Note: Spam komen biar rame, vote nya kencengin gais. 25k views aku update part berikutnya.
Sepanjang perjalanan Naya tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun. Ia mencuri pandang pada Gama yang diam menyetir mobil.
Wajahnya sangat datar. Entah kemana keberanian Naya yang biasanya. Sudah dua hari ini ia merasa tidak berdaya dan berbeda dari dirinya biasanya.
Naya yang biasanya itu cukup berani dan tidak takut. Tapi sekarang, kenapa melihat Gama saja ia takut, apalagi mengingat Gama telah memukul Zio.
Tenaganya pasti kuat, hidung Zio sampai berdarah.
"Sini, Sayang." Gama berucap lembut, gadis itu menatapnya bertanya.
"Peluk," ujar Gama, merentangkan tangan kirinya. Mulanya Naya tidak percaya, tapi ia lantas masuk menyenderkan kepalanya di dada bidang itu.
Gama memeluknya erat,"Kakak buat kamu takut, ya?"
Jantung Naya berdegup kencang, begitu pula dengan telinganya yang dapat mendengar jelas debaran jantung Gama sama seperti dirinya.
Naya mengangguk. "Maafin, aku, ya?" seraya mengecup puncak kepalanya.
"Kak Gama salah paham, aku sama Zio itu cuma teman kelas. Jangan nyakitin orang Kak, Naya takut."
"Tapi dia berani sentuh pipi kamu, tidak ada yang boleh sentuh kamu kecuali aku dan keluarga kamu!" kata Gama jelas.
"Dia modus namanya!" imbuh Gama masih sedikit panas.
"Siapa tau di pipi aku ada sesuatu terus dia mau coba hilangin! Bisa juga kan?!"
"Apapun itu alasannya nggak bisa di terima! Aku nggak suka kamu di sentuh orang lain!" Sangat dominan dan penuh kuasa.
***
"Non, ada paket tadi antar barang ini katanya!" Kata Bibi--seorang ART di rumah ini.
Naya mengamati benda kotak berlapis kertas kado itu. "Dari siapa?"
"Enggak tau, Non. Orangnya nggak bilang, cuma suruh kasih ke Non aja!"
"Ya udah Bi, makasih ya!" ucapnya membawa kotak itu masuk ke dalam kamarnya. Ia baru saja pulang setelah sedikit jalan-jalan tadi bersama Gama.
Naya menaruh totebag-nya di meja sofanya. Selepas itu duduk, karena penasaran ia pun mulai membukanya.
Memang tidak ada nama siapa pengirimnya. Ini tidak mungkin dari Gama, pria itu tidak pernah memberinya hadiah tanpa pengirim atau pun berlapiskan kertas seperti ini.
"Aaaa!"
Pletak
Naya melempar kotak berisi tikus yang berlumur darah. Ia sangat terkejut dan tidak terpikir jika akan mendapat hadiah seperti itu.
Tubuh dan tangannya gemetar, Naya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Siapa yang melakukan ini padanya?
Naya langsung berlari keluar kamarnya.
"Bibi! Bibi!" ART di rumah ini hanya satu orang. Otomatis perempuan paruh baya yang baru saja selesai mengepel pun sedikit terkejut melihat Naya datang dengan wajah panik.
"Ada apa Non?" tanya Bibi itu heran.
"Bibi beneran nggak tau siapa yang kirim paket tadi?"
"Enggak tau, Non. Yang kirim juga pakaiannya serba hitam, pakai masker! Emang ada sesuatu, Non?"
Naya meraup wajahnya sambil menghela nafas. "Enggak papa kok, Bi! Yaudah, tolong bersihin kamar aku Bi!"
"Loh, baru 3 jam lalu Bibi bersihin, Non"

KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Teen FictionGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...