🦋: Kenapa sih kalian nggak aktif komen? Jujur sedih tau, gak semangat update!Makasih ya udah tepat target ❤️
"Omaaaa..." Nia datang dan memeluk wanita yang sudah tua beruban. Mereka tampak saling melepaskan rindu.
"Oma bawa sesuatu, buat kamu." katanya menyerahkan paper bag.
"Wah, makasih Oma." ucapnya.
Mata wanita tua itu melirik ke kanan dan kiri, tidak menemukan seseorang. "Kemana anak perempuan mu yang satu?" tanya Oma pada Indi."Mandi, Bu. Habis bantuin aku masak di dapur." ujarnya. Wanita tua itu membulatkan bibirnya.
Tak berselang waktu lama, Naya datang dengan wajah segar. Ia mendatangi Omanya yang sudah duduk di meja makan bersama anggota lainnya.
Gadis itu mengulurkan tangannya, salim. "Pagi, Oma." sapanya setelah berhasil menjabat tangan yang sudah keriput itu.
"Pagi," Naya duduk di sebelah Nia dan Oma.
Mereka membuka awal pagi dengan sarapan bersama. Ini menunjukkan pukul setengah delapan. Seharusnya sih sarapannya lebih pagi lagi, tapi karena masak kali ini lebih banyak dan kedatangan tamu jadi menyesuaikan.
"Tunangan kamu sudah sering datang ke mari?" tanya Oma menatap lauk dan nasi di piringnya sambil menyendokkan ke mulut.
Kunyahan di mulut Naya memelan. Gadis itu melirik Indi sekilas. "Iya, Oma." sahutnya.
"Katanya kamu nggak suka, kenapa malah kamu terima?"
Naya terdiam sejenak. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Omanya. Pertunangan ini terjadi tanpa persetujuannya lebih dulu. Naya juga sudah bersikeras menolaknya. Tetapi keputusan kedua pihak keluarga yang menjadi kekuatan pertunangan ini tetap terlaksana.
"Gama orangnya baik, Bu. Sangat menyayangi Naya, itu kenapa alasan kita berdua menyetujui pertunangan ini. Keluarga Gama juga berlatar belakang baik--"
"Dan kaya raya tentunya!" potong Saras--wanita tua itu bernama Saras. Ibu dari Indi--mertua dari Tomy. Saras mendengus samar.
Naya menyuapkan nasi dengan gerakan begitu pelan seolah nafsu makannya menjadi hancur.
Tomy dan Indi saling menatap. "Bukan begitu, Bu. Tapi Gama sendiri juga meminta Naya secara langsung sama Mas Tomy. Orang tuanya juga kita berteman baik dari dulu."
"Alah! Kalian ini, harusnya Nia yang jadi tunangannya! Lebih cocok juga cucuku satu ini!" tandas Saras wanita tua itu melirik tidak suka pada Naya. Gadis berkulit putih dan cantik itu menelan ludah yang terasa mencekik tenggorokannya.
"Ibu!" tegur Indi.
"Oma!" ucap Nia menatap tidak percaya pada apa yang baru saja Oma-nya katakan.
"Sudah-sudah! Lebih baik sarapan itu diam!" tegas Tomy.
***
"Kamu seminggu sekali atau paling enggak satu bulan sekali itu tengokin, Oma! Sekarang kan kita udah satu kota yang sama!" ujar Saras mengelus surai panjang Nia.
"Iya Oma, Nia usahain! Kan Nia itu kuliah, ada ekskul tambahan juga Nia ambil. Jadi waktunya nggak sebebas itu!" jelas Nia sembari menatap layar kaca televisi.
"Hah! Ya sudah, yang penting kamu jaga kesehatan! Kalau ada waktu main ke rumah Oma!"
"Iya, Oma ku sayang!" ucap Nia membuat Saras tersenyum senang. Tak berselang lama Saras melihat Naya yang baru saja turun dari undakan tangga dengan pakaian yang lebih rapih.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gamara's
Roman pour AdolescentsGamara Bagaskara adalah keturunan tunggal dari marga Bagaskara. Pria tampan itu penuh pesona dan karisma. Dan Kanaya odisa ialah gadis yang paling Gama cinta. Pria itu sangat menggilainya. Siapapun pasti akan merasakan akibatnya jika merebut Kanay...