur Ricky yang terlihat panik dan langsung melihat wajah Naya yang matanya sudah tertutup dan wajahnya sudah berlinang darah, mereka semakin lebih panik.
"NAYA!!" Teriak mereka membuat istri-istri mereka datang.
"Ada apa?" Tanya Evelyn.
Ethan langsung menenangkan istrinya. "Naya pingsan, kalian jagain anak-anak ya? Jagain El juga, sementara kita langsung pergi ke rumah sakit" Jelasnya yang langsung dituruti oleh semuanya.
Ricky segera membopong tubuh Naya dan memasukannya ke dalam mobil dan mobil dikendarai oleh William dengan kecepatan tinggi.
Sampai dirumah sakit, Naya langsung ditangani oleh dokter disana. Semua kakak Naya khawatir, bahkan seluruh keluarga Naya termasuk El khawatir.
El keluar dari kamarnya dan menghampiri Evelyn yang wajahnya terlihat panik. "Mama? Kak Naya kenapa?" Tanyanya dengan wajah polos membuat Evelyn semakin khawatir.
Evelyn mengusap wajah El dengan lembut. "Naya sakit, jadi harus pergi ke rumah sakit dulu" Jelasnya berusaha dengan nada yang tak terdengar khawatir.
El terdiam dan menunduk. "Kak Naya bakalan baik-baik aja kan?.."
Setelah diperiksa, dokter mengobrol dengan keluarga Naya. "Penyakitnya semakin ganas, bahkan sampai membuat rambutnya rontok, kedepannya jika bisa, tolong lebih perhatikan nona Naya" Jelas sang dokter.
Dengan ke-kalutannya William bertanya hal yang bahkan semua orang juga tau jawabannya. "Apa Naya bakal sembuh total?" khawatirnya.
Sang dokter menghela nafas. "Sulit untuk membuat seseorang sembuh dari penyakit lemah jantung dan tumor otak ini" Jelasnya.
Mereka mendesah berat. Rasa khawatir selalu menjalar, bahkan semakin menjalar. Benjamin. Dia merasa sangat bersalah kali ini, sudah bertahun-tahun terlewat, tapi dirinya masih tak enak dengan Naya karena terkesan memainkan perasaan Naya.
♛┈⛧┈•༶✧༺𝔗𝔥𝔢 ℜ𝔬𝔶𝔞𝔩𝔱𝔶༻✧༶•┈⛧┈♛
3 harinya, Naya baru bisa dijenguk oleh keluarganya, dan Naya sedang diruang rawatnya. Mereka mendatangi Naya yang sedang termenung menatap jendela luar dengan tatapan kosong.
"KAK!!" Teriak El membuat Naya menoleh dan langsung tersenyum lembut.
Kini El tau, ia dapat melihat kesakitan di sorot mata Naya dan rambutnya yang sudah tak utuh dan hanya terlihat beberapa helai itu membuat El sedih.
"Hai? El sudah makan?" Tanya Naya dengan lembut dan nada yang riang namun masih lemas.
El mengangguk cepat. "Gino yang nemenin" Jawabnya. "Kalo kakak? Sudah makan? Minum obatnya teratur? Ada yang sakit? Sudah mendingan?" Tanya El tanpa jeda membuat Naya terkekeh.
"El, calm down. Kakak sudah makan, minum obatnya juga teratur agar sehat dan cepat cepat main sama El, kakak sudah mendingan juga" Jelasnya.
El mengangguk paham lalu membiarkan para kakak Naya yang kali ini berbicara dengan Naya. Mereka banyak berbincang.
Benjamin diam di paling belakang saudaranya. Pikirannya masih mengingat saat ia mengungkapkan perasaannya pada Naya. Ia merasa bersalah, apalagi saat ia tau Naya menolak banyak lelaki diluar sana. Pasti Naya trauma dengan perasaannya sendiri.
Ethan datang menghampiri, duduk paling dekat dengan si bungsu dan langsung mengusap rambut yang tak lagi utuh itu dengan lembut.
"Nay.. Dokter bilang, penyakit kamu semakin parah, semakin lama semakin terus menelan otak kamu.." Jelas Ethan pelan-pelan dan lembut.
Naya terdiam menatap mata Ethan yang terlihat sendu. "Kakak boleh minta 'kan buat Naya di rawat aja? Biar Naya lebih banyak di perhatikan oleh dokter" Jelasnya.
Naya menghembuskan nafas berat, ia menggeleng. "Enggak kak. Naya sembuh kok, Naya sehat, Naya gak suka di rawat. Lebih baik Naya pulang, Naya juga ada El yang harus Naya jadikan sebagai tanggung jawab utama Naya" jelasnya lirih. "Naya gak mau bikin El sendiri lagi.."
Mendengar ucapan Naya seperti itu, El sedikit tertegun, se-sayang itu Naya padanya, ia jadi khawatir pikiran Naya menjadi tambah rumit.
Ethan menghela nafas. El datang dan segera menggenggam tangan Naya dengan erat. "Kak.." panggilnya.
Naya menatap El.
"Kakak gak perlu khawatir soal El. El sudah besar, El bisa jaga diri El sendiri, El udah terbiasa buat hidup mandiri. Pokoknya, kakak harus kuat, kakak harus sembuh dulu biar bisa terus-terusan sama El. Kakak harus diperhatiin terus sama dokter nya biar sembuh" Jelas El.
Naya tersenyum. "El.. kakak pengen main setiap hari sama El loh.. masa gak boleh? Kalo kakak pengen main, kakak harus pulang berarti, jadi kakak gak boleh di rawat"
El menggeleng lembut. Kedua tangan kecil El menutupi tangan kanan Naya dengan lembut. "Enggak kak. Kalo kakak mau main dengan El.. Kakak harus di rawat dan janji sama El buat sembuh!!" Tegas El sambil mengarahkan jari kelingkingnya.
Naya merasakan kepedulian dari El, matanya bahkan berkaca-kaca. Ia membalas kelingking El dengan kelingking nya yang ditautkan.
"Iya, kakak janji"
𝚃𝚘 𝚋𝚎 𝚌𝚘𝚗𝚝𝚒𝚗𝚞𝚎𝚍-
_
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐡𝐞 𝐑𝐨𝐲𝐚𝐥𝐭𝐲 (𝕶𝖎𝖓𝖌𝖉𝖔𝖒 𝕾𝖙𝖔𝖗𝖞) ||ᴇɴʜʏᴘᴇɴ
Fanfikce♛┈⛧┈•༶✧༺𝔗𝔥𝔢 ℜ𝔬𝔶𝔞𝔩𝔱𝔶༻✧༶•┈⛧┈♛ Kehidupan kerajaan mungkin hanya berjalan di negara negara tertentu, atau mungkin tak ada lagi kehidupan kerajaan di negara dengan sistem presidensial. Tetapi, berbeda dengan beberapa kedajaan yang masih ada sam...
