13. Gamara

3.8K 108 3
                                        

Adakah kalian yang merasakan sedih tanpa sebab? Padahal kita tidak memiliki masalah apapun. Seperti yang sedang Naya rasakan sekarang ini.

Kenapa rasanya hati sakit. Sampai pada tiba-tiba ia merasakan seseorang baru saja memeluknya begitu erat dari belakang. Dari aromanya, Naya mengetahui siapa pelakunya.

"Kenapa malam-malam sendirian di balkon?" tanya Gama, iya--pria itu.

Naya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. "Kamu ada perlu apa, datang kesini?"

"Mau ketemu kamu harus ada perlunya?"

"Em, nggak juga sih." Naya menipiskan bibirnya. Gama mendengus samar, ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher gadisnya. Lalu sedikit menghirup aroma wangi pada tubuh Naya.

Gadis itu sedikit menolak,"Kaaak!" katanya bernada memperingatkan.

"Maaf, aku kangen banget seharian ini kita nggak ketemu." ujarnya, ada kepentingan mendadak bersama Abian di kantor tadi pagi.

"Kak Gama ngapain sama Om Bian?"

"Kerjaan kantor, Sayang."

"Oh, wajar sih, Kakak kan pintar." kata Naya menatap bulan sabit di langit.

"Ngapain aja seharian tadi, Sayang?" tanya Gama pada Naya. Ia ikut melihat apa yang gadisnya lihat.

"Ke kampus, ke toko baju terus pulang." Ia mematahkan lehernya ke samping,"Kak Gama kan udah tahu!" serunya.

"Enggak papa," Gama melerai pelukannya, dan menangkup wajah tunangannya dengan tatapan lembut.

"Kakak ada sesuatu, buat kamu." ucapnya menarik tangan mungil itu berjalan bersamanya. Dan Gama menyerahkan paper bag berwarna coklat ukurannya besar.

"Apa ini?" tanya Naya setelah paper bag itu ada di tangannya. Ketika membukanya ternyata sebuah boneka kelinci berukuran cukup besar. Wajah Naya yang tadinya sedikit bersedih, berubah berbinar.

"Wahh!" ucapnya sembari memegang bonekanya.

"Kamu masih suka, kelinci kan?" tanya Gama memastikan. Naya mengangguk jelas.

"Makasih, Kak Gama." Ia memberikan Gama pelukan sebagai rasa terimakasih.

"Sama-sama, Sayang!"

Setelah memberikan boneka kelinci cukup besar. Gama berinisiatif mengajaknya mencari jajan atau makanan diluar. Tomy dan Indi mengijinkan mereka pergi sebentar.

"Kamu mau, beli apa?" tanya Gama menatap kaca spion motornya guna melihat gadisnya.

"Eem, apa ya? Aku bingung kalau di tanya mau apa. Terserah Kak Gama aja!" jawabnya.

Yang Gama tahu, Naya menyukai martabak telor, perkeripikan kentang.

"Martabak mau, Sayang?" tanyanya kembali.

"Boleh," Gama pun akan ke outlet martabak dorong langganan Naya. Lebih tepatnya martabak telor yang Naya suka di tempat itu.

Tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya sampai, Gama lah yang memesannya. Dia sudah hafal betul kesukaan gadisnya.

"Martabak istimewa dua bungkus, pakai telor bebek, Pak!" kata Gama pada penjual tersebut. Ia menarik sebuah kursi yang kebetulan hanya ada satu disitu. Karena cukup ramai pembeli. Naya pun duduk, dan Gama berdiri dibelakangnya sembari merangkul bahunya.

"Beneran nggak mau, duduk?" tanya Naya memastikan.

"Enggak, Sayang." katanya lembut. Pipi Naya sedikit merona karena jawaban dari Gama. Di kanan-kirinya ada pembeli apalagi mereka perempuan masih muda. Beberapa dari mereka juga melirik dirinya dan Gama.

Gamara's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang